MALANG POST – Penyerang jangkung asal Brasil, Joel Vinicius (31), sukses menutup kompetisi Super League musim 2025/2026 dengan catatan emas, setelah berhasil memecahkan rekor gol pribadinya sebanyak 15 gol dalam semusim bersama Borneo FC Samarinda dan Arema FC. Di saat manajemen Singo Edan sedang gencar melakukan evaluasi total terhadap nasib para legiun asingnya akhir musim ini, pemain bernomor punggung 9 tersebut dipastikan bisa tidur nyenyak, karena telah mengantongi kontrak panjang hingga 31 Mei 2027 mendatang.
Saat ini, tensi di ruang ganti Arema FC sedang tinggi. Manajemen sedang pusing. Mereka sedang mengobrak-abrik skuad. Melakukan evaluasi total. Terutama untuk urusan legiun asing. Banyak pemain asing yang ketar-ketir menunggu nasib: didepak atau dipertahankan.
Tapi, ada satu orang yang bisa tersenyum lebar. Sangat tenang. Dia bisa tidur nyenyak tanpa beban psikologis sama sekali.
Dialah Joel Vinicius.
Penyerang berpostur raksasa 187 sentimeter itu tidak perlu cemas memikirkan masa depannya musim depan. Mengapa? Karena manajemen Singo Edan sudah mengunci tanda tangannya sejak awal.
Saat ditebus dari Borneo FC Samarinda pada paruh musim lalu, Arema tidak mau berjudi. Pemain kelahiran Sao Paulo ini langsung diganjar kontrak panjang. Durasi masanya masih tersisa setahun ke depan, tepatnya hingga 31 Mei 2027 mendatang. Aman.
Musim pertamanya di Malang pun berakhir dengan istimewa. Kompetisi Super League 2025/2026 baru saja tuntas. Bagi Vinicius, ini adalah musim yang penuh pelajaran dan tantangan.
Catatan statistiknya justru menggila setelah pindah ke Malang. Bersama Arema FC, pemain berusia 31 tahun ini melesakkan delapan gol dan satu assist. Itu diraihnya hanya dalam 15 pertandingan atau setara 1.111 menit bermain.
Angka itu melewati pencapaiannya di putaran pertama saat masih berseragam Borneo FC. Di Samarinda, pemilik jersey nomor 9 ini mengemas tujuh gol dan dua assist.
Maka, jika gol di Borneo dan Arema itu dijumlahkan, hasilnya luar biasa: 15 gol! Vinicius resmi memecahkan rekor gol pribadinya sendiri dalam satu musim kompetisi di Indonesia.
Dia menumpahkan rasa bahagianya lewat akun Instagram pribadi. “Sebuah siklus yang dibagi antara @borneofc.id dan @aremafcofficial, membawa pelajaran, tantangan, dan banyak momen istimewa di lapangan,” tulis Vinicius.
Dia juga menambahkan betapa dirinya menikmati setiap proses. “Senang untuk setiap langkah yang diambil, untuk angka yang dibangun, dan untuk terus berkembang dengan setiap permainan. Rasa syukur kepada Tuhan, keluarga saya, rekan tim, staf, dan penggemar yang selalu ada di setiap momen perjalanan ini!” imbuhnya.
Jika diputar kembali ke belakang, kepindahan Joel Vinicius ke Arema FC sempat menjadi salah satu transfer paling mengejutkan di putaran kedua. Publik bola heran. Bagaimana tidak? Waktu itu dia sedang dalam performa impresif bersama Borneo FC yang sedang mentereng di papan atas klasemen sementara. Kok mau-maunya pindah?
Banyak orang mengira ini soal uang atau fasilitas. Tapi Vinicius menepis anggapan itu. Baginya, keputusan ini murni demi tujuan pribadi dan kenyamanan keluarga sejak pertama kali menginjakkan kaki di Indonesia.
“Ini bukan soal keinginan, tetapi ketika saya datang ke Borneo FC, ke Indonesia, saya mempunyai tujuan untuk menjalani pertandingan yang baik dan mencari beberapa tujuan khusus bagi saya dan keluarga saya. Saya percaya bahwa saya berhasil menjalani pertandingan pertama dengan baik dan beberapa peluang pun muncul,” tutur pemain asal Brasil ini.
Dia juga buru-buru meluruskan persepsi miring. Pindah ke Malang bukan berarti dia menganggap Borneo FC lebih rendah. Sama sekali bukan.
“Bukan karena Borneo FC lebih bagus daripada Arema FC atau Arema FC lebih bagus. Ke depan, keputusan ini juga demi keluarga saya,” tegasnya.
Padahal, Vinicius tahu persis kondisi Arema FC sedang tidak stabil saat dia datang. Tim memulai putaran kedua dengan kekalahan menyakitkan dari Dewa United Banten FC. Posisi Arema saat itu tercecer di peringkat ke-11 klasemen. Ada rangkaian laga panjang tanpa kemenangan. Performa tim sedang di titik nadir.
Tapi, dasar berjiwa petarung, Vinicius justru tertantang oleh situasi sulit itu. “Kami tahu bahwa saat ini Arema FC tidak berada dalam kondisi terbaik di pertandingan. Namun karena Arema FC adalah tim besar, Arema FC juga memiliki basis suporter yang fanatik,” katanya.
Atmosfer stadion yang bergemuruh dan fanatisme Aremania itulah yang menjadi magnet utama. Uang bisa dicari, tapi sensasi bermain di depan stadion yang penuh sesak adalah kemewahan tersendiri bagi seorang pesepak bola. Vinicius ingin memanfaatkan tekanan suporter itu untuk meningkatkan level permainannya sekaligus membantu Singo Edan kembali menjadi tim raksasa.
Target itu sebagian sudah terwujud lewat 15 golnya. Musim depan, dengan kontrak yang aman di saku dan hati yang tenang tanpa beban, Joel Vinicius diprediksi bakal jauh lebih mengerikan di lini depan Arema. Mari kita tunggu pembuktian lanjutan si raksasa Sao Paulo ini. (Ra Indrata)




