MALANG POST – Namanya keren: PATIH. Gagah. Tapi ini bukan nama seorang komandan kerajaan zaman dulu. Ini adalah akronim dari empat jalan yang selama ini paling sering bikin pusing di Kota Batu: Panglima Sudirman, Trunojoyo, Indragiri, dan Hasanudin.
Di titik temu empat jalan itulah—dikenal juga sebagai Simpang Pesanggrahan—sebuah megaproyek penataan kota siap digulirkan.
Pemerintah Kota Batu menaruh perhatian luar biasa di sana. Proyek preservasi dan penataan kawasan Simpang Empat PATIH ini, dipastikan mulai menyentuh aspal jalan pada akhir Juni 2026 ini. Anggarannya tidak main-main untuk ukuran sebuah persimpangan: mencapai Rp6 miliar lebih.
Kepastian eksekusi proyek prioritas tersebut dikupas tuntas dalam program talk show Idjen Talk, yang disiarkan langsung oleh Radio City Guide 911 FM pada Rabu (3/6/2026). Otoritas infrastruktur, lalu lintas, dan parlemen sepakat: simpang ini harus dibongkar total.
Kepala Dinas PUPR Kota Batu, Esty Dwiastuti, membeberkan cetak biru pengerjaannya. Langkah awal sebenarnya sudah dimulai bulan lalu. Persisnya pada 26 Mei, ketika sejumlah lapak pedagang dan sebuah mushola di sekitar lokasi mulai dibongkar dengan tertib.
“Akhir Juni ini pengerjaan fisik kita mulai. Diawali dengan pembersihan lahan. Total waktu pengerjaannya 150 hari ke depan, target kita selesai Desember 2026 nanti,” ujar Esty.
Uang Rp6 miliar itu nanti wujudnya apa saja? Banyak.
Pertama, Jalan Indragiri yang sempit itu bakal dilebarkan. Ditambah 10 meter lagi. Kedua, aspal Jalan Panglima Sudirman yang hobi rusak setiap tahun akan diganti total menggunakan teknologi rigid beton. Kuat. Tahan banting dari kendaraan berat.
“Dan menu utamanya, nanti akan dibangun Bundaran PATIH di tengah persimpangan. Tapi, konstruksi jalan di sekelilingnya harus klir dan kokoh dulu,” tambah Esty.
Siapkan Napas Hadapi Penutupan Ruas Jalan
Ada pembangunan, ada konsekuensi. Warga Batu dan para pelancong harus bersiap menahan napas. Macet sudah pasti mengintai selama lima bulan ke depan.
Kepala Bidang Lalu Lintas Dinas Perhubungan Kota Batu, Muchammad Noor—yang di kalangan sejawat akrab disapa Mamad—mulai memetakan skenario penyelamatan lalu lintas. Simpang PATIH ini adalah gerbang utama. Titik acuan keluar masuknya kendaraan ke jantung Kota Batu. Tiap weekend, jalurnya selalu padat merayap.
“Saat ini kami sedang mematangkan analisa rekayasa lalu lintas. Alat perlengkapan jalan seperti water barrier sudah kita siapkan untuk dipasang di lapangan,” kata Mamad.
Biasanya, Dishub hanya mengandalkan mode flashing (lampu kuning berkedip) dan pengalihan arus minor. Tapi kali ini beda. Proyeknya besar.
Skenario ekstrem sudah disiapkan. Fokus rekayasa lalu lintas nantinya akan melakukan penutupan total di Jalan Hasanudin, Jalan Mawar, dan Jalan Melati.
Dampaknya pasti akan menjalar. Mamad mengingatkan, Jalan Abdul Gani kini masuk dalam radar pengawasan ketat. Jalur ini diproyeksikan bakal menampung limpahan kendaraan dan mengalami banjir kepadatan akibat penutupan tiga ruas jalan utama tersebut.
Taruhan Wajah Wisata Batu
Mengapa proyek ini begitu dipaksakan? Wakil rakyat punya jawabannya.
Ketua Komisi C DPRD Kota Batu, Dewi Kartika, menegaskan bahwa penataan Simpang Empat PATIH bukan proyek kosmetik biasa. Ini adalah kebutuhan mendesak yang disepakati eksekutif dan legislatif.
“Ini proyek prioritas. Kita butuh solusi permanen untuk mengatasi jalan yang langganan rusak di sana, sekaligus menata estetika kawasan yang menjadi wajah pintu masuk kota,” jelas Kartika.
Dewan berjanji tidak akan menutup mata. Pengawasan ketat akan dilakukan agar proyek Rp6 miliar ini tidak molor. Dinas PU juga diklaim sudah melakukan sosialisasi masif kepada warga sekitar agar tidak terjadi riak di lapangan.
“Kami di DPRD juga siap membuka pintu mediasi lebar-lebar jika ada masyarakat yang merasa dirugikan atau terdampak pembangunan ini. Koordinasi dengan Dishub untuk urusan macet juga terus kita kawal,” tegasnya.
Bagi Kartika, taruhan proyek ini sangat manis jika berhasil diselesaikan tepat waktu pada akhir tahun nanti.
“Begitu Simpang Empat PATIH ini mulus dan bundarannya selesai, keandalan lalu lintas Kota Batu naik kelas. Konstruksinya kokoh. Imbas positifnya, kunjungan wisata ke Batu pasti akan melonjak lebih tinggi lagi karena orang tidak kapok terjebak macet,” pungkas Kartika.
Kota Batu memang harus berbenah. Menghancurkan kemacetan di Simpang PATIH butuh ketegasan anggaran dan kesabaran warga yang jalurnya ditutup. Kita tunggu saja, apakah Desember nanti Bundaran PATIH benar-benar berdiri gagah menjadi penyelamat baru lalu lintas Kota Wisata ini. (Yolanda Oktaviani/Ra Indrata)




