MALANG POST – Universitas Negeri Malang mengukuhkan empat Guru Besar baru dalam Sidang Terbuka Senat Akademik di Aula Gedung Kuliah Bersama A19 Lantai 9 Kampus UM, Kamis (8/10/2026), sebagai komitmen penguatan riset ilmiah berdampak nyata bagi masyarakat.
Universitas Negeri Malang (UM) kembali mengukuhkan empat profesor baru dalam Sidang Terbuka Senat Akademik yang digelar di aula kampus setempat, Kamis (8/10/2026). Pengukuhan ini menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan UM dalam mengembangkan ilmu pengetahuan yang berdampak langsung bagi masyarakat dan pembangunan berkelanjutan.
Keempat Guru Besar yang resmi dikukuhkan tersebut meliputi:
- Prof. Dr. Raden Bambang Sumarsono, S.Pd., M.Pd. (Guru Besar bidang Manajemen Partisipasi Masyarakat dalam Pendidikan).
- Prof. Dr. Ir. Triyanna Widiyaningtyas, M.T. (Guru Besar bidang Penambangan Data dan Sistem Rekomendasi).
- Prof. Dr. Imam Agus Basuki, M.Pd. (Guru Besar bidang Kajian Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya).
- Prof. Dr. Pujianto, M.Sn. (Guru Besar bidang Desain Media Persuasif dalam Desain Komunikasi Visual).
Prosesi pengukuhan berpusat di Aula Gedung Kuliah Bersama (GKB) A19 Lantai 9 UM, dihadiri oleh Rektor UM, Prof. Dr. Hariyono, M.Pd., Ketua Senat Akademik Universitas (SAU) UM, Prof. Dr. A.H. Rofi’uddin, M.Pd., serta jajaran pimpinan universitas dan Dewan Profesor.
Prof. A.H. Rofi’uddin menegaskan bahwa pengukuhan Guru Besar bukan sekadar seremoni akademik, melainkan penanda penting perjalanan panjang dedikasi intelektual dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
Satu nada dengan hal tersebut, Rektor UM, Prof. Dr. Hariyono, M.Pd., menyebut jabatan Guru Besar sebagai amanah kepakaran dan moral untuk melahirkan karya riset terapan yang menjawab kebutuhan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Tata Kelola Sekolah Berbasis Kepercayaan
Dalam pidato kepakarannya, Prof. Raden Bambang Sumarsono memperkenalkan kerangka kerja Integrated Information-Trust-Participation Framework (ITP-Model) sebagai sarana transformasi tata kelola pendidikan.
Menurut Bambang, tata kelola sekolah yang unggul membutuhkan keterpaduan antara akuntabilitas publik, kualitas sistem informasi, kepercayaan masyarakat, serta partisipasi substantif dari para pemangku kepentingan.
Akuntabilitas berperan sebagai fondasi kelembagaan, transparansi informasi membangun pemahaman, kepercayaan publik menjadi modal relasional, sedangkan partisipasi substantif berdampak nyata pada peningkatan mutu pembelajaran secara sistemik.
Data Raya dan Sistem Rekomendasi
Prof. Triyanna Widiyaningtyas menyoroti fenomena data raya (big data) sebagai tantangan sekaligus peluang strategis di era teknologi informasi modern.
Teknik penambangan data (data mining) diperlukan untuk menemukan pola dan pengetahuan berharga dari sekumpulan data skala besar. Sementara itu, sistem rekomendasi (recommender system) mengolah informasi tersebut menjadi saran presisi yang sesuai dengan kebutuhan spesifik pengguna.
Fokus riset Prof. Triyanna mencakup pengembangan model UPCSim, CB-UPCSim, serta pelbagai algoritma sistem rekomendasi modern. Teknologi ini dirancang untuk meningkatkan akurasi data serta mengoptimalkan proses pengambilan keputusan.
“Data raya adalah tantangannya, penambangan data adalah alatnya, dan sistem rekomendasi adalah solusinya,” tegas Prof. Triyanna.
Bahasa Indonesia untuk Komunikasi dan Berpikir Kritis
Prof. Imam Agus Basuki menekankan bahwa pembelajaran bahasa Indonesia tidak boleh berhenti pada penguasaan tata bahasa (linguistik) semata, tetapi harus menyentuh ranah kecakapan komunikasi, literasi informasi, dan kemampuan berpikir kritis.
Peserta didik dituntut mampu mengonstruksi teks, menyampaikan gagasan secara terstruktur, memanfaatkan bahasa secara efektif, serta memilah informasi secara kritis. Penggunaan Pembelajaran Berbasis Teks, Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning/PBL), serta Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning/PjBL) harus diorientasikan pada penguatan Keterampilan Berbahasa.
“Pembelajaran bahasa Indonesia harus dikembalikan pada khittahnya sebagai media utama dalam berkomunikasi dan mengasah daya pikir,” terangnya.
Ilustrasi sebagai Media Persuasif Generasi Z
Prof. Pujianto mengangkat peran ilustrasi sebagai media persuasif dalam bidang Desain Komunikasi Visual (DKV). Ilustrasi tidak sekadar menawarkan nilai estetika visual, tetapi juga mampu menerjemahkan pesan kompleks ke dalam bahasa gambar secara efektif.
Kajian mendalam terhadap karya ilustrasi Generasi Z usia 13–15 tahun menunjukkan karakter visual yang erat dengan dunia anak-anak, meliputi pemilihan tema, dinamika aktivitas, gradasi warna, hingga penguasaan perangkat digital. Karya-karya tersebut memuat pesan eksplisit tentang kreativitas, prestasi, semangat nasionalisme, dan kebanggaan sebagai anak Indonesia.
Melalui visualisasi simbol Garuda, keberagaman budaya Nusantara, ekspresi keceriaan, serta trofi penghargaan, ilustrasi berhasil merepresentasikan identitas kebangsaan, optimisme, serta cita-cita generasi muda.
Pengalaman mendampingi Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) hingga berkembang menjadi FLS3N turut membuktikan kapasitas generasi muda dalam melahirkan karya seni ilustrasi yang estetis, komunikatif, serta sarat pesan sosial. (M. Abd. Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




