KOMPAK: Peserta dan tim pelaksana berfoto bersama dalam Workshop AI-Powered Public Relations di FISIP Universitas Brawijaya. (Foto: FISIP UB)
MALANG POST – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB), menggelar pelatihan AI-Powered Public Relations bagi para praktisi hubungan masyarakat (humas) se-Malang Raya. Kegiatan ini bertujuan mengedukasi insan humas, agar mampu memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan big data secara optimal tanpa mengesampingkan etika serta empati manusia.
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB) mengedukasi para praktisi hubungan masyarakat (humas) mengenai pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tanpa mengesampingkan nilai-nilai etika dan empati manusia.
Ketua Tim Pelaksana Pengabdian kepada Masyarakat FISIP UB 2026, Dr. Maulina Pia Wulandari, S.Sos., M.Kom., dalam keterangannya menyampaikan bahwa penggunaan teknologi AI tidak seharusnya dipandang sebagai pengganti peran sentral manusia dalam proses komunikasi publik.
“Teknologi dapat membantu kita membaca jutaan data dalam waktu singkat, tetapi angka tidak selalu mampu menjelaskan keseluruhan pengalaman dan rasa manusia. Praktisi humas tetap sangat dibutuhkan untuk memahami konteks, mengenali emosi publik, serta memastikan keputusan komunikasi dilakukan secara akurat, etis, dan penuh empati,” ujar Pia, Rabu (22/7/2026).
Pia menjelaskan, AI perlu ditempatkan sebagai alat bantu (tools) untuk mempercepat efisiensi kerja dan memperoleh gambaran awal dinamika opini publik. Namun, verifikasi manusia tetap mutlak diperlukan untuk memahami sarkasme, bahasa lokal, konteks sosial, maupun nuansa komunikasi intuitif yang belum tentu dapat dibaca oleh algoritma.

PEMATERI: Maulina Pia Wulandari, S.Sos., M.Kom., Ph.D., menyampaikan materi mengenai pemanfaatan AI, social media listening, dan Big Data dalam praktik kehumasan. (Foto: FISIP UB)
Ia menambahkan, pesatnya perkembangan media digital membuat isu menyebar sangat cepat. Kemampuan melakukan pemantauan media sosial (social media listening) kini menjadi bagian krusial dari pengelolaan komunikasi agar organisasi dapat mengenali isu sejak dini dan mencegah krisis reputasi.
Materi teknis tersebut dipaparkan dalam lokakarya bertajuk “AI-Powered Public Relations: A Workshop on Social Media Listening with Big Data Analytics” yang berlangsung selama dua hari di Gedung C FISIP UB, Malang.
Pelatihan ini dirancang untuk membantu praktisi humas memanfaatkan AI dan analitik big data dalam memantau percakapan publik, membaca arah sentimen, serta merumuskan rekomendasi strategi komunikasi berbasis data yang relevan bagi organisasi.
Selama pelatihan, para peserta mengikuti simulasi situasi nyata, seperti menentukan kata kunci pemantauan, mengidentifikasi tren, memetakan aktor berpengaruh (key opinion leaders), hingga menyusun respons awal krisis menggunakan teknik prompt engineering secara kritis.
Kegiatan ini merupakan bagian dari peta jalan (roadmap) Pengabdian kepada Masyarakat FISIP UB di bidang Digital Public Relations yang telah konsisten berjalan sejak 2024.
Dalam pelaksanaannya, FISIP UB berkolaborasi dengan Perhumas BPC Malang Raya, Parimaya, Kazee Digital, dan RVARE untuk memberikan perpaduan komprehensif antara perspektif akademis dan pengalaman praktis industri.
“Kolaborasi antara perguruan tinggi, organisasi profesi, dan industri menjadi langkah penting agar pengembangan kompetensi humas dapat terus mengikuti perubahan lanskap komunikasi yang berlangsung sangat cepat,” pungkas Pia. (M. Abd. Rachman Rozzi / Januar Triwahyudi)




