MALANG POST – Tim Peneliti Universitas Brawijaya, FIA UB, dan Indopol merilis hasil survei behavior mapping Gen Z di FIA UB, Malang, Kamis (24/9/2026), yang menempatkan masalah kemacetan lalu lintas dan fasilitas transportasi umum sebagai keluhan paling dominan yang wajib ditangani Pemkot Malang.
Tim Peneliti Program Globalizing Universitas Brawijaya (UB) bekerja sama dengan Indopol Survey & Consulting serta Laboratorium Politik dan Tata Kelola Pemerintahan Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) UB merilis hasil riset bertajuk “Profil dan Behavior Mapping Generasi Muda Kota Malang: Wawasan Kebangsaan, Literasi Digital, Literasi Politik, Literasi Budaya Hingga Perilaku Konsumen”.
Laporan riset tersebut dipaparkan dalam forum Townhall Cakra Politika 2026 di Aula Lantai 4 Gedung A FIA UB, Malang, Kamis (24/9/2026). Director/Ketua Tim Indopol Survey & Consulting, Ratno Sulistiyanto, M.I.Kom., menjelaskan bahwa riset yang berlangsung pada 27 Agustus–7 September 2026 ini melibatkan 600 responden (450 warga ber-KTP Kota Malang dan 150 mahasiswa perantau) dengan margin of error kurang lebih 4,0 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Salah satu temuan utama riset memperlihatkan bahwa tingkat kepercayaan dan kepuasan (approval rating) Generasi Z terhadap kepemimpinan lokal tercatat cukup solid. Penjabat (Pj.) Wali Kota Malang, Dr. Ir. H. Wahyu Hidayat, M.M., meraih tingkat kepuasan 63 persen. Sementara pada jenjang kepemimpinan nasional, Presiden Prabowo Subianto memperoleh 50 persen dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mendapat 32 persen.
Riset ini juga mencatat adanya kesenjangan (gap) antara mahasiswa perantau dan warga lokal. Kelompok mahasiswa perantau dinilai lebih unggul dalam penguasaan teknologi digital, melainkan sangat minim memahami dinamika pemerintahan lokal. Tercatat hanya 18,67 persen mahasiswa perantau yang mengetahui nama Wali Kota Malang, berbanding terbalik dengan warga lokal yang mencapai 82,22 persen.
Di sisi lain, masalah kemacetan lalu lintas dan penyediaan fasilitas transportasi publik menjadi isu dengan keluhan paling dominan. Sektor ini mendapat penilaian negatif terbanyak dari responden (56,83 persen) sekaligus menjadi isu paling mendesak yang wajib segera ditangani oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Malang (34,01 persen).
Selain menyoroti isu yang paling mendesak untuk ditangani, riset ini turut mengurai sejumlah faktor pendorong utama yang membuat Generasi Z semakin terbuka terhadap isu-isu politik. Faktor-faktor tersebut antara lain akses dan kemampuan menyaring informasi digital, pendidikan literasi politik, keterikatan pada isu harian seperti transportasi dan pendidikan, serta keaktifan dalam organisasi kemahasiswaan.
Sebanyak 72,8 persen responden tercatat aktif mengikuti perkembangan isu-isu lokal, namun hanya 15,2 persen yang rutin memantau kebijakan publik Pemkot Malang maupun DPRD Kota Malang. Kondisi ini mengindikasikan adanya tantangan besar dalam meningkatkan partisipasi politik aktif Generasi Z.
Ketua Pelaksana Riset, Dr. Ika Weni Susamwati, S.Sos., M.A.P., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari riset terpadu Cakra Politika 2026 di bawah skema program Globalizing UB.
“Hari ini adalah momentum untuk mengonfirmasi hasil riset yang telah kami jalankan, sekaligus menjembatani mahasiswa untuk berkomunikasi dan berdialog langsung dengan para pemangku kebijakan,” ujar Dr. Ika Weni, Kamis (24/9/2026).
Ia berharap melalui perhelatan Cakra Politika 2026 ini, kolaborasi antara akademisi, pemerintah daerah, dan elemen masyarakat dapat terjalin lebih erat dalam mendorong literasi politik serta partisipasi aktif pemuda di Indonesia.
Senada dengan hal tersebut, Wakil Dekan I FIA UB, Dr. Fadillah Amin, S.AP., M.P., Ph.D., berharap hasil riset ini dapat memberikan kemanfaatan nyata secara praktis.
”Harapan kami, kegiatan ini tidak berhenti pada pemaparan hasil survei semata, melainkan betul-betul memberikan dampak nyata—baik sebagai masukan berbasis data (data-driven policy) bagi para pembuat kebijakan di Kota Malang maupun sebagai bahan pembelajaran kritis bagi mahasiswa,” tutur Dr. Fadillah.
Kegiatan ini dihadiri oleh sekitar 300 peserta, termasuk jajaran sivitas akademika dan mahasiswa UB. Forum diskusi ini diselenggarakan sebagai dasar penyusunan peta perilaku (behavior mapping) generasi muda Kota Malang, sekaligus menyerap aspirasi mahasiswa guna perumusan rekomendasi kebijakan publik berbasis data. (M. Abd. Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




