LOKER: Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, membuka sekaligus meresmikan Job Fair 2026 berlangsung selama dua hari, di GOR Ken Arok, Rabu (16/09/2026). (Foto: Iwan Kaconk/Malang Post)
MALANG POST – Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, membuka secara resmi bursa kerja Job Fair 2026 bertema “Siap Bekerja dan Siap Berkarya” yang menyediakan 1.697 lowongan pekerjaan dari 50 perusahaan guna menekan angka pengangguran terbuka yang saat ini berada di angka 5,97 persen, Rabu (16/9/2026).
Persoalan ketersediaan lapangan kerja di kota pendidikan, selalu menjadi tantangan dinamis yang terus berulang saban tahun. Ketika ribuan kelulusan baru dari berbagai perguruan tinggi menyembur ke pasar kerja, pemerintah daerah harus gesit membentangkan jembatan penghubung dengan dunia industri.
Langkah taktis itulah yang kembali digulirkan oleh Pemerintah Kota Malang.
Dinas Tenaga Kerja, Penanaman Modal, dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (Disnaker-PMPTSP) Kota Malang, menggelar bursa kerja Job Fair 2026.
Kegiatan yang mengusung tema besar “Siap Bekerja dan Siap Berkarya” tersebut, dilangsungkan selama dua hari, yakni Rabu dan Kamis (16–17/9/2026).

LEGISLATOR: Ketua DPRD Kota Malang, Amithya Ratnanggani Sirraduhita, meninjau situasi Job Fair di GOR Ken Arok, yang diikuti 50 perusahaan Malang Raya dan Regional. (Foto: Iwan Kaconk/Malang Post)
Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, mengimbau seluruh pencari kerja di Kota Malang dan sekitarnya, memanfaatkan momentum emas ini secara maksimal.
Pasalnya, sebanyak 50 perusahaan bonafid skala Malang Raya hingga regional Jawa Timur membuka peluang karir sebanyak 1.697 formasi lowongan kerja.
“Kami ingin Job Fair 2026 bukan sekadar tempat mengumpulkan berkas lamaran. Para pencari kerja diharapkan bisa mendapatkan pekerjaan yang benar-benar sesuai dengan keahliannya,” tegas Wahyu Hidayat saat membuka acara, Rabu (16/9/2026).
Wahyu membeberkan, pada sesi awal pembukaan pendaftaran online, tercatat ada 3.480 pelamar kerja yang sudah memasukkan berkas.
Ia berharap minimal separuh dari total pendaftar tersebut sanggup terserap ke dalam jajaran perusahaan peserta.
Terkait peta ketenagakerjaan daerah, alumnus ITN Malang itu menyebutkan, angka pengangguran di Kota Malang melakoni tren penurunan positif, dari sebelumnya 6,10 persen melorot menjadi 5,97 persen.
Melalui konsistensi pergelaran Job Fair harian, Wahyu optimistis angka pengangguran bisa ditekan lebih rendah lagi.
Ia menyoroti banyak pekerjaan sektor informal, seperti content creator dan UMKM, sebenarnya menyajikan peluang finansial yang sangat menggiurkan.
Namun, persepsi umum masyarakat masih dominan memandang pekerjaan formal perbankan, finance, atau administrasi jauh lebih bernilai.
“Angka pengangguran 5,97 persen ini bisa jadi bersumber dari pekerja informal yang belum tercatat di data resmi. Padahal Malang adalah jendela kota kreatif dunia yang diperkuat 17 subsektor ekonomi kreatif di Malang Creative Center (MCC),” terangnya.
Wahyu meminta Disnaker-PMPTSP dan pihak swasta, menjalin kolaborasi erat dengan Balai Latihan Kerja (BLK) untuk melatih calon pekerja agar memiliki kompetensi mumpuni sebelum masuk dunia usaha.
Dukungan politik dihembuskan Ketua DPRD Kota Malang, Amithya Ratnanggani Sirraduhita.
Sosok yang akrab disapa Mia ini, menekankan pentingnya Disnaker-PMPTSP melakoni pemetaan berbasis latar belakang pendidikan dan keahlian spesifik.

LOKER: Salah seorang pencari kerja, Tri Arismawati (23) asal Sawojajar Kedungkandang, mengidam bisa bergabung di FIF atau Royal ATK sebagai kasir atau administrasi. (Foto: Iwan Kaconk/Malang Post)
“Disnaker bisa menjalin kerja sama atau MoU lewat kanal pelatihan lokal dan regional, salah satunya memaksimalkan diklat di BLK Malang Raya maupun Provinsi. Penyaluran tenaga kerja pascadiklat memiliki peluang terserap sangat besar,” ujar Mia.
Plt. Kepala Disnaker-PMPTSP Kota Malang, Sugeng Prastowo, menambahkan, pendaftaran online tetap dibuka ketat hingga Kamis pagi pukul 09.00 WIB.
Sugeng membeberkan, potensi kelulusan berkas di bursa kerja tahunan ini rata-rata mencapai di atas 80 persen.
“Evaluasi kami di lapangan menunjukkan kendala utama ada pada ketidaksesuaian antara keinginan pencaker dan kualifikasi yang diminta perusahaan. Namun kami terus mendampingi agar kuota terisi optimal,” jelas Sugeng.
Tingginya antusiasme dirasakan salah seorang pelamar kerja asal Sawojajar, Tri Arismawati (23).
Perempuan muda yang mengincar posisi staf administrasi dan kasir tersebut, sengaja memboyong lebih dari 10 berkas lamaran fisik.
“Saya berbekal pengalaman kerja di PT Indomarco dan PT Matahari Tbk. Sambil melamar kerja, saya mengisi waktu dengan jualan kue dan baju online. Harapan saya bisa diterima di perusahaan bonafid untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga,” tutur Tri optimistis. (Iwan Kaconk/Ra Indrata)




