MALANG POST – Diikuti ribuan warga dari 24 RT, Karnaval Selamatan Desa Beji 2026 di Junrejo Kota Batu, sukses memadukan pementasan tradisi daerah dengan geliat penguatan ekonomi UMKM lokal.
Jalanan Desa Beji, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, berubah menjadi panggung budaya akhir pekan kemarin. Ribuan warga dan wisatawan memadati jalur pawai untuk menyaksikan Karnaval Selamatan Desa Beji 2026 yang mengusung tema “Budaya Daerah Nuswantoro“.
Pawai yang digelar setiap dua tahun sekali itu bukan sekadar pesta rakyat. Di balik kemeriahan kostum dan atraksi seni, warga membawa misi untuk merawat tradisi sekaligus menghidupkan ekonomi lokal.
Setiap kontingen tampil dengan kreativitas masing-masing. Anak-anak hingga pemuda desa ikut ambil bagian menampilkan beragam kesenian dan kreasi budaya yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Kepala Desa Beji Deny Cahyono mengatakan, karnaval tersebut merupakan rangkaian Selamatan Desa Beji 2026. Kegiatan itu menjadi salah satu agenda penting dalam kalender budaya desa yang melibatkan masyarakat secara luas.
“Ini adalah rangkaian dari kegiatan Selamatan Desa Beji tahun 2026. Melalui pawai budaya ini, kami ingin mengangkat potensi seni dan tradisi yang ada di desa, sekaligus mempererat semangat guyub rukun dan swadaya masyarakat,” ujar Deny, Minggu (9/8/2026).

KREATIVITAS: Warga Desa Beji saat menampilkan kreativitasnya dalam pawai budaya Desa Beji 2026. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Partisipasi warga terlihat hampir di sepanjang iring-iringan. Tiga dusun di Desa Beji, yakni Dusun Karang Jambe, Jambe Rejo, dan Krajan, mengirimkan kontingen masing-masing. Total terdapat 6 RW dan 24 RT yang terlibat dalam pawai tersebut. Keterlibatan lintas usia membuat karnaval terasa sebagai pesta bersama. Warga tidak hanya menjadi penonton, melainkan ikut menjadi bagian utama pertunjukan.
Dukungan juga datang dari sektor swasta dan pelaku usaha lokal. Sejumlah pelaku usaha dan penyedia pariwisata turut ambil bagian, di antaranya Jatim Park 3, WESB, dan Hotel Singhasari. Pelaku kuliner lokal juga memanfaatkan momentum tersebut untuk membuka lapak di sekitar lokasi kegiatan.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu Onny Ardianto mengapresiasi tingginya partisipasi masyarakat. Menurutnya, dominasi warga lokal sebagai penampil menunjukkan bahwa tradisi masih memiliki tempat yang kuat di tengah masyarakat.
“Melihat antusiasme dari masyarakat ini sungguh sangat luar biasa. Mayoritas penampil dan partisipan murni berasal dari warga sekitar Desa Beji. Hal ini membuktikan bahwa semangat gotong royong dalam merawat budaya lokal masih sangat terjaga,” kata Onny.
Menurut Onny, kekuatan pawai budaya Desa Beji justru terletak pada keterlibatan masyarakat. Budaya tidak hanya dipertontonkan, melainkan dijalankan dan dirawat bersama oleh warga.

Di sisi lain, geliat budaya tersebut turut membawa dampak ekonomi. Kehadiran ribuan pengunjung membuat aktivitas perdagangan warga ikut bergerak. Lapak UMKM dan kuliner lokal menjadi bagian dari denyut kegiatan selama pawai berlangsung.
Onny menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa agenda budaya bisa berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi kerakyatan. Ketika masyarakat menjadi pelaku utama, manfaat kegiatan juga berpeluang lebih banyak dirasakan warga setempat.
Oleh karena itu, Dinas Pariwisata Kota Batu berencana memasukkan kegiatan ini dalam kalender pariwisata Kota Batu tahun depan. Langkah tersebut diharapkan membuat agenda budaya desa memiliki jangkauan promosi yang lebih luas.
Dukungan pemerintah daerah nantinya tidak hanya berupa penganggaran, melainkan juga promosi terpadu agar kegiatan lebih mudah dikenal wisatawan.
“Harapannya, selain untuk memperkenalkan dan melestarikan budaya Kota Batu kepada khalayak luas, kegiatan ini juga mampu menggerakkan roda perekonomian masyarakat sekitar secara berkelanjutan,” pungkas Onny. (*/Ananto Wibowo/Ra Indrata)




