MALANG POST – Wali Kota Batu, Nurochman, menginstruksikan perombakan total pada orientasi pengabdian mahasiswa dengan menuntut program Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan magang, tidak sekadar menjadi formalitas akademik pengisi kartu hasil studi. Penegasan tersebut disampaikan langsung oleh kepala daerah saat menerima audiensi pimpinan Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya (FIA UB) di ruang kerjanya, Rabu (24/6/2026), guna merancang skema penerjunan mahasiswa berbasis solusi konkret, untuk memperkuat tata kelola administrasi dan promosi UMKM di seluruh desa se-Kota Batu.
Kuliah Kerja Nyata (KKN) itu sudah waktunya bertransformasi. Zaman sudah berubah. Maka, polanya tidak boleh lagi sekadar menjadi ritual kaku semesteran demi menggugurkan kewajiban akademik di kampus.
Wali Kota Batu, Nurochman, ingin tradisi lama itu diakhiri. Dia ingin kehadiran mahasiswa di lapangan benar-benar meninggalkan bekas. Memberikan dampak nyata yang bisa dirasa langsung oleh masyarakat bawah.
Gugatan terhadap gaya KKN lama itu mengemuka di ruang kerja walikota.
Rabu tadi, Cak Nur—sapaan akrab Nurochman—menerima audiensi penting dari jajaran pimpinan Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya (FIA UB). Yang dibahas serius. Bukan sekadar urusan administrasi di atas kertas. Mereka mematangkan konsep pelaksanaan KKN dan program magang berdampak yang akan menerjunkan mahasiswa FIA UB ke sejumlah instansi perangkat daerah hingga ke desa-desa di Kota Batu.
Bagi Pemkot Batu, kolaborasi dengan kampus ini posisinya strategis. Bukan sekadar agenda seremonial tahunan untuk foto bersama lalu masuk arsip.
Ada harapan besar yang dititipkan di pundak para mahasiswa. Mereka diharapkan datang membawa pasokan perspektif baru. Membawa cara pandang segar yang belum terkontaminasi birokrasi kaku, terutama dalam menjawab tantangan pelayanan publik dan pembangunan desa yang kian dinamis.

AUDIENSI: Wali Kota Batu Nurochman saat menerima audiensi dari pimpinan FIA UB, salah satunya membahas soal KKN di wilayah Kota Batu. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Cak Nur memberikan catatan tebal. Mahasiswa, katanya, harus mampu membaca kondisi lapangan secara utuh. Tajam. Pola lama harus dibuang: datang ke desa, menjalankan program seadanya, lalu pulang ke kampus membawa tumpukan laporan berjilid-jilid yang akhirnya berdebu di perpustakaan.
“Mahasiswa jangan hanya menjalankan program akademik. Mereka juga harus bisa melihat potensi, persoalan, dan kebutuhan riil masyarakat,” tegas Nurochman. Dari ketajaman melihat borok dan potensi di lapangan itulah, mahasiswa bisa melahirkan rekomendasi kebijakan yang benar-benar bermanfaat.
Kota Batu hari ini memang sedang butuh banyak pasokan gagasan segar. Dan pasokan terbaik biasanya datang dari kalangan muda. Mereka yang akrab dengan dunia inovasi, fasih menggunakan teknologi, dan punya pendekatan kreatif.
Makanya, hasil KKN di Batu musim depan tidak boleh berhenti menjadi dokumen mati. Hasil kajian mahasiswa harus bisa ditindaklanjuti secara konkret oleh birokrasi sebagai bahan evaluasi maupun pengambilan kebijakan strategis.
Nantinya, pasukan dari FIA UB ini akan diterjunkan langsung untuk mendukung berbagai kebutuhan roda pemerintahan paling bawah. Tugasnya konkret: mulai dari penguatan sistem administrasi desa, mempromosikan potensi daerah secara digital, hingga memberikan pendampingan program pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Skema ini klop dengan kebutuhan riil di lapangan. Harus diakui, desa-desa di Kota Batu punya modal raksasa di sektor wisata, pertanian, ekonomi kreatif, hingga UMKM. Masalahnya klasik: mereka masih lemah di urusan tata kelola manajemen dan strategi promosi. Di sinilah mahasiswa masuk mengambil peran.
Pemkot Batu melihat perguruan tinggi sebagai mitra strategis pembangunan. Sinergi antara birokrasi yang punya kuasa dan dunia akademik yang punya ilmu menjadi sangat penting. Biar kebijakan yang diambil pemerintah daerah lebih adaptif, tidak asal tebak, dan berbasis kebutuhan warga.
“Pemerintah butuh masukan berbasis kajian, sementara mahasiswa juga membutuhkan ruang belajar langsung di lapangan,” tambahnya.
Lewat sinergi yang matang ini, KKN di Kota Batu dipastikan bukan lagi tempat untuk sekadar liburan atau formalitas cari nilai. Ini adalah momentum bagi mahasiswa untuk benar-benar turun gunung, menyerap keringat dan persoalan warga, lalu ikut ambil bagian menjadi obat dari masalah tersebut. Aturan main sudah jelas, sekarang tinggal mahasiswa UB membuktikannya di desa. (Ananto Wibowo / Ra Indrata)




