MALANG POST – Angkanya membuat dahi banyak orang mengkerut: Rp1,3 triliun. Itulah jumlah dana APBN yang dikucurkan Lembaga Penyiaran Publik TVRI demi membeli hak siar Piala Dunia 2026. Bagi sebagian kritikus, angka itu dianggap terlalu mahal, bahkan mubazir.
Namun, di sudut-sudut kafe dan hotel di Kota Malang, uang triliunan itu menjelma menjadi berkah ekonomi yang nyata (multiplier effect).
Berkat kepastian tayangan gratis di layar kaca, demam nonton bareng (nobar) resmi melanda Kota Pendidikan ini. Efek dominonya luar biasa. Mulai dari perajin jersey, pembuat pernak-pernik turnamen, hingga pengusaha kuliner (FnB) melaporkan lonjakan omzet dan pertumbuhan ekonomi lokal hingga kisaran 10 sampai 20 persen.
Geliat ekonomi di balik gempita lapangan hijau ini dibedah tuntas dalam program talk show Idjen Talk yang disiarkan langsung oleh Radio City Guide 911 FM, Sabtu (27/6/2026) kemarin. Akademisi, pelaku usaha warung kopi, hingga asosiasi perhotelan blak-blakan menghitung derasnya perputaran uang di tengah malam.
Dosen Pendidikan Ekonomi Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (UNIKAMA), Naim, pasang badan membela kebijakan pembelian hak siar tersebut. Menurutnya, alokasi anggaran Rp1,3 triliun itu sama sekali tidak menjadi masalah karena kembali ke rakyat dalam bentuk hiburan masal dan peluang bisnis.
“Pertumbuhan ekonomi riil di Kota Malang melonjak 10 hingga 20 persen. Lihat saja menjamurnya tempat nobar. Produsen jersey kebanjiran orderan, UMKM pernak-pernik panen raya, dan sektor kuliner kebagian untung besar. Nanti saat memasuki fase gugur dan final, euforianya akan jauh lebih gila lagi,” analisis Naim.
Urusan biaya lisensi nobar resmi yang ditarik pemegang hak siar pun dinilai Naim masih dalam batas kewajaran. Pengusaha tidak rugi membelinya karena mendatangkan kepastian hukum dan kepastian massa.
Pengunjung Kafe Lipat Dua di Tengah Malam
Jeritan senang terdengar dari garis depan bisnis hilir. Dimas Bagus Januar, perwakilan dari Kedai Kopi PRO Malang, menceritakan bagaimana omzetnya melonjak drastis berkat taktik menggelar nobar resmi.
“Sejak ada kegiatan nobar Piala Dunia, kunjungan masyarakat ke kedai kami melonjak sampai dua kali lipat. Jam tanding yang berlangsung malam hari sampai menjelang subuh sama sekali bukan tantangan bagi anak muda Malang,” aku Dimas jujur.
Dimas mengaku proses membeli lisensi tayangan komersial sangat mudah, tinggal klik di website resmi dan harganya masih sangat sebanding (worth it) dengan ledakan jumlah konsumen yang datang.
“Tantangan kami saat ini justru bukan sepi pembeli, melainkan logistik. Kami kesulitan mengamankan pasokan bahan baku makanan dan kopi karena permintaannya mendadak melonjak berkali-kali lipat dari hari biasa,” tambahnya.
Siasat Doorprize Hotel dan Tabrakan Jam Operasional
Keriuhan yang sama juga menjalar ke industri penginapan. Ketua PHRI Kota Malang, Agus Basuki, menyebut hotel dan restoran di bawah naungannya tidak mau kalah memanfaatkan momentum emas ini. Beragam inovasi paket nonton hemat diciptakan.
“Hotel-hotel menawarkan harga paket nobar yang sangat terjangkau demi menjual pengalaman menonton yang nyaman dan berkelas. Untuk laga-laga besar tertentu, kami bahkan menyiapkan acara khusus lengkap dengan pembagian doorprize menarik untuk memikat tamu,” jelas Agus.
Meski demikian, perhotelan menghadapi benteng kendala yang berbeda dengan kedai kopi. Masalah utama mereka adalah benturan zona waktu pertandingan dengan regulasi internal kerja.
“Jadwal tanding yang terlalu pagi kurang cocok dengan jam operasional baku hotel. Akibatnya, keterbatasan pemenuhan staf membuat tidak semua pertandingan bisa kami buatkan acara nobar keliling,” pungkas Agus.
Piala Dunia 2026 bukan sekadar panggung unjuk gigi bagi para bintang lapangan hijau internasional. Di Kota Malang, turnamen ini sukses dikonversi menjadi urat nadi penggerak ekonomi kerakyatan. Hak siar triliunan dari Jakarta kini telah menetes ke bawah, mengisi penuh cangkir-cangkir kopi di Malang, dan menghidupkan malam-malam para pelaku UMKM lokal yang sedang menjemput rezeki di paruh waktu. (Wulan Indriyani / Ra Indrata)




