Dekan FILKOM UB, Ir. Tri Astoto Kurniawan, S.T., M.T., Ph.D., IPM. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya, menggelar Lokakarya Artificial Intelligence Talent Factory, bersama Kementerian Komunikasi dan Digital di Auditorium Algoritma FILKOM UB, Malang, Senin (5/10/2026), guna menempa mahasiswa merancang solusi berbasis kecerdasan artifisial bagi kebutuhan fasilitas Sekolah Rakyat.
Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB) terus memperkuat ekosistem talenta digital nasional melalui gelaran Workshop 1 Artificial Intelligence Talent Factory (AITF) 2026, hasil kolaborasi bersama Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).
Kegiatan pelatihan intensif tersebut berlangsung pada 5–6 Oktober 2026 di Auditorium Algoritma, Gedung G Lantai 2 FILKOM UB, Malang. Sebanyak 20 mahasiswa terpilih menerjunkan kepakarannya dalam mengembangkan solusi berbasis kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) guna menjawab kebutuhan operasional Sekolah Rakyat jenjang SD dan SMP.
Program strategis ini merupakan bentuk konsorsium antara UB, Komdigi, dan Kementerian Sosial (Kemensos) yang dijadwalkan berlangsung selama satu semester penuh.
Dekan FILKOM UB, Ir. Tri Astoto Kurniawan, S.T., M.T., Ph.D., IPM., yang hadir mewakili Rektor UB, menyampaikan bahwa pengalaman mengeksekusi studi kasus nyata (real case study) menjadi nilai tambah utama bagi portofolio mahasiswa.
“Pengalaman praktis yang diperoleh dari program AITF ini memberikan nilai tambah (added value) yang sangat berharga bagi para pengguna lulusan (user),” ujar Tri Astoto, Rabu (7/10/2026).

Peserta AITF mendapatkan pemaparan mengenai kebutuhan pengawasan di Sekolah Rakyat sebagai salah satu dasar pengembangan solusi berbasis AI. (Foto: Istimewa)
Dalam program berbasis industri ini, mahasiswa tidak hanya mendalami teori algoritma AI. Mereka ditantang memahami psikologi kebutuhan pengguna, merancang rekayasa sistem, hingga menghasilkan produk purwarupa (prototype) fungsional.
Salah satu studi kasus (use case) unggulan yang dikembangkan berkaitan dengan sistem pemantauan otomatis aktivitas siswa di lingkungan asrama. Teknologi AI ini diproyeksikan mampu mendeteksi anomali perilaku tertentu dan mengirimkan notifikasi peringatan secara real-time kepada pengasuh asrama.
“Jika menggunakan CCTV konvensional, petugas harus memantau layar secara terus-menerus, dan hal itu sangat menyita waktu para wali asrama. Dengan integrasi AI, sistem dapat memberikan notifikasi otomatis apabila terdeteksi aktivitas khusus yang memerlukan perhatian,” jelas Tri.
Selain sistem keamanan asrama, AI berpotensi besar dimanfaatkan untuk mengeskalasi mutu pembelajaran, seperti pengembangan program percakapan interaktif (chatbot) bagi siswa serta instrumen asisten digital untuk membantu guru menyusun materi ajar, bank soal, dan kuis otomatis.
Ketua Panitia Workshop 1 AITF, Rizal Setya Perdana, S.Kom., M.Kom., Ph.D., menerangkan bahwa kurikulum program ini dirancang khusus untuk mencetak talenta AI yang berpengalaman menyelesaikan permasalahan empiris di lapangan.
“Tujuan utamanya adalah mencetak talenta digital berstandar tinggi yang memiliki kompetensi mendalam di bidang AI,” tegasnya.
Skema AITF dilaksanakan melalui tiga tahapan lokakarya. Tahap awal difokuskan pada identifikasi masalah, eksplorasi kebutuhan pengguna, serta penyusunan rancangan arsitektur solusi. Selanjutnya, purwarupa dikembangkan berdasarkan masukan mitra dan diakhiri dengan sesi demonstrasi produk.
Kepala Pusat Pengembangan Talenta Digital BPSDM Komdigi, Dr. Gunawan Hutagalung, S.T., M.T., mengapresiasi tinggi sinergi akademis ini. Menurutnya, pendekatan berbasis kasus menjadikan pengembangan AI lebih tepat sasaran (customized).
“Teknologi AI ini sifatnya sangat spesifik. Saat ini kita sedang melakukan penyesuaian (customization) khusus untuk mendukung ekosistem Sekolah Rakyat,” ungkap Gunawan.
Untuk kasus Sekolah Rakyat, purwarupa yang berhasil dirancang oleh mahasiswa UB selanjutnya akan diuji coba di tiga daerah percontohan, yakni Bogor, Bekasi, dan Depok, dengan mempertimbangkan kesiapan infrastruktur digital lokal.
Di sisi lain, FILKOM UB terus memantapkan konsep teaching factory agar makin banyak mahasiswa yang terlibat dalam proyek-proyek strategis pemerintah maupun sektor industri.
Tri menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektoral (triple helix) merupakan kunci utama lahirnya inovasi berdampak tinggi. Perguruan tinggi, pemerintah, dan industri harus memadukan kompetensi guna menjawab tantangan nyata di tengah masyarakat.
Komdigi juga berkomitmen menjaga keberlanjutan program AITF melalui rencana pembentukan AITF Center. Ke depan, studi kasus yang digarap tidak hanya terbatas pada sektor pemerintahan, tetapi juga merambah industri logistik, rantai pasok (supply chain), penyiaran, hingga media video streaming.
Bagi FILKOM UB, AITF bukan sekadar program pelatihan teknis biasa. Mahasiswa digembleng untuk menguasai teknologi tingkat lanjut sekaligus memahami pain points pengguna guna melahirkan solusi digital yang relevan dan berdampak luas bagi masyarakat. (M. Abd. Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




