Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi UMM, Novin Farid Setyo Wibowo, S.Sos., M.Si. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Karya sineas Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menembus kancah perfilman internasional. Film berjudul “Kepaten Obor” garapan Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi UMM, Novin Farid Setyo Wibowo, S.Sos., M.Si., sukses tayang di bioskop Australia.
Selain itu juga sudah mengudara di Washington DC, Amerika Serikat pada 8 Juni 2026. Capaian ini menjadi bukti nyata kapasitas sivitas akademika UMM, sekaligus wadah unjuk gigi di industri kreatif global tanpa meninggalkan identitas budaya lokal.
Novin menjelaskan bahwa karya sinemanya berhasil terpilih dalam ajang bergengsi Indonesia Western Australia Film Festival (IWAFF) di Perth. Dalam festival tahunan tersebut, “Kepaten Obor” diputar di sejumlah bioskop selama sepekan penuh dan mendapatkan antusiasme yang sangat tinggi dari para penonton.
“Alhamdulillah tiketnya sold out semua dan tembus ribuan penonton. Selanjutnya, atas undangan dari Kedutaan Besar Amerika Serikat, film ini juga terpilih untuk ditayangkan di Euro Asia Shorts 2026, sebuah Festival Film di Washington DC,” ungkap Novin.
Mengangkat pesona budaya masyarakat Tengger, Jawa Timur, film ini menyoroti konflik emosional ibu dan anak yang dibalut filosofi Jawa tentang menjaga tali silaturahmi.
Novin menambahkan bahwa produksi film yang digarap sejak 2024 ini bukan sekadar proyek personal, melainkan laboratorium praktik komprehensif yang secara khusus melibatkan 95 persen mahasiswa dan alumni Ilmu Komunikasi UMM.
“Mahasiswa saya ajak belajar bersama. Mereka terlibat langsung mulai dari proses produksi sampai pasca produksi, menjadikan proyek ini ruang belajar riil bagi mereka di lapangan,” jelasnya.
Kualitas “Kepaten Obor” semakin terbukti lewat deretan prestasi domestik, seperti Juara 1 Kompetisi Film Asli Jawa Timur (Komfilasi), nominasi penghargaan AKTIF Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, hingga lolos seleksi Klik Film Festival.
Novin menegaskan bahwa kunci keberhasilan sebuah karya sinema tidak hanya bergantung pada kualitas produksi, melainkan strategi distribusinya yang harus dirancang matang sejak awal, seperti penyediaan subtitle bahasa Inggris agar mampu menjangkau audiens secara luas.
“Film jangan hanya selesai diproduksi lalu disimpan saja. Film harus didistribusikan dan diperluas jaringannya supaya bisa dinikmati lebih banyak orang,” tegasnya.
Keberhasilan penayangan hingga Benua Amerika dan Australia ini diharapkan menjadi katalisator semangat bagi sivitas akademika. Sebagai penutup, Novin berpesan kepada mahasiswa dan generasi muda yang terjun ke dunia perfilman untuk terus memperkaya literasi dan mengasah kepekaan sosial.
Memahami realitas kehidupan adalah modal fundamental untuk melahirkan karya sinema yang memiliki ruh, pesan kuat, serta relevansi luas bagi masyarakat.
“Semakin banyak referensi yang dimiliki, maka semakin bagus film yang dihasilkan,” pungkasnya. (*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




