MALANG POST – Manajemen Arema FC, secara resmi membuat keputusan mengejutkan, dengan mengakhiri kerja sama kontrak dengan penyerang lokal andalannya, Dedik Setiawan, menjelang bergulirnya musim kompetisi baru. Pengumuman perpisahan dengan striker asli Malang, yang telah mengabdi selama hampir satu dekade di Bhumi Arema ini, dikonfirmasi langsung oleh General Manager Arema FC, Yusrinal Fitriandi, Rabu (10/6/2026), sekaligus menandai berakhirnya era salah satu ikon terbesar Singo Edan pemilik empat gelar juara Piala Presiden.
Dalam dunia sepak bola modern, kesetiaan itu barang mewah. Sangat langka. Pemain datang dan pergi setiap musim demi mengejar nilai kontrak yang lebih tebal.
Tapi di Malang, pernah ada satu nama yang meruntuhkan logika industri itu. Namanya: Dedik Setiawan.
Bagi publik bola Malang Raya dan Aremania, Dedik bukan sekadar buruh lapangan hijau yang digaji untuk menendang bola. Dia adalah representasi hidup dari karakter Arek Malang: ngeyel, pantang menyerah, loyal, dan punya cinta yang ugal-ugalan terhadap lambang Singo Edan di dada.
Hari ini, cerita indah yang berlangsung hampir sepuluh tahun itu, harus menemui babak akhir. Manajemen Arema FC resmi mengetok palu keputusan. Kerja sama dengan penyerang asli daerah itu resmi berakhir. Dedik harus berkemas.
Hampir satu dekade berseragam biru Barat. Itu waktu yang sangat panjang. Dedik sudah melewati semua fase cuaca di dalam klub.

Dia pernah merasakan manisnya mengangkat trofi juara di hadapan puluhan ribu suporter yang menyemut. Dia juga pernah merasakan sunyi dan getirnya naik meja operasi, akibat cedera parah yang sempat mengerem karier emasnya.
Bahkan, Dedik adalah salah satu saksi hidup yang ikut berdiri tegak, merangkul tim yang hancur lebur melewati periode paling berdarah pasca-Tragedi Kanjuruhan 1 Oktober 2022 lalu. Tragedi yang meninggalkan luka batin mendalam bagi semua orang Malang. Dedik ada di sana. Ikut menangis dan ikut bangkit.
Catatan jasanya untuk klub sudah ditulis dengan tinta emas. Dedik adalah bagian penting dari generasi emas yang berhasil mempersembahkan empat gelar juara Piala Presiden ke lemari piala Arema FC. Sebuah rekor yang sulit ditandingi klub mana pun di Indonesia.
Kelihaiannya di kotak penalti lawan tidak hanya diakui di level domestik. Dedik beberapa kali dipercaya memakai jersi Merah Putih milik Tim Nasional Indonesia.
Prestasi tertingginya? Menjadi bagian dari skuad Garuda yang bertarung habis-habisan hingga babak final dan merengkuh predikat runner-up di ajang Piala AFF 2020 lalu.
Maka, ketika waktu perpisahan ini tiba, General Manager Arema FC, Yusrinal Fitriandi, tidak bisa menyembunyikan rasa respeknya yang paling dalam.
“Dedik Setiawan adalah sosok yang tumbuh bersama Arema FC. Hampir sepuluh tahun ia memberikan tenaga, pikiran, dan hatinya untuk klub ini.”
“Tidak banyak pemain yang mampu menunjukkan loyalitas dan dedikasi seperti yang telah diperlihatkan Dedik,” ujar pria yang akrab disapa Inal ini, Rabu (10/6/2026).
Bagi manajemen, Dedik bukan lagi sekadar pemain yang terikat kontrak kerja. Dia sudah bertransformasi menjadi bagian dari sejarah besar klub itu sendiri. Sejarah yang tidak akan bisa dihapus oleh waktu.
Namun, sepak bola profesional tetap punya hukum alamnya yang dingin. Ada waktu untuk datang, ada waktu untuk pergi.
Perpisahan di atas kertas kontrak ini dipastikan tidak akan merusak hubungan emosional yang sudah terlanjur mengakar. Pintu mes dan silaturahmi Arema akan selalu terbuka lebar untuk Dedik.
Manajemen pun hanya bisa mengirimkan doa terbaik untuk kelanjutan karier sang striker di klub barunya nanti.
“Kami mendoakan agar Dedik Setiawan meraih kesuksesan bersama klub barunya nanti. Semoga ia terus berkembang, tetap menjaga semangat juang Arek Malang yang selama ini menjadi ciri khasnya, serta mampu meraih prestasi yang lebih tinggi,” tambah Yusrinal.
Hari ini, jersi nomor urut depan di loker Arema resmi kosong. Terima kasih untuk setiap cucuran keringat, setiap gol klinis, setiap tetesan air mata duka, dan setiap kebanggaan yang telah kau titipkan di bumi Arema selama sepuluh tahun ini, Dedik. Selamat bertualang di tempat baru, sang ikon! (Ra Indrata)




