MALANG POST – Para pengrajin perempuan di Desa Beji, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, sukses mengkreasikan potensi kedelai menjadi produk bernilai tambah Batik Tempe Beji (Bateji), pada Hari Batik Nasional, Jumat (2/10/2026), hingga berhasil menembus pasar ekspor sampai ke Amerika Serikat.
Tempe tidak hanya sekadar menjadi sumber penghidupan pangan harian bagi warga Desa Beji, Kecamatan Junrejo, Kota Batu. Di tangan kreatif para ibu pengrajin, kedelai fermentasi yang selama ini diolah menjadi hidangan kuliner kini bertransformasi menjadi motif estetik di atas lembaran kain mori. Inovasi busana tersebut dinamai Batik Tempe Beji (Bateji).
Bertepatan dengan momentum peringatan Hari Batik Nasional yang diperingati setiap 2 Oktober, kreativitas warga Desa Beji tersebut menjadi cerminan nyata bagaimana seni batik terus berevolusi dengan mengangkat keunggulan komparatif dan identitas lokal.
Di Desa Beji, tempe yang menjadi produk unggulan industri rumahan (home industry) berhasil dielevasi menjadi corak batik khas yang tidak hanya diminati pasar lokal dan nasional, melainkan juga sukses menembus pasar internasional.
Motif kedelai fermentasi tersebut lahir dari desa yang dikenal sebagai salah satu sentra produksi tempe terbesar di Kota Batu. Bukan sekadar produk kerajinan tangan biasa, Bateji dikembangkan sebagai identitas kebudayaan sekaligus penggerak roda ekonomi baru bagi warga.
Desa Beji tercatat memiliki lebih dari 360 unit usaha produsen tempe rumahan. Hampir di setiap rumah di enam RW aktif memproduksi tempe harian. Potensi melimpah inilah yang kemudian menginspirasi warga untuk menuangkan motif tempe ke atas kain batik.

MEMBATIK: Warga Desa Beji, Kecamatan Junrejo Kota Batu saat membuat batik tempe, batik khas daerah tersebut. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Pengrajin Batik Tempe Beji, Tri Nur Hayati, menuturkan bahwa gagasan awal pengolahan batik motif tempe diinisiasi oleh Pemerintah Desa Beji bersama Karang Taruna setempat pada awal 2021.
Langkah tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan mengalokasikan pelatihan membatik bagi ibu-ibu perwakilan setiap RW.
“Ide awal berasal dari pihak desa dan karang taruna. Kemudian kami merangkul ibu-ibu di setiap RW untuk mengikuti pelatihan membatik secara intensif. Dari situlah Bateji lahir,” tutur wanita yang akrab disapa Inung tersebut, Jumat (2/10/2026).
Proses pembinaan Batik Tempe sempat mengalami penundaan akibat gelombang pandemi Covid-19. Kegiatan produksi baru kembali digeliatkan pada akhir 2022. Sejak saat itu, para ibu pengrajin mulai tekun mengasah variasi motif serta memperluas jejaring pemasaran.
Menurut Inung, motif tempe dipilih bukan tanpa alasan. Denyut nadi perekonomian di Beji bertumpu pada komoditas tersebut.
“Mayoritas mata pencaharian warga di Beji bergantung pada industri tempe. Oleh karena itu, kami berpikir mengapa corak tempe tidak kita angkat menjadi motif batik yang bernilai seni tinggi,” jelasnya.
Saat ini, Bateji dikembangkan menggunakan dua teknik perintisan, yakni batik tulis dan batik cap. Kedua metode produksi tersebut memiliki karakter visual dan kapasitas produksi yang berbeda. Untuk pengerjaan batik tulis, prosesnya membutuhkan ketelitian tinggi. Seorang pengrajin rata-rata mampu menghasilkan enam lembar kain dalam sebulan.
Sementara itu, batik cap diproduksi untuk memenuhi pesanan berskala besar. Secara keseluruhan, kelompok pengrajin Bateji mampu memproduksi lebih dari 10 helai kain batik setiap bulan, menyesuaikan dengan jumlah permintaan pesanan konsumen.
“Alhamdulillah, pesanan selalu mengalir. Kami menyediakan katalog contoh motif, kemudian pembeli dapat memilih atau memesan kustomisasi sesuai dengan selera (request),” ungkap Inung.
Jangkauan pasar Bateji pun kian meluas. Pemesanan Batik Tempe Beji tidak hanya datang dari area Malang Raya dan sekitarnya. Produk lokal Batu ini telah dikirim ke konsumen di Nusa Tenggara Barat (NTB), Bali, hingga Kalimantan. Bahkan, lembaran kain Bateji pernah diekspor langsung ke Amerika Serikat.
Inung menceritakan bahwa pemesan asal Amerika Serikat tersebut sebelumnya sempat bertandang langsung ke galeri Bateji di Desa Beji. Sepulangnya ke Negeri Paman Sam, wisatawan tersebut kembali menghubungi pengrajin untuk memesan kain secara khusus.
“Kala itu wisatawan Amerika tersebut berkunjung ke galeri kami di Beji. Setelah pulang, beliau memesan kembali secara daring, dan pesanan kain tersebut langsung kami kirim ke Amerika Serikat,” kenangnya.
Ragam corak yang dipesan pun cukup bervariasi. Selain motif bulir kedelai tempe sebagai ikon utama, pengrajin juga memadukannya dengan motif peta kepulauan Indonesia hingga tulisan slogan Wonderful Indonesia.
Bagi para pengrajin, apresiasi dari mancanegara menjadi pelecut semangat bahwa Batik Tempe Beji memiliki prospek bisnis yang cerah.
Pemerintah Desa Beji dan Karang Taruna terus memberikan sokongan fasilitas. Pengembangan batik tidak hanya diarahkan sebagai produk komersial, melainkan juga sarana pemberdayaan ekonomi perempuan (women empowerment).
Kini, hampir di setiap RW di Desa Beji telah berdiri basis pengrajin batik. Meski pengembangannya berjalan secara bertahap, keberadaan Bateji kian memikat perhatian publik.
Inung berharap Bateji kelak dapat ditetapkan secara resmi sebagai warisan identitas Desa Beji.
“Kami ingin batik ini menjadi identitas baru Desa Beji. Ketika publik mengingat produk tempe, mereka otomatis akan mengingat batiknya,” harapnya.
Tidak berhenti pada penjualan kain, kelompok pengrajin juga membuka paket wisata edukasi membatik.
Para wisatawan dapat mengikuti sanggar kerja (workshop) seni membatik, mulai dari teknik mencanting dasar hingga tahap pewarnaan. Peserta juga diajak mengenali filosofi di balik pembuatan motif tempe.
Melalui pendekatan edukatif tersebut, Bateji tidak sekadar dipasarkan sebagai komoditas sandang. Ada cerita tentang kearifan lokal desa, denyut ekonomi warga, serta narasi kreativitas emak-emak yang turut ditawarkan kepada dunia. (Ananto Wibowo)




