LEGISLATOR: Anggota DPR RI dari Fraksi PKB, Hasanuddin Wahid. (Foto: Suseno/Malang Post)
MALANG POST – Menjadi santri bukan sekadar identitas atau latar belakang pendidikan. Nilai kesantrian harus tercermin dalam tindakan, apa pun profesi dan jabatan yang dijalani. Pesan itu disampaikan Anggota DPR RI dari Fraksi PKB Daerah Pemilihan Jawa Timur V, Hasanuddin Wahid, saat menghadiri peringatan Hari Santri 2026 yang diselenggarakan Fatayat NU di Pendopo Agung Kabupaten Malang, Sabtu (17/10/2026).
Menurut Hasanuddin, Hari Santri tidak cukup diperingati melalui kegiatan seremonial. Momentum ini harus menjadi pengingat bagi para santri untuk memperkuat kontribusi dalam pembangunan nasional maupun daerah, sekaligus menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Pada Hari Santri tahun ini, kita ingin santri menjaga negeri. Artinya, santri harus semakin meningkatkan peranannya dalam pembangunan nasional maupun pembangunan daerah,” tegas Hasanuddin.
Ia mengatakan, santri memiliki ruang pengabdian yang luas. Kontribusi mereka diperlukan untuk mendukung berbagai program pembangunan, mulai dari tingkat pusat, provinsi, hingga kabupaten dan kota.
Bagi Hasanuddin, keberadaan santri akan semakin bermakna ketika mampu memberikan solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat. Kepercayaan publik perlu dijaga melalui karya, integritas, dan kebermanfaatan yang bisa dirasakan secara langsung.
“Santri dianggap eksis apabila memiliki peranan yang signifikan. Karena itu, agar santri tetap mendapatkan kepercayaan dan harapan yang baik dari masyarakat, santri harus benar-benar menjadi sosok yang berguna dan bermanfaat bagi komunitas serta masyarakatnya,” ujarnya.
Nilai Pesantren Harus Terbawa ke Berbagai Profesi
Hasanuddin menekankan, nilai kesantrian tidak berhenti ketika seseorang meninggalkan lingkungan pesantren. Nilai tersebut justru perlu dibuktikan ketika santri memasuki berbagai bidang pekerjaan dan ruang pengabdian.
Santri yang menjadi pejabat publik, anggota legislatif, pengurus organisasi, maupun wartawan, misalnya, tetap memiliki tanggung jawab untuk menjaga sikap dan menghadirkan kebaikan.
“Ciri santri itu, ditempatkan di mana pun dan dalam posisi apa pun, dia selalu bermanfaat dan berbuat kebaikan,” katanya.
Ia mencontohkan sejumlah profesi dan jabatan yang kini dijalani kalangan santri, termasuk Bupati Malang HM Sanusi, anggota DPR, pengurus PCNU, hingga insan pers.
“Baik santri yang menjadi bupati seperti Pak Sanusi, santri yang menjadi anggota DPR, santri yang menjadi ketua PCNU, maupun santri yang menjadi wartawan seperti teman-teman ini. Di mana pun kita berkiprah, kita harus tetap identik dengan kebaikan dan kebermanfaatan,” tutur Hasanuddin.
Menurutnya, nilai-nilai yang dipelajari di pesantren perlu menjadi bekal untuk menjalankan tanggung jawab secara amanah. Dengan demikian, kontribusi santri tidak hanya terlihat dalam kegiatan keagamaan, tetapi juga dalam pelayanan publik, kehidupan sosial, dan berbagai bidang pembangunan.
Meneruskan Semangat Sejarah Hari Santri
Peringatan Hari Santri setiap 22 Oktober memiliki latar sejarah penting dalam perjuangan bangsa. Pemerintah menetapkannya melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 yang ditandatangani Presiden Joko Widodo.
Tanggal tersebut merujuk pada seruan Resolusi Jihad yang disampaikan KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945. Seruan itu menjadi salah satu tonggak penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan mendorong keterlibatan kaum santri dalam mempertahankan kedaulatan negara.
Penetapan Hari Santri menjadi bentuk pengakuan terhadap kontribusi pesantren dan santri dalam perjalanan sejarah Indonesia. Bagi Hasanuddin, semangat perjuangan tersebut perlu diteruskan melalui pengabdian yang relevan dengan tantangan masa kini.
“Jadi, di mana pun kita berkiprah, kita harus tetap identik dengan kebaikan dan kebermanfaatan,” tegasnya.
Ia berharap santri yang berkiprah di berbagai sektor mampu menjadikan nilai-nilai pesantren sebagai kekuatan untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Dengan kontribusi yang nyata, peringatan Hari Santri diharapkan tidak berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi menjadi momentum memperkuat tanggung jawab sosial.
“Hari Santri akan benar-benar bermakna apabila seluruh santri yang berkiprah di berbagai bidang kehidupan mampu memberikan manfaat dan menghadirkan kebaikan bagi masyarakat,” pungkas Hasanuddin. (Suseno/Ra Indrata)




