PENULIS: Duo jurnalis senior, Imung Mulyanto dan Sasetya Wilutama menunjukkan novel "Gemblak Terakhir". (Foto: Sugeng Irawan/Malang Post)
MALANG POST – Angkat dinamika relasi kuasa warok dan gemblak Ponorogo, duet jurnalis senior Imung Mulyanto dan Sasetya Wilutama, luncurkan novel Gemblak Terakhir di Blitar pada Jumat (21/8/2026).
Gemblak Terakhir. Itulah judul novel terbaru karya Imung Mulyanto dan Sasetya Wilutama, dua jurnalis senior Jawa Timur. Novel ini dijadwalkan meluncur secara resmi di Blitar pada Jumat (21/8/2026).
Novel berlatar budaya ini diharapkan dapat memperkaya khazanah kesusastraan Indonesia melalui kisah kehidupan warok dan gemblak pada masa lalu.
“Sebagai karya fiksi, kisah dalam novel ini murni hasil imajinasi. Jika ada kesamaan nama, tempat, dan cerita, hal itu hanyalah kebetulan semata,” tutur Sasetya Wilutama, mantan Redaktur Majalah Berbahasa Jawa Penyebar Semangat dan Produser Kreatif SCTV.
Alur cerita novel ini terbilang berliku dengan penokohan yang unik. Konflik dibangun secara bersambung guna menjaga ritme bacaan, dibumbui dinamika percintaan dan kriminalitas.

Novel ‘Gemblak Terakhir’ yang akan diluncurkan di Blitar, akhir Agustus 2026. (Foto: Istimewa)
Inti ceritanya menyoroti perjuangan seorang gemblak yang ingin menjadi guru. Namun, perjuangan tersebut dipenuhi hambatan, terlebih saat ia berhadapan dengan warok yang kurang bijaksana serta intrik cinta segitiga dari istri warok itu sendiri.
Novel ini disajikan dengan gaya bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Latar belakang kedua penulis sebagai insan pers media cetak dan televisi membuat karakter penulisan jurnalistik yang lugas tetap terasa padat.
Meski demikian, penulis menegaskan komitmen mereka dalam menjunjung tinggi nilai budaya luhur Nusantara. Penghormatan terhadap sosok warok yang sejatinya merupakan figur ksatria dan panutan masyarakat tetap dijaga.
“Jika di dalam novel ini digambarkan ada oknum warok yang kurang baik, itu tidak dalam rangka mendegradasi derajat dan marwah warok. Sebagaimana profesi lain seperti guru atau dokter, kadang ada oknum yang melenceng. Jadi tidak boleh digebyah-uyah,” ujar Sasetya.
Imung Mulyanto, mantan GM Arek TV, menjelaskan bahwa gagasan cerita ini pernah diangkat dalam format sinetron oleh TVRI Jawa Timur pada awal 1990-an dengan sponsor Harian Sore Surabaya Post, serta sempat masuk nominasi cerita terbaik dalam Festival Film Indonesia (FFI).
“Namun, versi novel ini dipoles lebih bebas dan mendalam karena tidak terikat oleh durasi sebagaimana sebuah sinetron,” ungkap mantan wartawan Surabaya Post tersebut.
Penerbit MejaTamu mengemas novel Gemblak Terakhir secara ringkas setebal xii+82 halaman dengan ukuran 14 cm x 20 cm.
Penyunting novel Gemblak Terakhir, Adriono, mengatakan bahwa memori kolektif masyarakat merupakan sumber inspirasi tak pernah kering bagi lahirnya karya sastra, baik berupa kearifan lokal, legenda, gugon tuhon, maupun mitos.
“Semua kekayaan itu memberikan muatan filosofis serta memberikan warna (color) yang menarik. Memori kolektif membuat cerita fiksi terasa nyata, tokoh-tokohnya membumi, dan relevan dengan alam pikiran pembaca,” paparnya.
Adriono mencontohkan sejumlah karya sastra legendaris berlatar budaya lokal, seperti Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, Para Priyayi karya Umar Kayam, Gadis Kretek karya Ratih Kumala, serta Tarian Bumi karya Oka Rusmini. Bahkan dunia perfilman juga menerapkan formula serupa, seperti film Pangku karya sutradara Reza Rahadian.
Novel Gemblak Terakhir secara khusus mengakar pada memori kolektif masyarakat Ponorogo dan sekitarnya. Warok dikenal sebagai tokoh masyarakat informal, pendekar, sekaligus pelestari seni Reog Ponorogo. Sementara gemblak merupakan remaja laki-laki yang dididik dan didampingi secara khusus oleh warok dengan relasi sosial dan spiritual yang kompleks.
“Keberhasilan novel ini terletak pada integrasi budaya warok dan gemblak yang tidak sekadar menjadi tempelan, melainkan menyatu (blended) dengan inti cerita,” puji Adriono.
Dalam Gemblak Terakhir, pembaca disuguhi dinamika relasi kuasa antara warok berotoritatis dan bermodal ekonomi melawan keterbatasan warga kurang mampu, dilema etik pers, hingga pertarungan fisik dan spiritual.
Penyampaian yang populer dan ritme cerita yang cepat membuat buku ini menjadi bacaan yang mengalir. “Serasa menyaksikan sinetron televisi melalui kata-kata. Saya pribadi sangat menikmati novel ini saat penyuntingan naskah,” pungkas budayawan sekaligus jurnalis asal Lawang, Kabupaten Malang tersebut. (*/Sugeng Irawan)




