MALANG POST – Dinas Kesehatan Kota Batu mencatat lonjakan penderita diabetes melitus sebanyak 3.215 jiwa pada tahun 2026 di Batu, Kamis (22/10/2026), atau membengkak 48,63 persen dibandingkan periode 2025 guna mengeskalasi program deteksi dini dan edukasi pola hidup sehat.
Setelah dua tahun berturut-turut sempat melandai, tren penderita diabetes melitus (DM) di Kota Batu kembali melonjak tajam pada 2026.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu mendata sebanyak 3.215 penderita pada tahun ini, atau membengkak 48,63 persen dibandingkan periode 2025 yang berada di angka 2.163 jiwa.
Dari akumulasi tersebut, sebanyak 2.913 penderita telah mengantongi penanganan medis secara intensif hingga triwulan III 2026.
Capaian intervensi medis tersebut setara 90,60 persen dari total penderita terdaftar pada tahun berjalan.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Batu, dr. Icang Sarrazin, menjelaskan bahwa penanganan komplikasi diabetes dijalankan secara berkelanjutan.
Rangkaian tindakan mencakup deteksi dini, penegakan diagnosis, terapi pengobatan, edukasi modifikasi perilaku, pendampingan psikologis, hingga pemantauan kondisi fisik pasien.
“Secara akumulatif, target penanganan tahunan kita selalu menyentuh 100 persen. Untuk tahun ini, hingga triwulan ketiga sudah terealisasi 90,60 persen atau menjangkau 2.913 orang,” terang Icang, Kamis (22/10/2026).

ANTUSIAS: Masyarakat Kota Batu nampak sangat antusias mengikuti cek kesehatan gratis (CKG) sebagai deteksi dini penanganan penyakit. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Rekam data Dinkes memperlihatkan bahwa grafik penderita diabetes di Kota Batu sempat berada di posisi 4.203 orang pada 2023.
Angka tersebut melandai menjadi 2.355 penderita pada 2024, lalu kembali turun ke level 2.163 jiwa pada 2025. Namun, masuk kurun 2026, angkanya melonjak signifikan hingga menyentuh 3.215 orang.
Eskalasi data ini menjadi perhatian prioritas dalam strategi Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM).
Kendati demikian, kalkulasi tersebut perlu dicermati berdasarkan jangkauan cakupan pendataan, baik yang merekam akumulasi pasien lama maupun temuan kasus baru (newly diagnosed).
Penanganan diabetes berjalan selaras dengan intervensi kasus hipertensi. Rangkaian mitigasi mencakup pemeriksaan kesehatan rutin, edukasi gizi seimbang, kepatuhan konsumsi obat, serta pemantauan gaya hidup.
Salah satu inovasi taktis yang digencarkan adalah program Aku Cerdik. Pada 2026, jangkauan program ini diperluas dari Kelurahan Sisir menuju Kelurahan Temas melalui pendekatan posyandu dan RT Sehat.
Sebelumnya, kegiatan edukasi dan skrining kesehatan massal diselenggarakan di Kelurahan Temas pada 4 Juni 2025. Sebanyak 170 warga berpartisipasi dalam pemeriksaan gula darah gratis guna mendeteksi faktor risiko PTM.
Dokter Fungsional Puskesmas Batu, dr. Emy Rosyidah, menambahkan bahwa temuan kasus baru diabetes juga teridentifikasi dari program Cek Kesehatan Gratis (CKG), salah satunya di lingkungan Kantor Desa Oro-Oro Ombo.
Menurut Emy, manifestasi diabetes tidak terpicu oleh faktor tunggal semata, melainkan kombinasi kompleks antara predisposisi genetik (keturunan) dan gaya hidup harian.
“Penyebab diabetes tidak bisa disederhanakan dari satu faktor insidental, seperti sekadar kesalahan menu makan pada hari tertentu,” papar Emy.
Oleh sebab itu, langkah preventif wajib dieksekusi secara konsisten. Masyarakat diimbau untuk membatasi asupan gula berlebih, menjaga indeks massa tubuh ideal, rutin berolahraga minimal 30 menit sehari, serta melakukan skrining gula darah secara berkala.
Upaya mitigasi ini krusial mengingat diabetes dijuluki sebagai the silent killer yang berkembang tanpa gejala awal yang khas. Melalui skrining dini, risiko komplikasi sistemik dapat ditekan sedini mungkin.
Lonjakan penderita pada 2026 sekaligus menjadi sinyal peringatan bagi penguatan sinergi layanan kesehatan daerah. Selain respons medis primer, kesadaran mandiri masyarakat dalam menerapkan pola hidup sehat menjadi kunci utama menekan prevalensi diabetes melitus di Kota Batu. (Ananto Wibowo)




