KE LAPANGAN: Didampingi jajaran terkait di Pemkab Malang, Bupati Sanusi meninjau kondisi SDN 2 Pakisjajar yang sudah lapuk di makan usia. (Foto: Prokopim Sekda Kab Malang)
MALANG POST – Bupati Malang, HM. Sanusi, didampingi Sekretaris Daerah Kabupaten Malang, Budiar Anwar, meninjau langsung kondisi bangunan tua yang rusak di SDN 2 Pakisjajar, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, pada Kamis (9/7/2026) sore, guna mengambil keputusan berupa pengosongan ruang kelas, demi keselamatan siswa serta merencanakan pembongkaran total untuk dibangun kembali menjadi gedung bertingkat pada tahun 2027.
Mengurus masa depan anak bangsa itu tidak boleh setengah-setengah. Fasilitas belajarnya harus aman. Kalau kondisi gedung sekolah sudah mulai reot dan membahayakan nyawa, pemerintah tidak boleh sedetik pun tutup mata. Harus ada tindakan nyata, cepat, dan berani di lapangan.
Prinsip keselamatan itu yang dibawa oleh Bupati Malang, HM Sanusi, Kamis (9/7/2026) sore. Sanusi tidak mau sekadar menerima laporan di atas meja kerjanya. Ia memilih turun langsung ke lapangan. Didampingi Sekretaris Daerah Budiar, Sanusi menyisir sudut-sudut bangunan yang mulai ringkih di SDN 2 Pakisjajar, Kecamatan Pakis.
Ikut berbaris dalam rombongan sore itu jajaran kepala perangkat daerah Kabupaten Malang, pejabat Dinas Pendidikan, Camat Pakis, hingga unsur Forkopimcam Pakis.
Hasil pantauan Sanusi? Kondisi bangunan memang sudah uzur. Dimakan usia. Kerusakan di sana-sini tidak bisa lagi ditutupi dengan sekadar tambal sulam semen. Harus dirombak total.
Sanusi langsung mengambil keputusan besar. Gedung sekolah tua itu akan dibongkar habis. Diratakan dengan tanah. Di atas lahan itu, Pemkab Malang akan mendirikan gedung baru yang jauh lebih megah. Waktu eksekusinya sudah dikunci: tahun 2027.

PERINTAH: Bupati Sanusi saat menerima laporan dari tenaga pendidik di SDN 2 Pakisjajar, menyangkut banyaknya ruang kelas yang rusak karena tua dan berbahaya untuk proses belajar mengajar. (Foto: Prokopim Sekda Kab Malang)
Menariknya, konsepnya diubah. Sanusi tidak mau membangun gedung satu lantai lagi. SDN 2 Pakisjajar akan disulap menjadi gedung bertingkat. Ini cara cerdas Sanusi untuk menyelesaikan dua masalah sekaligus: membuang risiko roboh, sekaligus membereskan urusan keterbatasan ruang belajar yang selama ini membuat pusing pihak sekolah.
“Bangunan SDN 2 Pakisjajar ini sudah cukup tua, sehingga perlu dilakukan penanganan secara menyeluruh. Insyaallah pada tahun 2027 akan kita bangun kembali. Bangunan lama akan dibongkar dan nantinya dibangun menjadi gedung bertingkat agar dapat menambah ruang kelas,” kata Sanusi di sela peninjauan.
Bagi Sanusi, proyek 2027 nanti akan memberikan dua keuntungan nyata bagi warga Pakisjajar. “Selain mendapatkan bangunan yang lebih aman dan representatif, kebutuhan ruang belajar yang selama ini masih kurang juga dapat terpenuhi,” tambahnya.
Lalu, bagaimana nasib para siswa menjelang tahun 2027? Masih ada waktu satu tahun lebih. Apakah mereka dibiarkan bertaruh nyawa di bawah atap yang rapuh?
Sanusi menggeleng tegas. Perintahnya keluar sore itu juga: kunci pintu kelas yang rusak. Jangan ada aktivitas apa pun di dalam bangunan tua tersebut. Keselamatan peserta didik, guru, hingga tenaga kependidikan adalah harga mati yang tidak bisa ditawar dengan alasan apa pun.
“Untuk sementara, ruang kelas di bangunan lama tidak digunakan terlebih dahulu karena kami mengutamakan keselamatan siswa dan para guru. Nanti akan diatur mekanisme kegiatan belajar mengajarnya agar tetap berjalan dengan baik sampai pembangunan dilaksanakan,” tegas Sanusi.
Bagaimana teknis pembagian kelasnya? Dinas Pendidikan kini punya pekerjaan rumah untuk mengatur jadwal dan sif belajar mengajar agar anak-anak Pakis tetap bisa melahap pelajaran dengan tenang tanpa dihantui rasa waswas kejatuhan genteng.
Bagi Pemkab Malang, urusan membenahi sarana pendidikan adalah investasi wajib untuk mendongkrak kualitas sumber daya manusia di Kabupaten Malang.
Melalui peninjauan taktis sore ini, proses perencanaan diharapkan menggelinding cepat tanpa hambatan birokrasi. Kita tunggu saja tahun depan, janji bertingkat itu harus mewujud menjadi tempat belajar yang aman bagi anak-anak di Pakis. (PKP/Ra Indrata)




