MALANG POST – Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, drg. Wiyanto Wijoyo, membeberkan bahwa capaian program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di wilayahnya, hingga September 2026 telah menjangkau 816 ribu warga atau 29,22 persen dari total sasaran penduduk, Sabtu (12/9/2026).
Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, terus memacu cakupan pelaksanaan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di seluruh pelosok desa.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, drg. Wiyanto Wijoyo, dalam talk show di program Idjen Talk Radio City Guide 911 FM menyampaikan, hingga pertengahan September 2026, program CKG telah berhasil menjangkau sekitar 816 ribu warga.
Angka tersebut setara dengan 29,22 persen dari total sasaran penduduk di Kabupaten Malang.
Sementara itu, target nasional yang harus dikejar Kabupaten Malang pada tahun 2026 ini, berada di angka 1.285.000 warga atau sekitar 46 persen.
Artinya, masih terdapat tanggungan sekitar 468 ribu warga yang wajib dijangkau hingga penutupan akhir tahun mendatang.
Wiyanto menegaskan sikap optimistisnya, target kuota nasional tersebut sanggup dikejar.
Sebanyak 39 puskesmas di seluruh wilayah Kabupaten Malang, disiagakan setiap hari untuk melayani CKG, dengan rapot capaian yang dievaluasi ketat saban bulan bersama para kepala puskesmas.
Evaluasi bulanan tersebut memotret ketimpangan capaian antarwilayah yang cukup tajam.
Terdapat lima puskesmas yang telah sukses melampaui target nasional 46 persen.
Puskesmas Poncokusumo bertengger di posisi tertinggi dengan capaian 51 persen, disusul Puskesmas Donomulyo 50 persen, Gondanglegi 49 persen, Sitiarjo 48 persen, serta Kromengan 47 persen.
Namun di sisi lain, Wiyanto mengakui masih ada deretan puskesmas yang capaiannya tertahan di bawah angka 20 persen.
Selain ketimpangan antarwilayah, ganjalan utama di lapangan bersumber dari beban kerja tenaga kesehatan (nakes) yang cukup tinggi.
Nakes di puskesmas terpaksa melakoni beberapa tugas pelayanan medis sekaligus dalam waktu bersamaan.
Proses pemeriksaan medis hingga pencatatan sistem CKG memakan waktu tidak sebentar. Input data administrasi satu warga saja membutuhkan durasi sekitar 15 menit.
Ketersediaan bahan medis habis pakai, seperti strip tes gula darah, juga kerap menipis dan terus menjadi bahan evaluasi rutin.
Tantangan geografis dan mobilitas warga turut memperlambat laju CKG.
Banyak warga Kabupaten Malang yang bekerja di Kota Malang dan baru menginjakkan kaki di rumah pada sore hingga malam hari.
Kondisi tersebut menyulitkan nakes menjangkau warga pada jam kerja reguler puskesmas. Jika harus turun melakukan pemeriksaan malam hari, kapasitas stamina dan jam kerja nakes menjadi pembatas.
Kondisi di lapangan ini mendapat tanggapan akademisi dari Fakultas Kedokteran UMM, Dr. dr. Febri Endra Budi.
Febri menilai strategi CKG harus memperhitungkan jam kerja warga, serta karakter wilayah agar tidak sekadar berburu angka statistik di atas kertas.
Febri menyoroti pola pikir masyarakat yang baru berkunjung ke fasilitas kesehatan saat kondisi tubuh sudah drop parah.
“Sebagian masyarakat merasa tidak perlu periksa kalau tidak ada keluhan. Padahal CKG dirancang untuk mendeteksi dini risiko penyakit agar biaya pengobatan tidak membengkak di kemudian hari,” tegas Febri.
Febri meluruskan pemahaman publik bahwa layanan CKG kini tidak lagi harus menunggu momentum hari ulang tahun. Warga berhak mendapatkan fasilitas CKG gratis satu kali dalam setahun dengan mendaftar terlebih dahulu.
Program CKG menyasar seluruh tingkatan usia. Mulai dari bayi baru lahir, balita, anak sekolah, remaja, usia produktif, hingga lansia.
Febri menyarankan perluasan pelayanan dilakukan lewat posyandu balita, program kesehatan sekolah (UKS) di playgroup hingga SMA, serta kunjungan rumah pascamelahirkan. (Yolanda Oktaviani/Ra Indrata)




