Oleh: Dahlan Iskan
Saya bertemu “anak-anak mahal” di ulang tahun ke-40 Ferina kemarin. “Anak mahal” adalah istilah yang diucapkan oleh mereka yang lahir dari proses kehamilan bayi tabung. Sementara Ferina adalah nama klinik bayi tabung milik seorang dokter yang Anda sudah tahu namanya: dr. Aucky Hinting.
Sampai berumur 40 tahun, Ferina baru dua kali merayakan ulang tahun. Yang pertama saat berumur 25 tahun, lalu di usia ke-40 kemarin.
Selama 40 tahun berpraktik, dr. Aucky sudah berhasil “membuat” bayi sebanyak 20.200. Salah satunya anak penyanyi top Inul Daratista. Inul sendiri hadir di acara kemarin dalam sesi talkshow.
Dia tampil bersama presenter cantik yang juga seorang dokter, Lula Kamal. Inul dan Lula ternyata sama-sama punya anak lewat proses bayi tabung di Ferina.
“Saya melakukannya berkat informasi dari Mbak Inul,” ujar Lula.

Dahlan Iskan bersama dr Elly Darmadji dan dua putrinyi. Elly memiliki 6 anak hasil bayi tabung di Ferina.–
Inul sendiri pernah berusaha punya anak dengan cara itu di Singapura, tetapi tidak berhasil. Suatu saat dia melihat kertas yang ditaruh suami di atas meja. Rupanya sang suami sudah membacanya, lalu meletakkannya begitu saja di meja. Ternyata kertas itu berisi informasi mengenai bayi tabung di dr. Aucky.
Begitu bertemu, suami Inul langsung mengajak sang istri ke Surabaya. Bersamaan dengan Inul, ada 20 orang yang juga menjalani program bayi tabung. Dari 20 orang itu, hanya satu yang gagal.
“Saya kaget. Kok murah sekali,” ujar Inul. Tentu bandingannya adalah tarif di luar negeri. “Waktu itu masih Rp40 juta,” kata Inul.
Inul mengira itu hanya uang muka. Setelah semuanya beres, Inul ke kasir untuk melunasi seluruh biayanya. “Ternyata tidak ada biaya lain-lain lagi,” kata Inul.
“Teman saya di Amerika pun sekarang melakukan bayi tabung di Surabaya. Mereka setengah tidak percaya begitu murahnya,” katanyi. Tentu bila dibandingkan dengan di Amerika.

Inul Daratista dan dr Lula Kamal. Keduanya memiliki anak setelah mengikuti program bayi tabung di klinik dr Aucky Hinting di Surabaya.–
Anak Inul sekarang sudah berusia 17 tahun. “Ganteng dan pandai sekali,” kata Inul. Awal tahun tadi, Inul ingin mengajak anak tunggalnyi umrah. Sudah beli tiket, lalu pecah perang Israel/Amerika vs Iran. Batal.
Juara bayi tabung dr. Aucky adalah Elly Darmadji. Dia seorang dokter. Elly tiga kali menjalani kehamilan bayi tabung, dan setiap kalinya kembar dua. Enam anaknya semua hasil bayi tabung, selalu sepasang laki-laki dan perempuan.
Yang tiga wanita semuanya dokter: dr. Sabrina Darmadji, dr. Edwina Darmadji, dan dr. Winnie Darmadji. Sedang tiga laki-laki—Edwin, William, dan Wilbert—masing-masing lulusan Australia, Yokohama, dan Binus Jakarta.
Saya bertemu juga anak mahal lainnya: kembar tiga. Kirana, Kirani, dan Kinan.
Sudah delapan tahun Made menikah tetapi belum punya anak. Pernah mencoba bayi tabung di Bali, namun gagal. Lalu ia pergi ke dr. Aucky. Saking inginnya punya anak, suami-istri ini sampai tinggal di Surabaya. Menunggu hamil, merawat kehamilan, hingga melahirkan.

Kirana, Kirani, dan Kinanti.–
“Keluarga dan teman di Bali tidak ada yang tahu istri saya hamil. Tahu-tahu kami pulang membawa anak kembar tiga,” ujar Made.
Selama proses itu sang istri tidak mau bolak-balik Surabaya–Bali karena takut keguguran. Bahkan waktu tidur pun sang istri sampai mengganjal pantat dengan bantal agar benihnya jadi. Padahal tidak harus sampai begitu.
“Kuncinya istri jangan sampai stres,” ujar Made saat talkshow dipandu Lula Kamal.
Hal itu pula yang diluruskan oleh Lula Kamal. “Saya sudah mempelajari literatur tentang stres itu. Ada yang berpengaruh, ada pula yang tidak,” ujar Lula.
Di acara kemarin saya juga bertemu “anak mahal” yang sangat hebat. Kembar. Laki-laki dan perempuan. Dua-duanya tunanetra. Keduanya diajak sang ayah untuk berfoto bersama saya.

Kirana, Kirani, Kinanti bersama ayah dan ibu mereka diwwancarai Lula Kamal.–
“Terima kasih, Pak Menteri,” katanya sambil mengulurkan tangan menyalami saya. Ups… ternyata ia tahu saya pernah jadi sesuatu.
Ia memang periang. Bahkan ketika Inul menyanyikan lagu Jawa Pamer Bojo, ia ikut berjoget sendirian. Tidak tampak minder dengan kekurangan di matanya. Kini ia kuliah di jurusan pariwisata Universitas Kristen Petra Surabaya.
Kenapa lahir buta? “Ketika kandungan berumur enam bulan sudah harus dilahirkan. Ada masalah di kandungan istri,” ujar sang ayah.
“Kami sudah diberi tahu anak kembar kami akan dilahirkan dalam keadaan buta. Di umur kandungan segitu, kornea mata janin belum benar-benar jadi,” ujar sang ayah.
Memang ada pilihan lain: digugurkan. Namun, ia tidak mau. Bayi itu sudah hidup. Memang masih di dalam kandungan, tetapi sudah hidup. Tidak boleh digugurkan. “Kami beragama Katolik,” katanya.

Kirana, Kirani, Kinanti bersama dua anak penyandang tuna netra yang juga lahir dari proses bayi tabung.–
Tentu awalnya sangat bersedih. Begitu tinggi keinginan punya anak, begitu dikabulkan dua-duanya lahir buta. “Akhirnya kami menerima apa yang Tuhan berikan,” katanya.
Dokter Aucky adalah alumnus SMA St. Louis yang kemudian kuliah kedokteran di Universitas Airlangga. Ia mendalami bayi tabung di Belgia. Di sanalah kali pertama Aucky mempraktikkan bayi tabung.

Dahlan Iskan dan dr Aucky Hinting.–
“Yang pertama gagal. Yang kedua gagal. Yang ketiga juga gagal. Baru yang keempat berhasil,” katanya.
Aucky punya dua anak: perempuan dan laki-laki. Yang perempuan menjadi dokter ahli kandungan di Amerika, lulusan McGill, Montreal, Kanada. Sedang yang laki-laki menjadi ahli laboratorium bayi tabung dan ikut terjun di Ferina (Fertilitas Indonesia).
“Anak-anak mahal” itu tentu tidak terasa mahal lagi kalau kelak hidup mereka sukses—punya penghasilan jauh lebih tinggi dari orang tua mereka. Mahal dan murah kadang bisa menjadi murah dan mahal. (Dahlan Iskan)



