MALANG POST – Kota Wisata Batu di musim libur sekolah selalu punya cerita yang sama: magnetnya begitu kuat, tapi jalanannya begitu sempit. Begitu kalender menunjukkan tanggal merah yang panjang, aspal jalanan di kota dingin ini langsung berubah menjadi lautan kendaraan.
Namun, ada yang unik dari gelombang kaum urban pada musim liburan Juni hingga Juli 2026 ini. Karakter pelancongnya telah berubah total.
Jika pada bulan Mei lalu jalanan dikuasai oleh deretan bus pariwisata berukuran raksasa, kini Kota Batu justru dikepung oleh ribuan mobil pribadi. Ini adalah musimnya liburan keluarga. Dampaknya langsung terasa di jalur aspal: volume kendaraan melonjak tajam, memicu antrean panjang yang menguji kesabaran di setiap persimpangan utama.
Sengkarut manajemen lalu lintas dan dinamika pariwisata ini dikupas tuntas dalam program talk show Idjen Talk yang disiarkan langsung oleh Radio City Guide 911 FM pada Jumat (3/7/2026) hari ini. Otoritas kepolisian, dinas pariwisata, hingga pelaku industri wahana buatan blak-blakan merinci strategi agar kota tidak mendadak lumpuh.
Kepala Bidang Pemasaran Disparta Kota Batu, Farida Anifah, menyodorkan data lonjakan pelancong yang masuk ke wilayahnya.
“Memasuki libur panjang sekolah ini, terjadi peningkatan kunjungan wisata antara 30 hingga 40 persen jika dibandingkan dengan akhir pekan (weekend) biasa. Koordinasi ketat dengan Dishub dan Polres Batu sudah kami kunci sejak awal untuk mengantisipasi kepadatan arus,” urai Farida.
Pagar Betis Polisi di Empat Titik Horor
Jeruji kemacetan itu sudah dipetakan dengan rapi. Kasat Lantas Polres Batu, AKP Matheus Jaka, menegaskan bahwa personelnya kini disiagakan penuh untuk melakukan pagar betis di empat titik krusial pintu masuk kota.
“Atensi utama kami ada di Simpang 4 Arhanud, Simpang 3 Pendem, Simpang 3 Bendo, dan kawasan Taman Makam Pahlawan (TMP). Titik-titik ini adalah leher botol arus kendaraan dari luar daerah,” jelas AKP Jaka.
Selain menyiagakan personel di jam-jam rawan macet, polisi siap mengambil langkah manual: mengubah mode lampu lalu lintas menjadi flashing (kedip kuning) jika antrean kendaraan sudah tidak masuk akal.
Jalur-jalur menuju destinasi favorit seperti Jatim Park, Batu Love Garden (Baloga), Santerra de Laponte, hingga Eco Green Park (Mikutopia) turut dijaga ketat. Antisipasi kecelakaan rem blong juga digencarkan. “Kami bersama Dishub menyisir tempat parkir wisata untuk melakukan ramp check atau uji kelayakan bus pariwisata yang tersisa. Keselamatan nyawa tidak boleh ditawar,” tegasnya.
Bergesernya Selera Turis ke Tempat Baru
Dinamika di dalam wahana pun tidak kalah sengit. Marketing and Public Relation Manager Jatim Park Group, Titik Ariyanto, membeberkan fakta lapangan bahwa euforia bulan Juni-Juli ini sebenarnya tidak sepadat bulan Mei lalu yang dipenuhi rombongan anak sekolah.
“Bulan Mei itu masanya bus-bus besar. Kami bahkan pernah menerima sampai 40 bus dalam sehari di satu titik. Kalau sekarang didominasi mobil pribadi keluarga,” kata Titik.
Tantangan terbesar Jatim Park Group saat ini adalah kejenuhan pasar. Konsumen masa kini jauh lebih genit; mereka sangat mudah tergoda oleh kehadiran destinasi-destinasi wisata baru yang viral di media sosial.
“Kuncinya adalah inovasi dan pembaruan wahana secara terus-menerus. Kami juga memperluas kolaborasi dengan perhotelan dan pelaku atraksi lain untuk menjual paket bundling terpadu. Dari segi harga, paket keroyokan ini jauh lebih murah dan opsinya lebih banyak bagi konsumen,” jelas Titik yang terpaksa merekrut tenaga kerja temporer tambahan demi menjaga kenyamanan pelayanan selama musim liburan ini.
Jika sebuah destinasi sudah terlanjur penuh sesak (overcapacity), Disparta sudah menyiapkan rencana darurat. Petugas di lapangan akan langsung mengarahkan kendaraan wisatawan untuk berbelok menuju destinasi alternatif lain yang masih longgar.
Kota Batu sudah kadung basah sebagai kota pelesiran. Ledakan 40 persen kunjungan adalah berkah bagi pundi-pundi daerah, namun sekaligus menjadi ujian konsistensi bagi wibawa petugas di jalan raya. Skenario rekayasa lalu lintas sudah digelar di Pendem dan Bendo, kini publik tinggal melihat ketangkasan aparat di lapangan: mampu mengurai kemacetan mobil pribadi dengan taktis, atau membiarkan liburan keluarga itu berakhir dengan kejengkelan di tengah kepungan asap knalpot. (Wulan Indriyani / Ra Indrata)




