MALANG POST – Daret Indah Mega Safitri, guru SD Negeri 3 Sidoluhur Lawang di lereng pegunungan Kabupaten Malang, menciptakan inovasi bahan ajar cetak mandiri, untuk mengatasi kendala keterbatasan sinyal internet dalam pembelajaran Kurikulum Merdeka, Rabu (26/8/2026).
Wilayah Kabupaten Malang membentang sangat luas. Geografisnya yang didominasi pegunungan, menyimpan tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan.
Program digitalisasi sekolah tidak selalu berjalan mulus di lapangan. Ketimpangan akses teknologi masih dirasakan oleh sekolah-sekolah di kawasan pelosok.
Kondisi inilah yang dialami oleh SD Negeri 3 Sidoluhur, Kecamatan Lawang. Bangunan sekolah ini berdiri tegap di kawasan lereng pegunungan timur Lawang.
Jaraknya berkisar 8,3 kilometer dari pusat kota Kecamatan Lawang.
Ketinggian lokasi, membuat akses sinyal komunikasi sering terputus. Jaringan internet menjadi barang langka yang sulit dijangkau.
Tantangan ini diakui langsung oleh Daret Indah Mega Safitri, S.Pd., salah seorang guru kelas di SDN 3 Sidoluhur.
”Tidak semua masyarakat di daerah ini melek teknologi. Rata-rata gadget hanya dipakai sekadar alat komunikasi biasa,” kata Daret Indah, Rabu (26/8/2026).
Mengajar di lereng pegunungan yang terisolasi sinyal tidak membuat Indah patah semangat. Keterbatasan lingkungan justru melecut kreativitasnya.
Sebagai pendidik muda, Indah terus mengasah kapasitas keprofesiannya. Ia aktif mengikuti berbagai pelatihan teknologi pembelajaran tingkat nasional.
Indah merupakan alumni Guru Penggerak Angkatan 9. Ia juga telah mengantongi sertifikasi Google Master Trainer Level 2 dan Mentor Google Master Trainer Level 1.
Program Google Master dirancang untuk menopang platform belajar.id Kementerian Pendidikan. Tujuannya mencetak guru pelatih yang memimpin perubahan digital secara interaktif.
Namun, saat kembali ke kelas, realitas jaringan internet memaksanya beradaptasi secara realistis.
Indah menolak mengajar ala kadarnya. Ia memastikan seluruh materi tetap mempedomani Tujuan Pembelajaran (TP) dan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) sesuai Capaian Pembelajaran (CP).
”Pada Kurikulum Merdeka, guru diberi kebebasan menentukan TP dan ATP sendiri sesuai karakteristik siswa,” terangnya.
Murid-murid di SDN 3 Sidoluhur membutuhkan pendekatan khusus. Karakter belajar mereka lebih cepat menyerap materi melalui media benda konkret.
Indah sering mendapati buku teks utama kurang pas dengan ATP yang disusunnya.
Ia lantas mengambil keputusan taktis. Indah menyusun sendiri bahan ajar pendamping berbentuk cetak yang disesuaikan dengan lingkungan anak didiknya.
”Lingkungan sekolah terpencil tidak memungkinkan teknologi dipakai maksimal. Bahan ajar cetak menjadi alternatif penting agar anak-anak tetap terlayani dengan baik,” tegas Indah. (Ra Indrata)




