BONGKAR: Kalaksa BPBD Kota Malang, Heru Mulyono bersama perwakilan DPUPRPKP yakni Yocky Agus Firmanda, saat memantau pembongkaran secara mandiri dilakukan pemilik pabrik karet CV ABS, Eka Pragawinata, untuk menormalisasi saluran irigasi Sengkaling Kiri, Rabu (9/09/2026). (Foto: Iwan Kaconk/Malang Post)
MALANG POST – Pemerintah Kota Malang melalui DPUPRPKP bersama BPBD Kota Malang, memfasilitasi pembongkaran mandiri serta normalisasi Saluran Irigasi Sengkaling Kiri sepanjang 200 meter, yang dilakukan oleh pemilik pabrik karet CV Anugerah Bumi Sejahtera (CV ABS) di Kelurahan Pandanwangi, Blimbing, Rabu (9/9/2026).
Kesadaran untuk mematuhi aturan tata ruang dan menjaga keselamatan lingkungan, memang kerap butuh waktu. Namun ketika niat baik untuk membenahi kesalahan masa lalu hadir tanpa paksaan, jalan keluar atas ancaman bencana banjir kota bisa diselesaikan secara sejuk dan beradab.
Sinergi positif itulah yang membuncah di kawasan utara Kota Malang.
Pemerintah Kota Malang melalui Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPRPKP), bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang, menyaksikan langsung prosesi pembongkaran mandiri bangunan milik pabrik karet CV Anugerah Bumi Sejahtera (CV ABS), Rabu (9/9/2026).
Aksi bongkar sukarela tersebut, diinisiasi langsung oleh pemilik pabrik, Eka Pragawinata yang kini berusia 79 tahun.
Bangunan milik CV ABS di wilayah Kelurahan Pandanwangi, Kecamatan Blimbing, tersebut terbukti berdiri melanggar batas di atas Saluran Irigasi Sengkaling Kiri.
Keberadaan struktur beton di atas badan air tersebut, menjadi biang kerok tersumbatnya aliran air.
Setiap kali musim hujan tiba, luapan air irigasi selalu menyapu dan merendam kawasan hunian warga di Perumahan The Cluster Nirwana Pandanwangi.
Guna mempercepat proses eksekusi di lapangan, Pemkot Malang menerjunkan bantuan alat berat.
”Untuk memudahkan upaya baik mandiri itu, kita bantu fasilitasi mendatangkan dua unit alat berat yakni ekskavator. Hal ini kita laksanakan setelah disepakati bersama dengan pemilik pabrik karet,” terang Kepala DPUPRPKP Kota Malang, Dandung Djulharjanto, Rabu (9/9/2026).
Dandung menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada manajemen CV ABS, atas komitmen dan jiwa besar melakoni pembongkaran tanpa resistensi.
Langkah kooperatif ini diharapkan menjadi contoh tolok ukur bagi para pelaku usaha lain di Kota Malang, yang bangunannya terindikasi melanggar fungsi fasum dan irigasi.
Kerja sama semacam ini sangat memudahkan pemerintah daerah, memetakan sekaligus mengantisipasi titik rawan luapan air sejak jauh hari sebelum puncak musim penghujan tiba.
Dandung merinci pengerjaan pengerukan dan normalisasi saluran air di area tersebut, menyasar bentang panjang yang cukup luas.
Saluran irigasi yang tertutup di kawasan internal pabrik karet mencapai panjang sekitar 50 meter.
Petugas kemudian menarik garis pengerukan ke arah belakang sepanjang 100 meter, hingga menembus tembok pembatas Perumahan The Cluster Nirwana.
”Ke arah selatannya sepanjang 50 meteran juga yang dinormalisasi. Jadi panjang totalnya ada 200 meteran yang dinormalisasi. Ke depannya, kami berharap penanggulangan banjir bisa diselesaikan,” urai Dandung.
Di lokasi yang sama, Kalaksa BPBD Kota Malang, Heru Mulyono, menegaskan bahwa langkah kepedulian CV ABS ini, menjawab jeritan keluhan warga perumahan sekitar.
Dalam dua tahun belakangan, tiap kali hujan deras melanda, permukiman The Cluster Nirwana selalu tenggelam banjir akibat kran saluran menyempit.
”Dengan kesadaran dari CV ABS bisa menormalisasi langsung secara mandiri siang ini. Bertujuan ketika di musim penghujan tiba, harapan kita sudah tidak terjadi banjir lagi di perumahan tersebut,” harap Heru.
Sementara itu, penanggung jawab operasional pabrik karet CV ABS, Sumarlik (49), menegaskan bahwa pihaknya tunduk dan patuh pada regulasi Pemkot Malang.
Pihak manajemen memilih sukarela membongkar bangunan demi keselamatan lingkungan bersama.
”Bentuk komitmen dan kepedulian kami pada lingkungan. Intinya apa yang ditentukan oleh Pemkot Malang, kami di sini manut (patuh) untuk melaksanakannya. Harapannya musibah banjir di Perumahan The Cluster Nirwana sudah berakhir,” tutur Sumarlik.
Sumarlik membeberkan rekam jejak pabrik karet tempatnya bekerja. Usaha tersebut telah berdiri kokoh sejak era 1980-an.
Jalur bangunan di atas Saluran Irigasi Sengkaling Kiri, diperkirakan mulai dibangun sekitar tahun 2010 silam.
Roda usaha yang meredup membuat jumlah buruh pabrik tergerus drastis, dari semula mengaryakan 100 orang kini tinggal tersisa 10 pekerja harian.
”Terkait hal lainnya mohon maaf kami belum bisa berkomentar apa-apa lagi,” tutupnya singkat. (Iwan Kaconk/Ra Indrata)




