MALANG POST – Ketua DPRD Kota Batu, M Didik Subiyanto, secara resmi mendesak Pemerintah Kota (Pemkot) Batu, untuk segera melakukan langkah radikal, berupa revitalisasi total dan percepatan regenerasi petani, guna menyelamatkan komoditas apel yang kian terpuruk. Penegasan taktis tersebut disampaikan oleh Didik di Kota Batu, Kamis (18/6/2026) hari ini, menyusul rilis data tebasan angka yang mengkhawatirkan dari Dinas Pertanian, di mana luas lahan produktif apel di sentra Bumiaji, Tulungrejo, hingga Sumberbrantas menyusut tajam hingga tersisa 740 hektare dalam empat tahun terakhir.
Kota Batu tanpa buah apel itu seperti sayur tanpa garam. Hambar. Hilang ruhnya. Apel adalah identitas tertinggi Kota Wisata ini. Sayangnya, identitas itu kini sedang berjalan terseok-seok di ambang kepunahan. Lahan menyusut gila-gilaan, produksi anjlok, dan petaninya makin menua.
Kalau kondisi ini dibiarkan tanpa tindakan radikal, sepuluh tahun lagi anak cucu kita mungkin cuma bisa melihat apel Batu di dalam buku sejarah atau museum. Tragis.
Sinyal bahaya itulah yang hari ini diledakkan dari gedung dewan. Ketua DPRD Kota Batu, M Didik Subiyanto, bergerak kontan. Dia menegaskan bahwa proyek penyelamatan nasib apel sudah tidak bisa ditunda-tunda lagi. Harus dieksekusi sekarang juga.
Didik melihat secercah harapan di Kecamatan Bumiaji. Di sana, napas petani ternyata belum habis.
“Kami melihat semangat petani apel, khususnya di Kecamatan Bumiaji, masih cukup tinggi,” ujar Didik Subiyanto, Kamis (18/6) hari ini. Di desa seperti Tulungrejo dan Sumberbrantas, kebun apel dipaksa bertahan hidup dengan cara bermutasi menjadi destinasi wisata petik apel. Kreatif.

PANEN APEL: Wali Kota Batu Nurochman saat melakukan panen apel beberapa waktu lalu, saat ini kondisi lahan apel di Kota Batu terus menyusut, DPRD mendorong untuk segera melakukan revitalisasi. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Namun, kreativitas saja tidak cukup melawan takdir biologis. Pohon-pohon apel di Batu mayoritas sudah jompo. Usianya sudah melewati angka 40 tahun. Empat dekade. Tidak lagi produktif. Ditambah lagi hantaman perubahan iklim dunia yang makin tidak karuan, membuat serangan hama datang beruntun bak air bah.
Mari kita buka data penurunan luas lahan yang bikin mengelus dada ini:
- Era 1980-an (Masa Kejayaan): Mencapai 3.000 hektare.
- Tahun 2020: Menyusut menjadi 1.200 hektare.
- Tahun 2022: Turun lagi ke 1.092 hektare.
- Tahun 2023: Amblas ke angka 1.044 hektare.
- Tahun 2024: Tersisa hanya 740 hektare.
Bayangkan. Hanya dalam tempo empat tahun terakhir, Kota Batu kehilangan 460 hektare lahan apelnya. Menyusut hampir 38 persen. Ini bukan lagi sekadar penurunan biasa. Ini adalah alarm darurat siaga satu.
Lalu apa solusinya? Didik mendesak Pemkot mempercepat program revitalisasi. Pohon yang tua harus diganti. Menariknya, kini muncul secercah harapan dari temuan lokal warga Batu sendiri: varietas baru bernama Golden Analagi.

Varietas ini diklaim lebih adaptif, genjah, dan tahan terhadap serbuan hama iklim ekstrem. Dewan meminta kajian varietas ini dipercepat. “Kalau varietas baru ini terbukti bagus, tahan hama dan produktif, tentu bisa menjadi solusi untuk memperbaiki produksi apel ke depan,” tegas Didik.
Tapi urusan apel bukan cuma soal bibit dan pupuk. Masalah paling pelik adalah: siapa yang mau meneruskan cangkul para petani tua?
Anak muda zaman sekarang lebih senang memegang gawai atau bekerja di sektor jasa pariwisata ketimbang berlumpur di sawah. Krisis regenerasi ini menakutkan. Maka, dewan menuntut adanya skema insentif dan pendampingan modern agar generasi milenial mau kembali turun ke kebun menjadi petani apel modern.
Menyelamatkan apel Batu tidak bisa hanya mengandalkan pidato seremonial dinas terkait. Butuh kerja keroyokan lintas sektor. Pemerintah, masyarakat, dan pengusaha harus satu saf. Mempertahankan apel Batu adalah mempertahankan harga diri kota. Selamat berjuang menyelamatkan ikon kita, Pak Didik! (Ananto Wibowo/Ra Indrata)




