Matheus Blade, pemain Arema FC yang selalu menjadi starting eleven di Piala Presiden 2026. (Foto: Arema Official)
MALANG POST – Gelandang bertahan asal Brasil, Matheus da Conceição Nascimento alias Matheus Blade, mencatatkan rekor sebagai satu-satunya pemain Arema FC, yang selalu masuk starting eleven dalam seluruh lima pertandingan Singo Edan, sepanjang gelaran Piala Presiden 2026.
Di balik bongkar-pasang formasi yang dilakukan pelatih Marcos Santos, sepanjang Piala Presiden 2026, ada satu nama di lini tengah Arema FC, yang posisinya tak tersentuh sama sekali. Dialah Matheus da Conceição Nascimento, alias Matheus Blade.
Gelandang jangkar asal Brasil ini, menjadi satu-satunya penggawa Singo Edan yang selalu dipasang sebagai starter dalam lima laga—mulai dari duel lawan Persib Bandung, Tampines Rovers, DPMM FC, Persebaya Surabaya, hingga Persija Jakarta.
Keputusan Marcos Santos mengunci nama Blade di lini tengah bukan tanpa alasan. Konsistensinya di lapangan menjadi jaminan mutu. Blade sukses menjaga keseimbangan permainan, baik saat tim sedang membongkar pertahanan lawan maupun membendung gempuran musuh.
Catatan angkanya memikat mata. Blade mengantongi rating 7,2 saat melawan Persib, lalu naik ke 7,8 menghadapi Tampines Rovers, 7,6 kontra DPMM FC, 7,4 di semifinal lawan Persebaya, dan ditutup rating 7,3 saat bertemu Persija. Rata-rata ratingnya menembus 7,46—tidak sekali pun penampilannya meluncur di bawah angka 7,0.
Pemain bernomor punggung 25 itu merasa Arema sebetulnya tampil lebih dominan di lapangan selama turnamen.
“Saya rasa semua melihat pertandingan itu. Saya yakin justru kami yang tampil lebih superior dalam pertandingan,” cetus Blade.
Meski Arema akhirnya harus puas finis di peringkat keempat, kepercayaan diri Blade tak goyah sedikit pun. Ia menilai perkembangan permainan timnya sudah berada di jalur yang benar sebagai modal berharga mengarungi Liga 1 musim 2026/2027.
“Saya juga harus berhati-hati dan lebih memahami situasi saat di lapangan. Hal ini agar tidak sampai terjadi keputusan yang merugikan tim,” tambahnya mengevaluasi diri.
Kontras dengan keperkasaan Blade, ada cerita berbalik dari kedalaman skuad. Lima pemain lain—seperti Johan Ahmat Farizi, Betinho Filho, Gabriel Silva, Marcos Vinicius, dan Joel Vinicius—memang ikut turun di lima laga, namun statusnya diselingi dari bangku cadangan.
Bahkan dari 27 nama yang diboyong ke Bali, ada tiga pemain yang bernasib getir: nol menit bermain.
Kiper Gianluca Claudio Pandeynuwu, kiper muda Erlangga Setyo Dwi Saputra, serta Fikri Arjidan menjadi trio penggawa yang “hilang” dari rumput pertandingan.
Gianluca dan Fikri hanya beberapa kali menghiasi bangku cadangan, sementara Erlangga lebih banyak menghabiskan waktu di luar lembar susunan pemain.
Piala Presiden telah usai. Panggung pramusim ini menyisakan pesan terang bagi Marcos Santos: Matheus Blade adalah nyawa permainan, sementara sektor lain masih membutuhkan polesan sebelum kompetisi resmi bergulir. (Ra Indrata)




