MALANG POST – Langkah Timnas Brasil resmi terhenti di babak 16 besar Piala Dunia 2026, setelah ditumbangkan secara mengejutkan oleh Norwegia dengan skor 1-2 di Stadion New York/New Jersey pada Senin (6/7/2026) dini hari WIB. Kegagalan tragis skuad asuhan Carlo Ancelotti ini, dipicu oleh dua gol penyerang maut Erling Haaland yang gagal dibendung oleh pertahanan Selecao hingga menit-menit akhir pertandingan.
Sepak bola selalu punya cara sendiri untuk memeras emosi. Senin dini hari tadi, Stadion New York/New Jersey menjadi saksinya. Raksasa sepak bola dunia, Brasil, harus mengepak koper lebih cepat. Mereka tersingkir dari Piala Dunia 2026. Tragisnya, yang menendang mereka adalah Norwegia. Skornya tipis, 1-2. Tapi dampaknya luar biasa dahsyat bagi publik bola di seantero jagat.
Bagi pendukung Selecao, ini bukan sekadar kalah. Ini adalah aib sejarah yang terulang.
Sudah sangat lama Brasil tidak merasakan perihnya gugur di babak 16 besar. Terakhir kali memori kelam itu terjadi pada Piala Dunia 1990 di Italia. Waktu itu, Diego Maradona dan Argentina yang menjadi momoknya.
Setelah itu? Brasil selalu punya tradisi lolos ke perempat final. Bahkan sempat juara di tahun 2002. Tapi setelah generasi Ronaldo Gundul berlalu, prestasi terbaik mereka hanyalah semifinalis saat menjadi tuan rumah tahun 2014—itu pun berakhir dengan tragedi 1-7 dari Jerman. Selepas itu, Brasil akrab dengan babak perempat final pada edisi 2006, 2010, 2018, dan 2022.
Kini, di tahun 2026, jangankan semifinal, perempat final pun tak kesampaian. Rekor buruk 36 tahun lalu itu justru pecah di tangan Norwegia.
Aktor utamanya? Siapa lagi kalau bukan Erling Haaland. Penyerang bertubuh raksasa itu benar-benar menjadi pembeda.
Pertandingan sebenarnya berjalan ketat. Jual beli serangan terjadi. Namun, petaka bagi Brasil baru benar-benar terasa saat pertandingan memasuki fase-fase krusial. Andreas Schjelderup mengirim umpan matang, dan Haaland menyambutnya dengan sundulan mematikan. Gol. Brasil tertinggal saat waktu sudah mulai menipis.
Anak-anak Brasil panik. Mereka mencoba mengurung pertahanan Norwegia. Vinicius Junior, Endrick, hingga Neymar terus memutar otak membongkar grendel lawan. Tapi tembok Norwegia malam itu begitu kokoh.
Malapetaka justru kembali datang tepat di menit ke-90. Lewat skema yang hampir mirip, Schjelderup kembali memanjakan Haaland di depan kotak penalti. Dengan dingin, Haaland melepaskan tendangan kaki kiri yang terarah. Gol kedua tercipta. Skor 2-0 membuat pendukung Brasil di stadion langsung lesu.
Brasil baru bisa membalas di masa injury time. Tepatnya di menit ke-90+10, Neymar mencetak gol lewat titik putih. Tapi gol itu sudah sangat terlambat. Peluit panjang berbunyi tak lama kemudian. Skor 1-2 bertahan. Norwegia bersorak merayakan tiket perempat final pertama mereka sepanjang sejarah, sementara Brasil tertunduk lesu.
Kegagalan ini tentu menjadi tamparan keras untuk Carlo Ancelotti. Pelatih top asal Italia itu didatangkan dengan ekspektasi langit: mengembalikan DNA juara Brasil di Piala Dunia. Padahal, Brasil punya banyak momentum. Di babak pertama, mereka bahkan sempat mendapat hadiah penalti lewat Bruno Guimaraes, namun gagal berbuah gol.
Rencana besar Ancelotti buyar. Harapan publik Brasil pun musnah lebih cepat di tanah Amerika. Sebaliknya, bagi Norwegia, ini adalah dongeng indah yang menjadi kenyataan. (Ra Indrata)




