MALANG POST – Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPKO) Dewan Mahasiswa Fakultas (DMF) Sastra Universitas Negeri Malang (UM), menggelar pelatihan perancangan motif batik berbasis relief Candi Kidal di Balai Desa Kidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, pada Senin (23/6/2026). Diikuti lebih dari 20 warga setempat, kegiatan pemberdayaan berbasis ekonomi kreatif ini, sengaja membidik visual fragmen ikonik seperti Garudeya, untuk dikembangkan menjadi komoditas wirausaha baru yang memiliki identitas khas daerah sekaligus bernilai ekonomi tinggi.
Universitas Negeri Malang (UM) melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPKO) Dewan Mahasiswa Fakultas (DMF) Sastra menggelar pelatihan perancangan motif batik berbasis relief Candi Kidal. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat berbasis kearifan lokal.
Kegiatan yang berlangsung di Balai Desa Kidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, pada Senin (23/6/2026) tersebut diikuti lebih dari 20 warga dan menjadi langkah awal dalam mengembangkan desa wirausaha berbasis ekonomi kreatif.
Pelatihan ini dirancang untuk menghubungkan pelestarian warisan budaya dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Melalui penciptaan motif batik yang terinspirasi dari relief Candi Kidal, warga didorong menghasilkan produk kreatif yang memiliki identitas khas daerah sekaligus bernilai ekonomi.
Kepala Desa Kidal, Ahmad Taufik, membuka kegiatan sekaligus menyampaikan apresiasinya terhadap kolaborasi yang terjalin antara mahasiswa UM dan masyarakat. Menurutnya, kekayaan sejarah yang dimiliki Desa Kidal perlu dimanfaatkan sebagai sumber inspirasi produk unggulan agar mampu memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan bagi warga.
Sebagai narasumber, dosen Departemen Seni dan Desain UM, Andreas Syah Pahlevi, S.Sn., M.Sn., membimbing peserta mengenali karakter visual relief Garuda yang terdapat di Candi Kidal. Selanjutnya, peserta diajak mengembangkan unsur-unsur visual tersebut menjadi rancangan motif batik tanpa menghilangkan makna filosofis maupun ciri khas budaya lokal.

Selama pelatihan, peserta tidak hanya memperoleh materi mengenai sejarah batik dan potensi industri kreatif, tetapi juga mempelajari teknik mengolah kekayaan budaya desa menjadi desain motif yang bernilai jual. Setelah sesi pemaparan materi, peserta mengikuti praktik menggambar motif dengan pendampingan hingga menghasilkan berbagai rancangan batik khas Desa Kidal.
Andreas menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan tahap awal dari program pendampingan yang akan terus berlanjut. Menurutnya, motif-motif yang telah dirancang diharapkan dapat dikembangkan menjadi produk ekonomi kreatif yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Kidal.
Antusiasme warga terlihat selama kegiatan berlangsung. Salah satu peserta, Laily, berhasil memadukan unsur sayap Garudeya, relief Tirta Amerta, serta kesenian Kuda Lumping ke dalam satu desain motif batik. Ia mengaku pelatihan tersebut memberikan wawasan baru mengenai pemanfaatan potensi budaya lokal sebagai sumber inspirasi dalam menciptakan produk kreatif.
“Pelatihan ini sangat bermanfaat untuk menambah pengetahuan kami dalam membuat motif batik. Ke depan, saya berharap ada pelatihan lanjutan yang memanfaatkan teknologi agar proses produksi batik menjadi lebih cepat dan efisien,” ujar Laily.
Ketua Tim PPKO DMF Sastra UM menjelaskan bahwa pendampingan tidak berhenti pada proses perancangan motif. Seluruh desain yang dihasilkan masyarakat akan diarahkan menuju proses legalisasi sebagai hak kekayaan intelektual (HAKI) motif batik khas Desa Kidal. Langkah ini bertujuan memberikan perlindungan hukum terhadap karya yang dihasilkan sekaligus meningkatkan nilai komersial dan daya saing produk batik lokal.
Program tersebut diharapkan mampu memperkuat identitas budaya Desa Kidal sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat. Sinergi antara mahasiswa, akademisi, pemerintah desa, dan warga menjadi fondasi penting dalam membangun ekonomi lokal yang berkelanjutan tanpa mengabaikan pelestarian nilai-nilai sejarah dan budaya.
Pelaksanaan PPKO DMF Sastra UM juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui penguatan sektor ekonomi kreatif, SDG 11 tentang Kota dan Permukiman Berkelanjutan melalui pelestarian warisan budaya, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat. (M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




