MALANG POST – Migrant Center Universitas Muhammadiyah Malang bersama BP3MI Jawa Timur menggelar pelatihan housekeeping “SMK Go Global” di UMM, Malang, Rabu (30/9/2026), untuk membekali 23 calon pekerja migran Indonesia dengan kompetensi teknis, bahasa Inggris, serta standar sikap profesional kerja internasional.
Sebanyak 23 calon pekerja migran Indonesia (CPMI) mulai mempersiapkan diri menembus pasar kerja global melalui pelatihan intensif tata graha (housekeeping) di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Program bertajuk SMK Go Global ini diselenggarakan oleh Migrant Center UMM bekerja sama dengan Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Jawa Timur.
Tidak hanya mengasah keterampilan teknis, para peserta juga dibekali dengan kecakapan berbahasa Inggris, kedisiplinan, serta etika profesional yang menjadi standar wajib di lingkungan kerja internasional. Pembukaan kegiatan berlangsung di Aula Gedung Kuliah Bersama (GKB) IV Lantai 4 UMM, Rabu (30/9/2026).
Kepala BP3MI Jawa Timur, Kombes Pol. Tyas Puji Rahadi, S.I.K., menyampaikan bahwa program SMK Go Global merupakan langkah strategis untuk mencetak pekerja migran yang terampil dan berdaya saing sesuai dengan kebutuhan pasar kerja global.
Menurut Tyas, peluang kerja di sektor jasa perhotelan dan tata kelola sarana (hospitality) perlu diimbangi dengan penguasaan kemampuan teknis, komunikasi interaktif, pelayanan prima, kedisiplinan tinggi, serta rasa tanggung jawab.
Pelatihan berkala ini dijadwalkan berlangsung sejak 30 September hingga 27 Oktober 2026, yang kemudian dilanjutkan dengan uji kompetensi dan sertifikasi resmi. Rangkaian program dirancang agar peserta tidak sekadar memperoleh teori dan Praktik Kerja Lapangan (PKL), melainkan juga mengantongi pengakuan sertifikasi kompetensi sebagai modal masuk ke industri global.

“Jangan hanya berorientasi pada selembar sertifikat, tetapi jadikan seluruh proses pelatihan, praktik mandiri, hingga uji kompetensi ini sebagai kawah candradimuka untuk membentuk diri menjadi tenaga kerja yang kompeten, profesional, dan siap bersaing di tingkat internasional,” tegas Tyas, Rabu (30/9/2026).
Tyas mengingatkan bahwa bekerja di mancanegara membawa amanah yang besar. Para pekerja migran tidak hanya membawa nama baik pribadi, melainkan juga menjaga reputasi keluarga dan bangsa Indonesia di mata dunia.
“Menjadi pekerja migran Indonesia bukan sekadar mencari mata pencaharian di luar negeri, melainkan turut membawa nama baik dan martabat bangsa Indonesia di panggung internasional,” imbuhnya.
Kepala Migrant Center UMM, Dr. Ida Nuraini, S.E., M.Si., menjelaskan bahwa seluruh peserta telah dinyatakan lolos seleksi berkas administrasi dan wawancara. Selama pelatihan, peserta mendalami materi housekeeping secara bertahap, mulai dari pengenalan alat operasional, standar prosedur pelayanan (SOP), hingga Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3).
Untuk memperkuat keterampilan praktis, UMM memberikan akses berlatih langsung di unit hotel bisnis milik kampus (Rayz UMM Hotel) dengan supervisi instruktur berpengalaman. Selain itu, peserta mendapatkan materi khusus English for Housekeeping untuk menunjang komunikasi saat melayani tamu mancanegara.
“Oleh karena itu, modul English for Housekeeping kami jadikan kurikulum wajib dalam pembelajaran ini,” urai Ida.
Menurut Ida, keterampilan teknis (hard skills) wajib berjalan seiring dengan pembentukan sikap mental (soft skills). Oleh sebab itu, peserta dibiasakan dengan budaya disiplin waktu, etos kerja keras, serta jiwa kewirausahaan.
Sementara itu, Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., menempatkan program ini sebagai komitmen nyata UMM melalui Excellent Solution Center (ESC). Kehadiran Migrant Center menjadi solusi konkret kampus atas tantangan ketenagakerjaan nasional sekaligus memperluas akses pengembangan kompetensi masyarakat.
Salis menyebutkan bahwa UMM juga menyiapkan skema pelatihan vokasi lainnya, seperti bidang pengelasan (welding) dan manajemen perhotelan. Menurutnya, kompetensi seseorang tidak hanya dibentuk oleh pengetahuan dan keterampilan, melainkan oleh sikap kerja (attitude).
“Kunci utamanya terletak pada komponen ketiga, yakni attitude atau sikap. Sebab pada akhirnya, pengetahuan dan keterampilan teknis yang kita miliki sangat ditentukan oleh bagaimana kita bersikap dan beradaptasi di lingkungan kerja berstandar tinggi,” pungkasnya. (M. Abd. Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




