MALANG POST – Ruang bioskop tak sekadar tempat hiburan, melainkan dapat ditransformasikan menjadi ruang belajar yang efektif untuk menanamkan karakter, kepedulian sosial, hingga kecintaan terhadap lingkungan sejak usia dini. Hal tersebut ditegaskan oleh Wali Kota Batu, Nurochman, usai menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) film Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua di Lippo Plaza Batu, Senin (27/7/2026).
Ruang bioskop tak sekadar menjadi tempat hiburan. Pemkot Batu ingin menjadikannya sebagai ruang belajar yang mampu menanamkan karakter, kepedulian sosial, hingga kecintaan terhadap lingkungan sejak usia dini.
Pesan itu disampaikan Wali Kota Batu, Nurochman, usai nonton bareng (nobar) film Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua di Lippo Plaza Batu, Senin (27/7/2026). Kegiatan tersebut diikuti oleh kepala SD dan SMP se-Kota Batu, jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD), serta manajemen produksi film.
Didampingi Wakil Wali Kota Heli Suyanto, Cak Nur, sapaan akrab Nurochman, menilai film memiliki kekuatan besar dalam menyampaikan pesan moral dengan cara yang lebih dekat dengan kehidupan anak-anak. Karena itu, media kreatif seperti film dinilai sangat layak dimanfaatkan sebagai bagian dari proses pembelajaran di sekolah.
“Melalui film ini kita diajak mencintai lingkungan, menjaga jati diri sebagai bangsa Indonesia, serta belajar tentang semangat, persahabatan, dan kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai seperti inilah yang perlu terus ditanamkan sejak dini di sekolah maupun lingkungan keluarga,” ujarnya.
Menurut dia, pendidikan tidak cukup hanya mengejar capaian akademik semata. Sekolah juga memiliki tanggung jawab membentuk karakter peserta didik agar tumbuh menjadi generasi yang peduli terhadap sesama, mencintai lingkungan, serta menghargai budaya dan keberagaman Indonesia.

NOBAR: Wali Kota Batu Nurochman bersama Wakil Wali Kota Batu saat nobar bersama Kepala Sekolah SD dan SMP se Kota Batu. (Foto: Ananto Wibowo / Malang Post)
Karena itu, Cak Nur berharap para kepala sekolah mulai membuka ruang pembelajaran yang lebih kreatif. Film, menurutnya, dapat menjadi media refleksi sekaligus sarana diskusi yang mampu membangun empati siswa terhadap berbagai persoalan sosial maupun lingkungan.
“Kami ingin pendidikan karakter tidak hanya diajarkan lewat teori, tetapi juga melalui pengalaman yang menyentuh emosi anak-anak,” imbuhnya.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi wujud kolaborasi nyata antara pemerintah daerah, dunia pendidikan, dan industri kreatif dalam menghadirkan materi pembelajaran yang relevan dengan tantangan generasi muda saat ini.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu, M. Nur Adhim, menilai film tersebut sarat akan pesan edukatif, terutama mengenai pentingnya menjaga kelestarian hutan.
“Film ini sangat inspiratif. Anak-anak diajak memahami bahwa menjaga hutan berarti menjaga kehidupan,” katanya.
Angkat Isu Lingkungan dan Masyarakat Adat Papua
Film Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua mengusung genre drama keluarga dan petualangan anak. Ceritanya memadukan kisah persahabatan, musik, budaya lokal Papua, serta isu pelindungan hutan dan krisis iklim dalam balutan narasi yang ringan.
Melalui sudut pandang anak-anak, film ini mengangkat persoalan hak masyarakat adat, ancaman terhadap hutan hujan Papua, hingga pentingnya menjaga alam tanpa terkesan menggurui.
Tokoh utama Maira, gadis adat berusia 12 tahun, digambarkan berjuang mempertahankan hutan dan kampung halamannya. Perjalanannya berubah ketika bertemu Tegar, bocah asal kota berusia 11 tahun yang mengenal Papua dari cerita almarhum kakeknya.
Persahabatan keduanya berkembang menjadi perjuangan bersama menghadapi ancaman korporasi terhadap hutan hujan sakral yang menjadi sumber kehidupan masyarakat adat.
Lewat kisah tersebut, Pemkot Batu berharap pesan tentang kepedulian lingkungan, keberanian, toleransi, dan semangat pantang menyerah dapat lebih mudah diterima peserta didik, sekaligus memperkuat pendidikan karakter di Kota Batu. (Ananto Wibowo/Ra Indrata)




