MALANG POST – Pelatih asal Brasil, Marcos Santos, secara resmi dipastikan tetap mempertahankan kursinya sebagai arsitek utama skuad Arema FC untuk mengarungi kompetisi kasta tertinggi Super League musim 2026/2027. Keputusan strategis yang dikeluarkan oleh dewan direksi di bawah General Manager Yusrinal Fitriandi di Malang, diambil setelah melalui draf evaluasi mendalam terhadap rapor performa tim musim lalu, di mana Singo Edan sukses mencatatkan rekor produktivitas elite dengan mengemas 53 gol meski harus finis di peringkat kesembilan klasemen akhir.
Sepak bola itu kejam. Ukuran keberhasilan seorang pelatih sering kali hanya dilihat dari satu angka tunggal: posisi di klasemen akhir. Jika target meleset, tamat. Kemas koper. Namun, dewan direksi Arema FC tampaknya menggunakan logika yang berbeda kali ini. Mereka emoh latah melakukan pemecatan.
Marcos Santos resmi dipertahankan. Pelatih asal Brasil usia 46 tahun itu tetap memegang kendali Singo Edan untuk musim depan.
Padahal, secara target murni, Marcos gagal. Dia belum mampu membawa Arema finis di zona lima besar pada kompetisi Super League 2025/2026 lalu. Arema mengakhiri musim di peringkat kesembilan. Tapi tunggu dulu. Bagi manajemen di era General Manager Yusrinal Fitriandi, posisi sembilan ini justru merupakan pencapaian terbaik klub dalam tiga musim terakhir. Ada progres nyata di sana.
Lalu, apa yang membuat posisi Marcos begitu kuat di mata direksi? Rapor menyerangnya mentereng. Elite.
Sepanjang 34 pertandingan, Arema di tangan Marcos menjelma menjadi monster yang menakutkan di depan gawang lawan. Skuad Singo Edan sukses menggelontorkan 53 gol. Rata-ratanya mencapai 1,56 gol per pertandingan. Karakter menyerangnya sangat kental. Hampir setiap pekan Arema selalu menciptakan ancaman dan gol.
Bahkan, persentase mandulnya sangat tipis. Arema hanya gagal mencetak gol dalam enam laga saja alias 17,65 persen dari total pertandingan semusim.
Catatan jarang mandul itu menyamai rekor terbaik sejarah klub di era Liga 1 dan Super League, yang pernah diukir oleh Milomir Seslija (2019), Eduardo Almeida (2021-2022), dan Joko Susilo (2017). Untuk urusan produktivitas total 53 gol, Marcos hanya kalah dari racikan Milomir Seslija yang mencetak 59 gol pada musim 2019. Marcos sukses mengungguli Eduardo Almeida (44 gol) dan Milan Petrovic (41 gol).
Secara keseluruhan, Marcos membukukan 13 kemenangan, sembilan hasil imbang, dan 12 kekalahan. Persentase kemenangannya menyentuh angka 38,24 persen.
Namun, sepak bola adalah urusan keseimbangan. Di balik mewahnya lini serang, pertahanan Arema justru keropos. Gawang Singo Edan jebol 47 kali sepanjang musim. Inilah alasan mengapa perolehan poin Arema tidak bisa terbang tinggi setinggi era Eduardo Almeida.
“Kami bermain sangat baik musim lalu, bahkan melawan tim kuat seperti Persija Jakarta. Kami tampil sesuai karakter kami. Namun kami tidak mampu menjaga konsistensi hasil,” aku Marcos Santos.
Bagi Marcos, masalah utama Arema musim lalu bukan soal taktik atau kualitas individu pemain. Masalahnya adalah gangguan yang terus datang berulang-ulang. Badai cedera dan akumulasi kartu kuning-merah menjadi hantu yang merusak momentum.
Akibat gangguan konstan itu, komposisi pemain terbaik Arema sering kali gembos di tengah jalan. Fleksibilitas tim terganggu karena pelatih terpaksa terlalu sering melakukan bongkar pasang pemain. Efek dominonya terlihat jelas: Arema kesulitan menjaga tren kemenangan. Sepanjang musim, mereka hanya mampu mencatat tiga kemenangan beruntun dalam dua periode berbeda. Begitu mau melompat lebih tinggi, tim langsung pincang karena cedera atau sanksi kartu.
“Kami gak bisa mempertahankan komposisi tim yang sama. Hal itu sangat memengaruhi perjalanan kami di kompetisi,” pungkas Marcos.
Pekerjaan rumah raksasa kini sudah menumpuk di meja kerja Marcos Santos menjelang kick-off Super League 2026/2027. Mengunci produktivitas serangan sudah dia buktikan. Kini tinggal bagaimana arsitek Brasil ini menambal lubang di lini belakang dan merapikan kedalaman skuad agar tidak gampang goyah saat badai cedera datang menyerang. Kerangka tim sudah aman, sekarang tinggal pembuktian taktik jilid dua di Bumi Arema! (Ra Indrata)




