Gamaliel Rayamond H Matondang, Plh Kepala DLH Kota Malang. (Foto: Eka Nurcahyo/Malang Post)
MALANG POST – Mengalami kerusakan pompa dan kendala sirkulasi air, yang memicu gatal-gatal pada anak-anak, DLH Kota Malang membatasi operasional air mancur Alun-Alun Merdeka, serta mengajukan anggaran perbaikan Rp90 juta di APBD Perubahan 2026.
Tiga air mancur di Kota Malang tidak berfungsi optimal sesuai harapan masyarakat. Kondisi ini dikeluhkan warga, terutama untuk fasilitas di Alun-Alun Merdeka dan Taman Trunojoyo yang selama ini menjadi wahana bermain favorit anak-anak.
Anak-anak kini tidak dapat lagi bermain basah-basahan di kedua lokasi tersebut. Operasional air mancur di Alun-Alun Merdeka dibatasi hanya menyala pada pukul 18.00–21.00 WIB. Sementara itu, air mancur di Taman Trunojoyo tidak berfungsi total akibat kerusakan mesin pompa.
Plh. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang Drs. Gamaliel Raymond Hatigoran Matondang, M.AP. membenarkan pembatasan dan kerusakan fasilitas tersebut.
“Untuk air mancur Alun-Alun Merdeka memang baru kami nyalakan pada pukul 18.00 sampai 21.00 WIB. Pagi dan siang hari sengaja tidak kami hidupkan,” ujar Raymond saat dikonfirmasi di Balaikota Malang, Senin (10/8/2026).
Raymond menjelaskan, penghentian operasional air mancur pada pagi hingga sore hari dilakukan demi alasan kesehatan. Air mancur tersebut menggunakan sistem sirkulasi tertutup tanpa penyaringan.
“Air yang disemprotkan adalah air hasil sirkulasi dari penampungan bawah tanpa pengolahan saringan khusus. Ketika air mancur dihidupkan sejak pagi, banyak anak-anak yang bermain dan mandi di sana. Kami tidak bisa memantau penuh,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, keterbatasan sanitasi dan perilaku anak-anak saat bermain—seperti buang air kecil di area penampungan—membuat kualitas air menurun drastis. Dampaknya, DLH menerima sejumlah laporan masyarakat mengenai anak-anak yang mengalami gatal-gatal pada kulit.
DLH Kota Malang biasanya mengganti air mancur bersumber dari Perumda Tugu Tirta (PDAM) tersebut secara berkala antara tiga hingga tujuh hari sekali. Namun, kontaminasi kotoran dan genangan saat hujan deras sempat menyebabkan air berbau tidak sedap dan merusak mesin pompa.
“Pompa sempat terendam banjir dan rusak. Setelah diperbaiki, kami mengambil langkah antisipasi agar mesin tidak kembali rusak dan kualitas air terjaga dengan melarang anak-anak mandi di sana,” tegas Raymond.
Kini, pengunjung hanya diperbolehkan menikmati estetika pertunjukan air mancur dan tata cahaya lampu pada malam hari. Papan imbauan larangan mandi juga telah dipasang di area Alun-Alun Merdeka.
Selain Alun-Alun Merdeka, fasilitas air mancur di Alun-Alun Tugu dan Taman Trunojoyo juga mengalami kendala teknis. Semburan air mancur Alun-Alun Tugu yang seharusnya mencapai ketinggian enam meter kini menyusut menjadi dua hingga tiga meter akibat kerusakan tiga unit mesin pompa.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, DLH Kota Malang telah mengajukan alokasi anggaran pemeliharaan pada Perubahan APBD (PAK) 2026.
“Kami sudah mengajukan usulan anggaran perbaikan pompa di APBD Perubahan 2026, yakni sebesar Rp50 juta untuk air mancur Alun-Alun Tugu dan Rp40 juta untuk Taman Trunojoyo,” pungkas Raymond. (*/Eka Nurcahyo)




