DUEL: Marcos Santos, didampingi Julian Guevara yang juga bertindak sebagai penterjemah, saat pre-match press conference di Bandung. (Foto: Arema Official)
MALANG POST – Pelatih Arema FC Marcos Santos menegaskan kesiapan timnya, menghadapi Persib Bandung pada laga perdana Piala Presiden 2026 di Stadion Si Jalak Harupat, Sabtu (25/7/2026), dengan menekankan pentingnya persatuan tim, tanpa membeda-bedakan pemain asing maupun lokal.
Laga pembuka langsung disuguhi bentrokan dua raksasa.
Sabtu (25/7/2026) esok, Arema FC bakal menjajal ketangguhan Persib Bandung di Stadion Si Jalak Harupat. Ini adalah duel emosional di panggung pembuka Piala Presiden 2026.
Singo Edan datang membawa status mentereng: kolektor trofi Piala Presiden terbanyak. Namun sang arsitek asal Brasil, Marcos Vinicius dos Santos Goncalves, emoh tinggi hati.
Di mata pelatih berlisensi Pro Conmebol itu, Persib bukanlah lawan sembarangan. Maung Bandung adalah kekuatan menakutkan yang sudah membuktikan diri tiga kali memeluk gelar juara kasta teratas sepak bola Indonesia.
“Ini sangat sulit. Kami akan menghadapi juara tiga kali Super League langsung di laga perdana. Mereka tim yang terlatih sangat baik selama tiga tahun oleh pelatih yang sama,” tutur Marcos Santos lugas.
Santos sadar betul. Kendati skuat Persib mengalami banyak perubahan, fondasi mereka tetap kokoh. Pemain-pemain kunci musim lalu masih bertahan.
Namun bagi Singo Edan, tidak ada kata menyerah sebelum bertanding. Arema ingin menjaga nama besar.
“Kami melanjutkan apa yang sudah ada dari musim lalu. Kami berharap tim ini terus berkembang, dapat mewakili pendukung kami dengan baik, serta menjaga nama besar Arema,” tegasnya.
Laga esok juga bakal menyajikan aroma samba yang amat kental. Kedua tim sama-sama mengandalkan legiun asing asal Brasil.
Persib punya empat senjata menakutkan asal Negeri Samba: Ramon Tanque, Uilliam Barros, Berguinho dan Júlio César.
Marcos Santos mengaku paham betul kualitas pemain-pemain tersebut. Ia sudah sering berhadapan dengan mereka, baik saat masih di Brasil maupun pada kompetisi musim lalu.
“Empat pemain Brasil di Bandung itu luar biasa. Saya sudah mengenal dan sering menghadapi mereka. Tapi ini adalah globalisasi sepak bola,” ujar Marcos Santos.
Pertanyaan pun mencuat: mengapa Arema FC juga memborong banyak pemain Brasil musim ini? Apakah Arema akan membentuk “geng Brasil” di dalam ruang ganti?
Jawaban Marcos Santos sangat menohok.
Di bawah kendalinya, tak ada istilah pengelompokan berdasarkan kewarganegaraan. Tidak ada kelompok Brasil, tidak ada kelompok Kolombia, dan tidak ada kelompok pemain lokal.
“Di Arema tidak ada kelompok-kelompok kecil. Ini hanya ada satu grup. Bukan pemain Brasil, bukan pemain Kolombia, bukan pemain lokal. Kita memiliki satu grup yang kuat,” tegasnya membakar semangat.
Bagi Santos, paspor atau asal negara bukanlah jaminan tempat utama. Siapa pun yang siap, dialah yang diturunkan.
“Entah itu pemain Brasil, Kolombia, atau lokal, yang akan bermain adalah mereka yang berada dalam kondisi terbaik. Pemain yang bisa memanfaatkan kesempatan dan menyatu dengan model permainan Arema,” tambahnya.
Arema FC datang ke Bandung bukan untuk bernostalgia dengan gelar-gelar lama. Mereka datang dengan filosofi baru: satu tim, satu tujuan. Dan ujian pertamanya dijajal esok di Si Jalak Harupat. (Ra Indrata)




