MALANG POST – Lahan hutan pinus seluas 600 meter persegi di kawasan Hutan Produksi Gunung Panderman, Desa Pesanggrahan, Kota Batu, terbakar akibat pemicu sisa bara pembakaran serasah, Senin (5/10/2026) pagi, sebelum akhirnya berhasil dipadamkan secara manual oleh tim gabungan.
Percikan bara dari sisa pembakaran sampah dedaunan kering (serasah) diduga kuat menjadi pemicu utama kebakaran lahan di kawasan Hutan Produksi Gunung Panderman, Senin (5/10/2026). Kobaran api melahap vegetasi hutan pinus di Petak 228A Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Oro-Oro Ombo, Desa Pesanggrahan, Kecamatan Batu, Kota Batu.
Insiden kebakaran tersebut terdeteksi mulai berkobar pukul 09.30 WIB dan menghanguskan lahan seluas kurang lebih 600 meter persegi. Puluhan personel gabungan langsung dikerahkan ke lokasi kejadian untuk menjinakkan si jago merah agar tidak merambat semakin meluas ke kawasan pemukiman maupun area vegetasi lindung.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu, Suwoko, mengonfirmasi bahwa amukan api diduga kuat bersumber dari aktivitas pembakaran serasah di sekitar lokasi yang belum padam sempurna. Bara api yang tertinggal kemudian tertiup angin hingga membakar serasah kering di sekitarnya.
“Kebakaran diduga bermula dari pembakaran serasah yang masih menyisakan bara api. Bara tersebut kembali memicu timbulnya titik api baru dan merambat secara tidak terkendali ke vegetasi hutan pinus,” ujar Suwoko, Senin (5/10/2026).

PEMADAMAN: Personel BPBD Kota Batu bersama relawan dan masyarakat saat bahu membahu memadamkan karhutla di kawasan Gunung Panderman. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Proses penanggulangan dan pemadaman api di lapangan menghadapi kendala teknis yang tidak mudah. Topografi lokasi kebakaran yang berada di lereng curam serta jauh dari sumber pasokan air menyebabkan armada pemadam kebakaran maupun relawan tidak dapat mengandalkan semprotan air untuk menjangkau titik api.
Alhasil, pemadaman terpaksa dieksekusi secara manual. Tim gabungan bergotong royong membuat sekat bakar (ilaran) untuk memutus rantai pergerakan lidah api. Selain itu, petugas memanfaatkan sabetan ranting dan dedaunan basah (gepyok) untuk memadamkan kobaran api di beberapa titik krusial.
“Pemadaman dilakukan secara manual menggunakan teknik pembuatan ilaran atau sekat bakar, serta memanfaatkan teknik gepyok dedaunan basah untuk mematikan kobaran api,” tambahnya.
Berkat kesigapan dan sinergi tim gabungan, amukan api berhasil dipadamkan secara total sekitar pukul 12.00 WIB. Setelah api utama berhasil dipadamkan, petugas tetap disiagakan di lokasi untuk melakukan pemantauan dan pembasahan (cooling) guna mengantisipasi kemunculan titik asap kecil dari batang pohon yang telah lapuk.
Kawasan Petak 228A sendiri selama ini rutin dimanfaatkan oleh warga Dusun Toyomerto untuk mencari rumput gajah sebagai pakan ternak. Tinggi populasi dan aktivitas warga di sekitar kawasan hutan menjadi perhatian serius dalam upaya mitigasi pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Oleh karena itu, Perhutani bersama pemangku kepentingan terkait terus mengintensifkan sosialisasi dan edukasi pencegahan karhutla kepada masyarakat sekitar hutan, termasuk di wilayah Dusun Dresel dan Dusun Toyomerto.

Lebih lanjut, masyarakat maupun wisatawan yang beraktivitas di sekitar kawasan Gunung Panderman diimbau meningkatkan kewaspadaan ekstra. Warga dilarang keras membuka maupun membersihkan lahan pertanian dengan cara membakar (open burning).
Metode pembersihan lahan dengan media api dinilai sangat berisiko tinggi memicu kebakaran skala besar, terutama saat musim kemarau di mana bara api kecil dapat dengan cepat menjalar tertiup angin ke vegetasi kering di sekitarnya.
Dalam operasi pemadaman tersebut, puluhan personel lintas instansi diterjunkan, meliputi BPBD Kota Batu, Perhutani, Polsek Batu, Koramil, Pemerintah Desa Pesanggrahan, Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Pesanggrahan, LMDH Oro-Oro Ombo, Pengelola Basecamp Panderman, Agen Informasi Bencana Provinsi Jawa Timur, relawan, serta warga lokal.
Masyarakat diharapkan makin bijak dan menghentikan praktik pembakaran saat mengolah lahan. Pengelolaan lahan yang ramah lingkungan dan aman tanpa api menjadi kunci utama dalam menjaga kelestarian ekosistem Hutan Panderman. (Ananto Wibowo)




