KEPALA Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Batu, dr Icang Sarrazin. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
MALANG POST – Dinas Kesehatan Kota Batu, secara resmi mengeluarkan peringatan dini kepada masyarakat untuk mewaspadai lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan serangan asma, akibat datangnya fenomena cuaca ekstrem bediding di awal musim kemarau. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Batu, dr. Icang Sarrazin, pada Kamis (11/6/2026) siang, menegaskan bahwa perubahan suhu yang jomplang—di mana malam hari anjlok hingga 14 derajat Celsius sementara siang hari meroket ke angka 30 derajat Celsius—memaksa tubuh warga beradaptasi lebih keras, di tengah kepungan polusi debu lapangan.
Alam itu kadang suka bercanda. Dan candaannya kali ini sedang terasa sangat melelahkan bagi tubuh kita.
Tengok saja apa yang sedang terjadi di Kota Batu dalam beberapa pekan terakhir. Musim kemarau sudah resmi datang. Langitnya bersih, cerah, tanpa ada tanda-tanda bakal turun hujan. Tapi, ada satu tamu tahunan yang ikut numpang lewat: fenomena bediding.
Ini fenomena yang paradoks. Luar biasa ekstrem.
Kalau siang, panasnya bukan main. Terik menyengat kulit. Tapi begitu matahari terbenam, setir cuaca langsung berbalik 180 derajat. Udara mendadak berubah menjadi laksana lemari es. Dinginnya menusuk sampai ke tulang.
Mari kita bedah angka suhunya. Jika malam hingga subuh tiba, temperatur udara di Kota Wisata ini mendingin di kisaran 14 sampai 19 derajat Celsius. Dingin sekali.
Sebaliknya, begitu jarum jam bergeser ke tengah hari, suhunya langsung melonjak drastis, melompat ke angka 28 hingga 30 derajat Celsius. Bahkan bisa lebih.
Perbedaan suhu sejomplang itu jelas bukan perkara sepele. Tubuh manusia dipaksa bekerja ekstra keras untuk beradaptasi. Kalau imun tubuh lagi kendor, tamat sudah. Penyakit langsung antre masuk.
Di sinilah radar Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu langsung menyala. Mereka tidak mau kecolongan. Warga diingatkan untuk waspada tinggi terhadap berbagai penyakit saluran pernapasan. Daftarnya komplet: mulai dari influenza, ISPA, alergi, asma, hingga radang tenggorokan.
Panglima pencegahan penyakit di Dinkes, dr. Icang Sarrazin, membeberkan fakta lapangan, Kamis (11/6/2026) hari ini.
Saat ini, ranjang-ranjang periksa memang masih didominasi oleh pasien flu biasa alias influenza. Tapi dr. Icang mewanti-wanti. Musuh kita di musim kemarau ini bukan cuma makhluk mikro bernama virus.
Ada musuh lain yang kasat mata: debu jalanan.
Begitu angin kemarau bertiup kencang, partikel debu di udara akan meningkat tajam. Debu-debu ini beterbangan liar. Sangat mudah terhirup masuk ke lubang hidung dan tenggorokan. Efeknya instan: memicu reaksi alergi hebat. Terutama bagi warga yang punya riwayat bawaan asma.
“Debu-debu yang beterbangan ini kalau terhirup dan masuk ke mulut bisa memicu reaksi alergi. Bagi orang yang punya riwayat alergi tinggi, risikonya tentu lebih besar,” urai dr. Icang.
Maka, siasatnya sederhana saja. Murah pula. Jangan dulu membuang masker Anda ke tempat sampah. Kain penutup mulut sisa zaman pandemi itu kini jadi dewa penolong yang paling efektif untuk menyaring serbuan polutan luar rumah.
“Kalau berkumpul di keramaian sebaiknya tetap memakai masker. Tujuannya agar debu tidak mudah masuk ke saluran pernapasan dan memicu penyakit,” tambahnya.
Selain urusan bensin flu dan ISPA, dr. Icang juga memelototi ancaman penyakit faringitis alias radang tenggorokan. Udara yang kering, dikombinasikan dengan suhu dingin dan hantaman debu, adalah resep paling mujarab untuk merusak tenggorokan. Gejalanya khas: nyeri saat menelan ludah, tenggorokan terasa gersang, sampai suara mendadak serak seperti penyanyi rock.
Bagi para penderita asma, bediding ini bisa menjadi momok yang menakutkan. Udara malam yang dingin adalah pemicu utama menyempitnya saluran napas. Napas jadi sesak. Kulit pun menjadi lebih sensitif bagi mereka yang punya bakat alergi dermatologis.
Maka, dr. Icang menjatuhkan satu rekomendasi taktis.
Bagi penderita asma dan alergi akut, lupakan dulu urusan keluar rumah di malam hari. Kurangi nongkrong di kafe-kafe terbuka saat angin malam sedang galak-galaknya. Udara yang dingin dan lembap hanya akan mempercepat datangnya serangan sesak napas.
Lalu, apa benteng pertahanan terakhir kita?
Kembali ke rumus klasik yang sering kita lupakan: Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Mulailah rajin mencuci tangan sebelum makan, gunakan gelas dan sendok pribadi, serta bersihkan area rumah dari debu yang menempel di gorden atau jendela.
Satu lagi tips penting: jangan malas bergerak. Walau hawa pagi bikin malas beranjak dari balik selimut, tubuh harus tetap dipaksa berolahraga. Aktivitas fisik adalah mesin pembakar yang menjaga metabolisme tubuh tetap prima melawan infeksi luar.
Olahraganya tidak perlu muluk-muluk sampai harus sewa lapangan futsal atau beli alat gim mahal.
“Jalan kaki 30 menit, bersepeda santai, atau senam ringan sudah cukup untuk menjaga metabolisme dan meningkatkan daya tahan tubuh,” pungkas dr. Icang Sarrazin.
Bediding memang bagian dari siklus alam yang tidak bisa kita stop. Cuacanya boleh saja ekstrem, tapi dengan masker di wajah dan segelas air putih di tangan, tubuh kita harusnya bisa memenangkan pertarungan melawan dinginnya angin kemarau Kota Batu. (Ananto Wibowo/Ra Indrata)




