MALANG POST – PT Bina Insani Sukses Amalia (BISA) sukses menggelar BISA Prime Tennis Tournament perdana, di Lapangan Tenis Cakrawala Universitas Negeri Malang (UM) yang berakhir pada Minggu (5/7/2026). Turnamen yang diikuti oleh 180 peserta dari berbagai daerah seperti Jawa Timur, Bandung, hingga Yogyakarta ini, tidak sekadar memperebutkan total hadiah Rp30 juta, melainkan sengaja dirancang oleh Direktur Utama PT BISA, Mukhlis Fauzi, sebagai wadah rutin untuk menumbuhkan budaya sportivitas dan integritas tinggi di dunia olahraga.
Ternyata gairah tenis lapangan di Malang sedang bagus-bagusnya. Tengok saja apa yang terjadi di Lapangan Tenis Cakrawala Universitas Negeri Malang (UM) kemarin. Riuh. Ramai.
Lapangan dipadati oleh para pencinta olahraga ini. Mereka berkumpul dalam ajang bertajuk BISA Prime Tennis Tournament.
Siapa sangka, turnamen yang berlangsung seru ini awalnya lahir dari obrolan sederhana.
Mukhlis Fauzi, Direktur Utama PT Bina Insani Sukses Amalia (BISA), menceritakan kisah di baliknya. “Awalnya kami hanya ingin mewadahi teman-teman yang memiliki hobi yang sama, yaitu tenis,” ujarnya, Minggu (5/7/2026).
Dari sekadar ingin kumpul-kumpul sesama penghobi, mulai dari kelas beginner hingga novice, ternyata gayung bersambut.
Antusiasmenya menggelinding bak bola salju. Meledak menjadi turnamen besar.
Tidak tanggung-tanggung. Sebanyak 180 peserta langsung mendaftar. Mereka bukan hanya arek-arek Jawa Timur. Ada yang jauh-jauh datang dari Bandung. Ada juga yang dari Yogyakarta. Semua datang membawa raket, berebut total hadiah uang tunai senilai Rp30 juta.
Namun, bagi Mukhlis, esensi turnamen ini jauh di atas urusan menang-kalah atau sekadar hadiah uang. Ada nilai yang jauh lebih mahal: menegakkan aturan main.
Sepanjang turnamen, Mukhlis mengaku sangat puas melihat jalannya pertandingan. Panitia dan perangkat pertandingan bekerja tegak lurus. Profesional. Tanpa pandang bulu.
“Yang membuat saya senang, aturan benar-benar ditegakkan. Kalau memang salah ya salah, tidak melihat siapa orangnya,” tegas Mukhlis dengan nada puas.
Baginya, itulah ruh dari olahraga.
Sebagai bos dari PT BISA—sebuah lembaga pelatihan—Mukhlis memang punya misi khusus. Dia ingin menularkan nilai utama lembaga yang dipimpinnya ke dalam lapangan tenis.
Nilai itu adalah integritas dan kejujuran. Lewat sportivitas di lapangan, wujud nyata integritas itu bisa langsung dipraktikkan.
Tentu, sebagai gelaran perdana, Mukhlis sadar betul tidak ada gading yang tak retak. Masih ada kurang di sana-sini. Tapi dia tidak mau ambil pusing secara negatif. Kekurangan itu justru dicatat baik-baik sebagai bahan evaluasi.
Satu hal yang pasti: turnamen ini bukan yang terakhir.
Melihat animo peserta yang melesat jauh di atas perkiraan, Mukhlis langsung pasang target baru. Dia optimistis. Ke depan, PT BISA akan menggandeng banyak mitra untuk memutar turnamen ini secara rutin.
Olahraga lain memang bisa saja dikolaborasikan nanti, namun tenis akan tetap menjadi menu utama yang paling dijaga kelanjutannya.
Dari Lapangan Cakrawala UM, sebuah tradisi baru olahraga berbasis integritas tampaknya baru saja dimulai. (Ra Indrata)




