Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Batu, dr Icang Sarrazin. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
MALANG POST – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu mengingatkan masyarakat, khususnya perempuan, agar tidak lengah terhadap ancaman kanker payudara. Meski jumlah kasus hingga pertengahan 2026 turun menjadi 73 pasien dibandingkan 75 kasus pada 2025, penyakit ini tetap berbahaya karena gejala awalnya sering tidak menimbulkan rasa nyeri. Dinkes pun mengintensifkan edukasi deteksi dini melalui gerakan Sadari dan Sadanis.
Kanker payudara masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan perempuan di Kota Batu. Penurunan jumlah kasus pada tahun ini, belum menjadi alasan untuk menurunkan kewaspadaan. Justru, masyarakat diminta lebih peka mengenali gejala sejak dini agar peluang kesembuhan semakin besar.
Data Dinas Kesehatan Kota Batu menunjukkan, hingga pertengahan 2026 terdapat 73 pasien kanker payudara yang menjalani penanganan. Jumlah itu sedikit lebih rendah dibandingkan 2025 yang mencatat 75 kasus, dengan dua pasien meninggal dunia.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Batu, dr. Icang Sarrazin, mengatakan, masih tingginya kasus kanker payudara dipengaruhi rendahnya kesadaran masyarakat untuk mengenali tanda-tanda awal penyakit tersebut. Padahal, pada fase awal, kanker payudara sering berkembang tanpa rasa sakit.
“Gejala yang paling umum biasanya muncul benjolan di payudara atau ketiak. Benjolan ini umumnya terasa keras, permukaannya tidak rata, dan sering kali tidak nyeri,” ujarnya, Senin (29/6/2026).

Menurut Icang, banyak perempuan baru datang ke fasilitas kesehatan ketika penyakit sudah memasuki stadium lanjut. Padahal, perubahan fisik pada payudara sebenarnya sudah dapat dikenali sejak awal.
Salah satu tanda yang perlu diwaspadai ialah perubahan pada puting payudara, seperti puting yang tertarik ke dalam secara tidak normal atau keluarnya cairan tanpa tekanan, baik berupa darah maupun cairan berwarna kuning kehijauan.
“Gejala seperti ini sering dianggap sepele, padahal justru harus segera diperiksa,” katanya.
Ketika kanker berkembang ke stadium lanjut, gejalanya menjadi semakin berat. Benjolan dapat membesar dan mulai terasa nyeri, disertai pembengkakan di ketiak, luka pada payudara yang sulit sembuh, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, tubuh mudah lelah, hingga nyeri tulang dan sesak napas.
Secara medis, kanker payudara terjadi akibat pertumbuhan sel abnormal pada jaringan payudara yang berkembang tanpa kendali. Kondisi tersebut umumnya dipicu mutasi gen yang menyebabkan sel terus membelah secara tidak normal.
Meski lebih banyak menyerang perempuan, Icang menegaskan kanker payudara juga dapat dialami laki-laki, meski jumlah kasusnya jauh lebih sedikit.
“Pernah saya menjumpai kasus pada laki-laki, meski memang sangat jarang,” ungkapnya.
Icang menegaskan kanker payudara bukan penyakit menular. Namun, penyakit ini dapat berakibat fatal apabila terlambat ditangani. Karena itu, deteksi dini menjadi kunci utama meningkatkan peluang kesembuhan.
Sebagai upaya pencegahan, Dinkes Kota Batu terus mengajak masyarakat untuk rutin melakukan pemeriksaan payudara sendiri melalui gerakan Sadari (Periksa Payudara Sendiri) serta pemeriksaan klinis melalui Sadanis (Periksa Payudara Klinis).
Menurut Icang, langkah sederhana tersebut sangat penting untuk mencegah keterlambatan diagnosis sekaligus menekan angka kematian akibat kanker payudara.
“Kesadaran untuk memeriksa diri sendiri harus terus ditingkatkan. Jangan menunggu sakit atau muncul keluhan berat baru datang ke fasilitas kesehatan,” pungkasnya. (Ananto Wibowo/Ra Indrata)




