MALANG POST – Universitas Negeri Malang menggelar bedah buku Jelajah Kuburan Londo karya Hariani, S.AP., di Ruang Baca Du Xiu Shu Fang UPT Perpustakaan UM, Malang, Senin (19/10/2026), guna mengulas dokumentasi sejarah Makam Sukun sekaligus mendorong pelestarian situs cagar budaya secara berkelanjutan.
UPT Perpustakaan Universitas Negeri Malang (UM) menggelar bedah dan diskusi buku Jelajah Kuburan Londo Jilid 1 dan 2 karya Hariani, S.AP., di Ruang Baca Du Xiu Shu Fang Study Corner, Kampus UM, Senin (19/10/2026). Forum akademik ini bertujuan memperluas cakrawala sejarah mengenai Makam Sukun (Europeesche Begraafplaats) di Kota Malang sekaligus mendorong pelestarian kawasan cagar budaya sebagai sumber belajar.
Kegiatan edukatif ini diikuti oleh sivitas akademika UM sebagai wadah pertukaran pengetahuan mengenai pentingnya dokumentasi arsip sejarah dan pengelolaan kawasan cagar budaya secara berkelanjutan.
Buku Jelajah Kuburan Londo Jilid 1 membedah historiografi Makam Sukun, mulai dari tata letak kawasan, arsitektur, simbolisasi nisan, hingga rekam jejak biografi tokoh-tokoh penting era kolonial.
Sementara itu, Jilid 2 mengusung tema “Keanekaragaman Demografi & Keberlanjutan Makam Kolonial” yang diterbitkan oleh MNC Publishing. Kedua karya ini merupakan seri dari trilogi pendokumentasian sejarah perjalanan Makam Sukun dari era Hindia Belanda hingga perkembangannya sebagai ruang publik kota modern.
Dalam pemaparannya, sejarawan UM, Dr. R. Reza Hudiyanto, S.S., M.Hum., menyoroti bahwa Makam Sukun menyimpan khazanah informasi sejarah sosial yang melampaui fungsinya sebagai lokasi pemakaman.
“Ornamen nisan, denah makam, identitas para tokoh, serta dokumen arsip pendukung dapat dimanfaatkan untuk merekonstruksi struktur kehidupan sosial masyarakat Malang pada era kolonial. Ini membuka peluang luas bagi penelitian etnografi dan sejarah perkotaan,” urai Reza, Senin (19/10/2026).
Reza menekankan krusialnya penggunaan sumber primer yang sahih. Selain prasasti fisik pada nisan, koran lama dan dokumen arsip resmi sangat membantu peneliti dalam menyusun rekam jejak tokoh secara presisi. Kendati demikian, keterbatasan data, ausnya prasasti nisan, dan alih fungsi kawasan menjadi tantangan tersendiri dalam penelitian sejarah lapangan.
Penulis buku yang juga staf Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang, Hariani, S.AP., menjelaskan bahwa proses pendokumentasian Makam Sukun membutuhkan ketelitian ekstra karena sebagian teks penanda nisan telah terkikis zaman.
“Untuk menyajikan data yang sahih, penelusuran identitas tokoh memerlukan komparasi silang (cross-check) antara dokumen arsip tertulis dan studi penuturan lisan (oral history). Kerja literasi ini membutuhkan sinergi lintas sektor yang melibatkan akademisi dan mahasiswa,” terang Hariani.
Selain berdimensi historis, Makam Sukun memiliki potensi besar untuk dikaji dari perspektif keberlanjutan lingkungan dan sosial-ekonomi kota. Pengelolaan kawasan makam kolonial ini perlu memadukan fungsi ekologis, pelestarian unsur cagar budaya, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal di sekitarnya.
Diskusi ini sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui pengembangan materi pembelajaran sejarah lokal, SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan) lewat perlindungan warisan budaya perkotaan, serta SDG 15 (Ekosistem Daratan) melalui pemeliharaan ruang terbuka hijau kota.
Melalui agenda bedah buku ini, UM memperkuat ruang dialog akademik yang menghubungkan riset sejarah terapan dengan aksi pelestarian warisan budaya. Makam Sukun dibuktikan bukan sekadar kompleks pemakaman tua, melainkan laboratorium sejarah hidup yang merekam memori kolektif perkembangan Kota Malang. (M. Abd. Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




