General Manager Arema FC, Muhammad Yusrinal Fitriandi. (Foto: Arema Official)
MALANG POST – Manajemen Arema FC secara resmi mulai mengalihkan fokus prioritasnya, untuk menggenjot sektor industri olahraga dan ekspansi bisnis klub, menjelang bergulirnya kompetisi Super League musim 2026/2027. Langkah radikal ini ditandai dengan rencana penunjukan sosok direktur bisnis baru yang menjabat sebagai Chief Business and Commercial Officer (CBO) pada awal Juni 2026 ini. General Manager Arema FC, Yusrinal Fitriandi, menegaskan bahwa strategi komersial ini sengaja diambil, guna memperbanyak diversifikasi pendapatan. Sekaligus mendongkrak nilai valuasi ekonomi tim berjuluk Singo Edan pasca-masa transisi Tragedi Kanjuruhan.
Mengelola klub sepak bola profesional itu rumitnya setengah mati. Tidak bisa lagi hanya mengandalkan fanatisme suporter yang berteriak di atas tribun. Urusan prestasi di lapangan hijau memang penting, sangat penting. Tapi, ada yang jauh lebih krusial untuk memperpanjang napas klub: urusan isi dompet. Industri olahraganya harus kuat.
Kesadaran itulah yang kini sedang menancap kuat di kepala manajemen Arema FC. Mereka mulai bergerak. Fokus digeser. Lini bisnis kini resmi menjadi prioritas utama.
Langkah konkretnya sudah disiapkan: menunjuk panglima bisnis baru. Jabatannya mentereng, khas korporasi modern: Chief Business and Commercial Officer. Biasa disingkat CBO.
General Manager Arema FC, Yusrinal Fitriandi, menguliti habis strategi ini. Pria yang akrab disapa Inal ini, blak-blakan bercerita tentang sejarah dapur manajerialnya.
Sejak masa-masa kelam transisi pasca-Tragedi Kanjuruhan 1 Oktober 2022 lalu, Arema sebenarnya dipaksa merayap. Bertahan hidup. Waktu itu, manajemen mencanangkan empat pilar strategis untuk mengembalikan martabat klub.
Pilar pertama: membangun komposisi tim tangguh yang punya daya saing tinggi di Super League. Pilar kedua: memperbaiki hubungan dan merawat komunikasi dengan stakeholder Aremania. Pilar ketiga: memperkuat jaringan kerja sama dengan media massa.
Lalu, apa pilar keempatnya? Menjaga dan meningkatkan valuasi klub di industri sepak bola nasional melalui ekspansi bisnis.
“Selama empat tahun ini kita punya empat pilar yang kita develop. Kami menilai tiga pilar pertama sudah kami kuasai dan menunjukkan perkembangan yang bagus,” ujar Inal.
Nah, karena tiga pilar awal dirasa sudah stabil dan aman di tangan, Arema kini punya rasa percaya diri yang tinggi. Menuju tahun kelima pasca-tragedi, mereka mulai berani melangkah lebih jauh. Mulai fokus bicara soal duit dan bisnis klub.
Targetnya jelas: mempertahankan eksistensi agar nilai jual alias valuasi Singo Edan tidak melorot lagi ke titik nadir. Arema harus bangkit menjadi industri yang sehat.
Logika bisnis Inal sederhana saja. Pendapatan Singo Edan tidak boleh lagi monoton. Tidak bisa hanya mengandalkan sumber-sumber lama yang itu-itu saja.
Selama ini, napas keuangan klub sepak bola lokal biasanya hanya berputar di tiga titik: hasil penjualan tiket laga kandang (home), kucuran dana dari sponsor, dan pendapatan dari toko resmi merchandise.
Singo Edan butuh variasi cuan yang lebih beragam. Harus kreatif.
Itulah alasan utama mengapa posisi CBO baru itu mendesak untuk diaktifkan mulai awal Juni ini. Tugas utamanya berat: menyusun cetak biru strategi bisnis dan melakukan akselerasi pengembangan komersial klub untuk musim depan.
Siapa sosok misterius yang bakal menduduki kursi empuk CBO itu?
Inal masih mengunci rapat bibirnya. Rahasia. Dia masih emoh mengungkap identitas sang calon panglima bisnis. Publik dan Aremania diminta bersabar menunggu rilis resmi dari klub.
Tapi, Inal memberikan sedikit bocoran kisi-kisi. Rekam jejak calon CBO ini terbilang paten di bidang bisnis. Dia tidak hanya kenyang pengalaman di sektor ritel, tetapi juga pernah memegang jabatan serupa di salah satu klub kontestan sepak bola Indonesia.
Artinya, dia orang lama yang paham betul bagaimana cara memeras potensi cuan dari fanatisme sepak bola tanah air.
Sebenarnya, urusan bisnis di Arema ini bukan barang baru yang mendadak muncul dari langit. Fondasinya sudah ada. Arema Store sudah berjalan lama, bahkan kini telah disapih menjadi unit usaha yang berdiri mandiri khusus mengelola merchandise resmi. Ada juga pendapatan dari sektor Akademi Arema yang terus memutar roda pembinaan.
Tapi ke depan, lini-lini bisnis yang sudah ada itu akan dipertegas perannya. Dikembangkan skalanya agar lebih raksasa. Program-program bisnis baru yang lebih modern siap dieksekusi.
Langkah berani memandirikan unit usaha ini menjadi sinyal kuat bahwa Arema FC ingin bertransformasi total menjadi klub yang mandiri secara finansial. Mereka ingin membuktikan bahwa sepak bola bisa menghidupi sepak bola. Kita tunggu saja, siapa sosok CBO baru yang akan menakhodai kapal bisnis Singo Edan ini. (Ra Indrata)




