Pelatihan Digitalpreneur yang digelar DEMA FE UIN Maliki Malang, bertujuan mencetak wirausahawan muda digital. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Di era digital seperti sekarang ini, media sosial (medsos) sangat berpotensi menjadi peluang emas dalam keberhasilan berbisnis. Jadi anggapan selama ini bahwa bermain medsos hanya membuang waktu kuranglah tepat. Justru potensi inilah yang dilihat Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Islam Negeri (Dema FE UIN) Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang sebagai peluang emas ekonomi digital.
Karena itulah, Dema FE UIN Malang menggelar “Pelatihan Digitalpreneur” yang dilaksanakan pada Minggu (7/6/2026) di Aula FE UIN Lantai III.
Acara itu dirancang sebagai ruang inkubator taktis untuk membekali para mahasiswa dengan keterampilan bisnis digital yang nyata.
Langkah konkret ini diharapkan mampu mengawinkan teori akademik perkuliahan dengan dinamika realitas industri modern yang bergerak serba cepat.
Tercatat sebanyak 47 mahasiswa dari berbagai jurusan di lingkup Fakultas Ekonomi hadir dan berpartisipasi aktif dalam pelatihan intensif itu.
Agenda ini dirancang secara khusus untuk merespons laju pertumbuhan ekonomi digital yang cepat.
Dalam kondisi ini mahasiswa tidak hanya dituntut cakap secara akademik, melainkan juga harus kreatif dalam menangkap peluang usaha online.
Kehadiran seluruh peserta ini mencerminkan tingginya minat generasi muda kampus dalam mendalami ekosistem bisnis digital saat ini..
Ketua Dema FE UIN Malang, Iqbal Agustiawan, menegaskan bahwa menguasai digital entrepreneurship saat ini bukan lagi sekadar hobi keren, melainkan kebutuhan mutlak bagi mahasiswa ekonomi.
Iqbal memaparkan bahwa pemahaman yang matang tentang ekosistem digital akan menjadi senjata utama mahasiswa agar memiliki daya saing yang tinggi setelah lulus nanti.
Melalui program ini, ia berharap para peserta mampu menyatukan ilmu teori yang didapat di kelas untuk memajukan sektor UMKM digital sekaligus membuka lapangan kerja baru.
Sesi yang paling ditunggu-tunggu diisi oleh Alifia Nur Laili dan Rahman Sunandi, dua content creator sekaligus afiliator sukses yang sudah terbukti meraup banyak keuntungan dari dunia digital.
Tidak sekadar membagikan teori pemasaran yang membosankan, kedua pemateri langsung mengajak peserta melakukan simulasi taktis menggunakan gawai mereka masing-masing.
Mulai dari cara mengoptimalkan akun bisnis, trik membuat konten promosi yang memikat pembeli, hingga cara kerja sistem affiliate marketing dibedah secara gamblang lewat metode belajar berbasis praktik (experiential learning).
Apresiasi tinggi pun datang dari jajaran dekanat yang disampaikan langsung oleh Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama FE UIN, Zaim Mukaffi.
Beliau mengaku sangat bangga dengan kepekaan Dema FE UIN dalam membuat program pengayaan diri (self-enrichment) yang sangat relevan dengan kebutuhan zaman.
Pihak fakultas berjanji akan terus memberikan dukungan penuh pada program-program berbasis kewirausahaan seperti ini demi melahirkan lulusan UIN yang inovatif, mandiri, dan siap kerja.
Suasana aula semakin hidup saat sesi diskusi interaktif dibuka, di mana teori yang baru saja dipelajari langsung diuji dengan realitas di lapangan.
Para peserta secara kritis saling berebut bertanya mengenai tantangan nyata berbisnis online, seperti cara mengatur modal yang terbatas, membangun personal branding, hingga trik menyiasati perubahan algoritma media sosial agar jualan tetap laris.
Komunikasi dua arah yang berjalan santai namun berbobot ini sukses membuka mata mahasiswa bahwa media sosial adalah instrumen ekonomi yang sangat menjanjikan jika dikelola dengan ilmu.
Pelatihan yang berlangsung produktif ini akhirnya ditutup dengan komitmen bersama untuk langsung mempraktikkan ilmu lewat grup inkubasi yang telah disediakan.
Dema FE UIN Malang berharap masa pendampingan satu bulan ke depan bisa menjadi jaminan agar para peserta benar-benar menghasilkan karya nyata.
Dengan berakhirnya agenda tatap muka ini, 47 mahasiswa FE UIN resmi memulai langkah awal mereka sebagai pengusaha digital baru yang berbasis pengetahuan dan terkawal dengan baik.(*/Eka Nurcahyo)




