MALANG POST – Nilai tukar rupiah sedang lesu. Melemah. Bagi sebagian orang, ini kabar buruk yang bikin dahi berkerut. Dompet terasa makin tipis, barang-barang merangkak naik.
Tapi bagi pelaku wisata di Kota Batu, rupiah yang loyo tidak boleh diratapi. Harus dihadapi. Dengan otak, dengan kreativitas.
Di satu sisi, melemahnya kurs Garuda ini memang menjadi pukulan telak bagi operasional hotel dan tempat rekreasi.
Namun di sisi lain, ada berkah tersembunyi (blessing in disguise) yang bisa dipanen jika pandai membaca peluang.
Pelancong yang batal terbang ke luar negeri karena dolar mahal, otomatis akan mengalihkan pandangannya ke destinasi domestik. Dan Batu, adalah magnet utama di Jawa Timur.
Siasat bertahan di tengah badai ekonomi ini dikupas tuntas dalam program talk show Idjen Talk yang disiarkan langsung oleh Radio City Guide 911 FM pada Selasa (9/6/2026). Otoritas pariwisata, bos perhotelan, hingga pengamat ekonomi duduk bersama membedah strategi.
Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu, Farida Anifah, blak-blakan soal dua sisi mata uang dari krisis ini.
Tantangan riilnya sudah di depan mata: daya beli masyarakat menurun. Wisatawan kini menjadi makhluk yang luar biasa selektif. Sebelum melangkah keluar rumah, mereka menghitung dengan cermat setiap rupiah yang akan keluar.
“Tantangan ganda juga dirasakan pengelola. Biaya operasional membengkak, tapi daya beli pasar justru menyusut,” ujar Farida.
Lalu di mana peluangnya? Farida tersenyum. Keunggulan Kota Batu adalah diversifikasi. Ragam destinasinya sangat kaya. Mulai dari wisata alam yang murah meriah, wisata petik buah yang edukatif, hingga taman rekreasi modern yang megah.
“Masyarakat bebas memilih sesuai tebal tipisnya dompet mereka. Keberagaman inilah benteng pertahanan pariwisata Kota Batu,” tambahnya.
Nestapa Wisata Premium dan Taktik “Bundling”
Kondisi di garis depan perhotelan ternyata lebih beriak. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu, Sujud Hariadi, mengakui bahwa dapur hotel dan tempat wisata mulai ikut kepanasan.
Bahan baku pokok—terutama yang masih bergantung pada jalur impor—harganya sudah melonjak.
Pengusaha terjepit di tengah lingkaran setan: biaya produksi naik, tapi mau menaikkan tarif tiket atau kamar hotel rasanya seperti bunuh diri di tengah lesunya daya beli.
“Saat ini yang merasakan hantaman paling berat justru sektor wisata premium. Resort mewah dan wahana mahal mulai sepi. Wisatawan yang datang ke Batu sekarang beralih mencari tempat-tempat yang harganya ramah di kantong,” ungkap Sujud jujur.
PHRI tidak mau menyerah pada keadaan. Guna memancing gairah pelancong, mereka meluncurkan strategi perang harga yang cerdas: paket bundling perjalanan wisata. Masif.
“Kami terus menggenjot kolaborasi. Kita bikin satu paket hemat. Isinya sudah komplet: menginap di hotel sekaligus tiket masuk ke beberapa tempat rekreasi. Ada juga paket gabungan antar-tempat wisata. Intinya, harganya harus jauh lebih murah ketimbang beli eceran,” jelas pemilik Selecta ini.
Dua Golongan Wisatawan: Si Loyal dan Si Perhitungan
Analisis tajam datang dari kacamata akademis. Pengamat Ekonomi Pariwisata, Aang Afandi, meminta para pelaku usaha tidak menggunakan strategi tunggal untuk memukul rata semua pasar.
Sebab, menurut Aang, dalam kondisi ekonomi seperti ini, perilaku wisatawan akan terbelah secara ekstrem menjadi dua kelompok besar.
Kelompok Pertama: Golongan loyal. Ini adalah kaum berduit yang hobinya plesiran ke luar kota hingga luar negeri. Ketika dolar melonjak, mereka enggan terbang jauh, lalu memilih berbelok ke Batu. Golongan ini tidak terlalu pusing soal harga, asalkan fasilitas dan pengalaman yang didapat sesuai dengan ekspektasi tinggi mereka.
Kelompok Kedua: Golongan perhitungan. Ini adalah kelompok mayoritas saat ini. Mereka liburan dengan kalkulator di kepala. Nyari yang dekat, makanannya murah, dan destinasinya tidak menguras isi ATM.
Melihat peta itu, Aang mendesak para pengelola wisata untuk melahirkan inovasi-inovasi yang lebih radikal.
“Harus lebih kreatif. Manfaatkan momen ini untuk menebar promo diskon yang atraktif atau perkuat kerja sama bundling hotel dengan destinasi wisata sekitar. Jemput segmen pasar yang bergeser ini sebelum mereka memilih berdiam diri di rumah,” saran Aang.
Ekonomi boleh saja lesu, dan rupiah boleh saja melemah. Namun, keinginan manusia untuk melepas penat tidak akan pernah mati.
Taktik bundling sudah digelar, promo sudah disiapkan, kini tinggal bagaimana para pelaku wisata di Kota Batu membuktikan ketangguhannya: mau terus meratapi nilai tukar, atau bergerak gesit merebut hati para pelancong berkalkulator.(Wulan Indriyani/Ra Indrata)




