MALANG POST – Edukasi 113 guru se-Jawa Timur mengenai deteksi dini anak berkebutuhan khusus (ABK), Fakultas Psikologi UMM menggelar Workshop Guru Inklusi dalam rangkaian Road to Milad ke-41.
Kemampuan guru mengenali kebutuhan khusus peserta didik menjadi langkah awal dalam menciptakan pembelajaran inklusif. Tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, kebutuhan khusus dapat muncul pada aspek kognitif, perkembangan, emosi, perilaku, sosial, hingga kemampuan belajar.
Hal tersebut disampaikan oleh Uun Zulfiana, S.Psi., M.Psi., Psikolog dalam Workshop Guru Inklusi bertema “Pendampingan Psikologis Peserta Didik Berkebutuhan Khusus” yang digelar Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (8/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Aula Lantai 9 Gedung Kuliah Bersama (GKB) 4 UMM tersebut diikuti 113 guru dari jenjang PAUD hingga SMA dan menjadi bagian dari rangkaian Road to Milad ke-41 Fakultas Psikologi UMM.
Dosen Psikologi UMM tersebut menjelaskan bahwa guru perlu memahami karakteristik peserta didik agar mampu melakukan deteksi dini dan menentukan bentuk pendampingan yang tepat. Istilah individu berkebutuhan khusus memiliki cakupan luas dan tidak terbatas pada kondisi disabilitas tertentu. Karakteristiknya dapat terlihat dari kemampuan mental, sensorik, komunikasi, perkembangan emosi, hingga kondisi fisik.

Uun Zulfiana, S.Psi., M.Psi., Psikolog
“Guru tidak perlu terburu-buru memberikan label kepada anak ketika menemukan sesuatu yang berbeda. Yang penting adalah mengenali tanda-tandanya, memahami kebutuhannya, kemudian memberikan penyesuaian yang sesuai. Diagnosis tetap menjadi kewenangan tenaga profesional,” jelas Uun.
Menurutnya, guru dan orang tua memiliki posisi penting dalam proses deteksi dini. Temuan awal di lingkungan sekolah maupun rumah dapat menjadi informasi berharga untuk menentukan langkah pendampingan selanjutnya.
“Ketika anak menunjukkan kemampuan yang tidak sesuai dengan rata-rata usianya, jangan langsung melihatnya sebagai kekurangan. Guru perlu melihat apa yang menjadi kebutuhan anak dan bagaimana pembelajaran dapat disesuaikan. Bisa jadi yang perlu diubah bukan anaknya, melainkan cara kita mengajar,” tambahnya.
Ia juga menekankan pentingnya penyesuaian pembelajaran yang mencakup metode mengajar, gaya belajar, hingga kurikulum dan standar penilaian apabila diperlukan berdasarkan kondisi peserta didik.

Masfuukhatur Rokhmah, M.Psi., Psikolog
Sementara itu, narasumber lainnya, Masfuukhatur Rokhmah, M.Psi., Psikolog, membahas kebijakan pendidikan serta strategi pendampingan psikologis di sekolah. Psikolog sekaligus terapis Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) tersebut menekankan bahwa pendampingan perlu dilakukan secara menyeluruh.
“Pendampingan peserta didik berkebutuhan khusus perlu dilakukan secara menyeluruh dengan menyesuaikan kebutuhan anak, guru, orang tua, dan lingkungan sekolah,” jelasnya dalam sesi yang juga dilengkapi dengan diskusi dan roleplay.
Di sisi lain, Dekan Fakultas Psikologi UMM Dr. Rr. Siti Suminarti Faassikhah, M.Si. menyampaikan bahwa workshop ini merupakan bentuk kontribusi nyata fakultas terhadap dunia pendidikan. Kebutuhan terhadap pemahaman pendampingan ABK ini banyak disuarakan oleh guru Bimbingan Konseling (BK) maupun kepala sekolah di Jawa Timur.
“Fakultas Psikologi terus berkiprah untuk masyarakat, khususnya masyarakat pendidikan, dengan menghadirkan layanan dan ruang kolaborasi yang dibutuhkan guru,” pungkasnya. (*/M. Abd. Rachman Rozzi/Januar Triwahyudi)




