MALANG POST – Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Kependudukan Provinsi Jawa Timur, bersama PUSPA Kendedes menggelar edukasi Comprehensive Sexuality Education di SMAN 6 Malang, Kamis (3/9/2026), guna membekali siswa dengan personal safety skill dan mencegah kekerasan pada anak di lingkungan sekolah.
Tantangan yang dihadapi remaja semakin kompleks. Perkembangan teknologi, penggunaan gawai (gadget), paparan konten digital, tekanan teman sebaya, perundungan (bullying), hingga lingkungan sosial yang kurang aman membutuhkan respons pendidikan yang tidak hanya informatif, melainkan juga membangun kemampuan remaja dalam mengambil keputusan.
Atas dasar tersebut, Comprehensive Sexuality Education (CSE) menjadi salah satu pendekatan penting dalam memperkuat perlindungan anak dan remaja.
Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Comprehensive Sexuality Education (CSE) dan Sosialisasi Pencegahan Kekerasan pada Anak yang diselenggarakan di SMAN 6 Malang, Kamis (3/9/2026).
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Kependudukan (DP3AK) Provinsi Jawa Timur dalam memperkuat edukasi pencegahan kekerasan pada anak di satuan pendidikan.
Acara diawali dengan menyanyikan lagu “Indonesia Raya”, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari pihak sekolah serta DP3AK Provinsi Jawa Timur yang disampaikan oleh Galih Pambuko, S.H., Analis Kebijakan Ahli Muda, beserta jajaran.
Remaja Harus Memiliki “Personal Safety Skill”
Sebagai narasumber, Sri Sudarwati, M.M., Wakil Ketua Forum Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (PUSPA) Kendedes Kota Malang, mengemas materi secara interaktif dengan mengajak siswa tidak hanya memahami informasi, melainkan juga melakukan refleksi terhadap kehidupan mereka sehari-hari.
Menurut Sri Sudarwati, pendidikan perlindungan anak perlu diarahkan pada penguatan kemampuan siswa dalam mengenali risiko dan mengambil keputusan.
“Remaja tidak cukup hanya diberi tahu mana yang benar dan salah. Mereka perlu dibekali kemampuan untuk mengenali risiko, menjaga batas dirinya, berani mengatakan tidak, memilih lingkungan yang sehat, dan tahu kapan harus meminta pertolongan,” ujarnya.
Kemampuan tersebut menjadi bagian penting dari personal safety skill, yaitu keterampilan untuk melindungi diri ketika menghadapi situasi yang berpotensi membahayakan.
Enam Tantangan yang Dekat dengan Kehidupan Siswa
Dalam kegiatan tersebut, siswa diajak mendiskusikan enam isu utama:
Pertama, penggunaan gawai secara berlebihan. Gawai memberikan banyak manfaat, tetapi penggunaan tanpa kontrol dapat mengganggu konsentrasi belajar, waktu tidur, interaksi sosial, dan keseimbangan kehidupan remaja.
Kedua, pengaruh pornografi. Siswa perlu memiliki literasi digital agar mampu memahami bahwa tidak semua konten yang tersedia di internet layak dikonsumsi, apalagi dijadikan referensi dalam membangun relasi dan memahami tubuh maupun seksualitas.
Ketiga, bahaya perilaku seksual berisiko. Edukasi diberikan dengan pendekatan preventif agar siswa memahami konsekuensi dari keputusan yang diambil serta mampu menjaga batas diri.
Keempat, seleksi pertemanan. Pertemanan seharusnya menjadi sumber dukungan positif, bukan tekanan untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nilai, keamanan, dan masa depan diri.
Kelima, membangun lingkungan yang efektif dan aman. Lingkungan tempat tinggal, sekolah, dan pergaulan dapat memengaruhi perilaku dan keputusan remaja.
Keenam, membangun partisipasi dalam keluarga yang sehat dan kuat. Komunikasi terbuka antara anak dan keluarga menjadi salah satu faktor penting dalam membangun rasa aman serta mencegah anak menghadapi persoalan seorang diri.
Pertanyaan Siswa Justru Membuka Persoalan yang Sesungguhnya
Salah satu kekuatan kegiatan ini adalah keterlibatan aktif siswa kelas X, XI, dan XII. Berbagai pertanyaan yang muncul menunjukkan bahwa siswa membutuhkan jawaban terhadap persoalan yang benar-benar mereka hadapi.
Beberapa isu yang banyak muncul antara lain:
- Cara mengelola waktu antara sekolah, gawai, pertemanan, dan aktivitas pribadi;
- Cara memiliki keberanian untuk mengatakan “TIDAK” terhadap ajakan yang berisiko;
- Cara menghadapi lingkungan tempat tinggal atau pergaulan yang kurang aman;
- Cara memilih teman yang memberikan pengaruh positif;
- Cara menghadapi dan mengantisipasi perundungan; serta
- Kepada siapa harus berbicara ketika menghadapi persoalan yang membuat tidak nyaman atau terancam.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi indikator penting bahwa ruang dialog bagi remaja sangat dibutuhkan. Mereka bukan tidak memiliki informasi, melainkan persoalannya adalah bagaimana informasi tersebut dapat diterjemahkan menjadi sikap, keterampilan, dan keputusan yang tepat.
“Berani Berkata Tidak” Adalah Bentuk Perlindungan Diri
Dalam konteks pencegahan kekerasan, kemampuan mengatakan “TIDAK” menjadi salah satu keterampilan yang sangat penting. Mengatakan “tidak” bukan berarti tidak menghargai orang lain, melainkan menandakan bahwa seseorang memahami bahwa dirinya memiliki batas, hak, dan pilihan.
Remaja perlu memahami bahwa mereka berhak merasa aman, berhak menolak situasi yang membuat tidak nyaman, dan berhak mencari bantuan ketika menghadapi ancaman atau kekerasan.
Oleh karena itu, edukasi mengenai batas diri (personal boundaries) harus dibangun melalui komunikasi yang sederhana, terbuka, dan sesuai dengan kehidupan remaja.
PUSPA Kendedes: Kolaborasi untuk Perlindungan Anak
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari semangat kolaborasi yang selama ini dibangun oleh PUSPA Kendedes Kota Malang dalam mendorong pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. PUSPA Kendedes merupakan forum partisipasi publik yang mempertemukan berbagai unsur masyarakat untuk memperkuat kesejahteraan perempuan dan anak.
Dalam pelaksanaannya, PUSPA Kendedes mendorong sinergi lintas sektor melalui pendekatan Koordinasi, Integrasi, Sinkronisasi, dan Simplifikasi (KISS) bersama pemerintah daerah, komunitas, lembaga pendidikan, dan berbagai pemangku kepentingan.
Pendekatan tersebut menempatkan perlindungan anak sebagai tanggung jawab bersama, bukan hanya tanggung jawab anak, orang tua, guru, atau pemerintah secara terpisah.

Hearing dengan Kepala SMAN 6 Malang
Setelah sesi edukasi, kegiatan dilanjutkan dengan hearing bersama Kepala SMAN 6 Malang, Ernawati, S.Pd. Hearing menjadi momentum untuk menangkap kebutuhan sekolah secara lebih konkret dan mendiskusikan penguatan lingkungan pendidikan yang aman bagi siswa.
Forum ini juga menjadi pengingat bahwa pencegahan kekerasan membutuhkan proses yang berkelanjutan. Sosialisasi adalah pintu masuk, sedangkan perubahan perilaku membutuhkan ekosistem.
Oleh karena itu, penguatan kapasitas siswa perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kapasitas guru, komunikasi dengan orang tua, sistem perlindungan di sekolah, serta akses terhadap layanan pendampingan dan rujukan.
CSE Adalah Investasi Masa Depan
Pendidikan Seksual Komprehensif pada akhirnya bukan sekadar membicarakan seksualitas. CSE adalah tentang mengenal diri, memahami batas diri, menghargai orang lain, membangun relasi yang sehat, mengenali risiko, mengambil keputusan secara bertanggung jawab, dan memiliki keberanian untuk melindungi diri.
Inilah mengapa pendidikan seksual komprehensif harus dipandang sebagai investasi masa depan remaja yang sehat dan bertanggung jawab.
Ketika seorang remaja mampu mengatakan:
- “Saya tahu batas saya.”
- “Saya tahu risiko saya.”
- “Saya berani mengatakan tidak.”
- “Saya tahu kepada siapa harus meminta bantuan.”
maka pendidikan telah menghasilkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar pengetahuan. Ia telah membangun kesadaran dan kemampuan melindungi diri.
Ketika semakin banyak remaja memiliki kemampuan tersebut, kita sedang membangun generasi yang lebih sehat, tangguh, dan siap menghadapi masa depan.
Pesan Penutup
Melindungi anak bukan menunggu ketika kekerasan terjadi. Melindungi anak berarti membekali mereka sebelum risiko datang. CSE bukan sekadar edukasi, melainkan sebuah investasi. (Ra Indrata)




