MALANG POST – Dua pelatih kenamaan sepak bola nasional, Timo Scheunemann dan Jacksen F. Tiago, berduet memantau langsung talenta muda dalam kejuaraan sepak bola putri bertajuk Women’s Soccer Trilogy 2026 di Supersoccer Arena, Kabupaten Kudus, yang dimulai bertahap sejak Juni hingga Agustus 2026. Ajang pembinaan garapan Bakti Olahraga Djarum Foundation ini, diikuti oleh 12 tim dari berbagai kota di Indonesia, demi menyaring bakat terbaik masuk ke dalam skuad elite menuju turnamen internasional SingaCup 2026.
Masa depan sepak bola putri Indonesia sepertinya tidak lagi suram. Geliatnya makin nyata. Gairahnya merembet dari kota ke kota.
Tengok saja apa yang sedang terjadi di Kabupaten Kudus.
Dua nama besar di jagat kepelatihan tanah air, Timo Scheunemann dan Jacksen F. Tiago, mendadak terlihat di sana.
Mereka tidak sedang liburan. Dua pelatih papan atas ini mengemban misi khusus yang sakral: berburu bakat-bakat terbaik pesepak bola putri masa depan.
Panggung berburunya ada di turnamen Women’s Soccer Trilogy 2026. Sebuah hajatan pembinaan yang didesain apik oleh Bakti Olahraga Djarum Foundation.

Head coach Jacksen F. Tiago. (Foto: Istimewa)
Tempatnya mewah: di Supersoccer Arena. Kompetisi ini berjalan maraton, bertahap dari bulan Juni hingga Agustus mendatang.
Timo dan Jacksen bakal melototi setiap jengkal pergerakan pemain di lapangan. Target mereka konkret: menyaring pemain potensial untuk dimasukkan ke dalam skuad elite.
Skuad inilah yang nantinya digembleng khusus untuk diterbangkan ke ajang internasional, SingaCup 2026.
Senin malam kemarin (22/6/2026), suasana jumpa pers sudah menghangat. Jacksen Tiago tampak bersemangat memberikan arahan kepada para pelatih dan peserta sebelum peluit kompetisi dibunyikan.
Tahun ini, skalanya naik kelas. Lebih meriah. Pesertanya melonjak dari delapan tim di edisi lalu, kini menjadi 12 tim.
Jangkauan pembinaannya makin melebar ke seluruh penjuru mata angin. Ada tim dari Samarinda, Banjarmasin, Bekasi, Solo, Jakarta, Kudus selaku tuan rumah, hingga perwakilan dari Malang.
Di hadapan para pelatih, Jacksen melontarkan tesis penting soal filosofi sepak bola usia dini.
Bagi Jacksen, memutar turnamen anak-anak itu tujuan utamanya bukan sekadar urusan angkat piala. Bukan sekadar cari siapa yang jadi juara.
Kompetisi harus diletakkan sebagai laboratorium tempat anak-anak belajar, berkembang, dan menikmati proses bermain bola.
Pelatih, kata Jacksen, dilarang keras memberikan tekanan psikologis yang berlebihan kepada pemain muda.
Pembinaan usia dini butuh kesabaran ekstra. Fokusnya ada pada pembentukan mental bertanding dan pengayaan pengalaman.
“Dari 12 tim yang bertanding, hanya satu yang akan menjadi juara. Namun 11 tim lainnya juga harus pulang dengan pengalaman berharga,” cetus Jacksen.
Tugas pelatih adalah memeras kemampuan terbaik si anak, bukan membebani kepala mereka dengan target wajib menang.
Ini adalah anak tangga pertama. Langkah awal untuk menemukan calon punggawa tim nasional.
Jacksen punya mimpi besar, suatu saat nanti, anak-anak yang berlarian di rumput Kudus ini bisa mengenakan jersi dengan lambang Garuda di dada.
Bagi Jacksen, kemenangan di lapangan itu bonus kecil. Yang hakiki adalah lahirnya generasi pesepak bola putri yang punya karakter kuat, percaya diri, dan siap bertarung di masa depan.
“Selamat bertanding dan berani mencetak gol. Nikmati prosesnya,” tegasnya.
Sebagai tuan rumah, Kudus tentu punya beban moral tersendiri. Tim All Star Kudus datang ke turnamen ini dengan dada tegak. Statusnya mentereng: juara bertahan musim lalu.
Pelatih Kudus, Yayan Hidayat, sadar betul posisi timnya sedang diincar semua lawan. Kualitas peserta tahun ini jauh lebih merata. Lebih berat.
Tapi Yayan tidak keder. Bermain di hadapan publik sendiri di Kudus adalah modal motivasi yang besar. Tekad anak-anak Kudus sudah bulat untuk mempertahankan mahkota juara.
Tantangan terberat diprediksi datang dari Solo. Sang pelatih, Maisus Nita, sudah menyiapkan strategi pembalasan. Musim lalu mereka hanya finis sebagai runner-up. Pengalaman pahit itu dijadikan bahan bakar untuk tampil lebih gila tahun ini.
Maisus memilih pendekatan personal agar mental juang anak-anak Solo sekokoh tembok pertahanan mereka.
Dari Kudus, fondasi sepak bola putri sedang dicor ulang dengan benar. (M. Abd. Rachman. Rozzi / Ra Indrata)




