JUMBO: Bupati Malang, HM Sanusi, ketika menyerahkan sapi bantuan Presiden Prabowo, kepada takmir Masjid Nurul Iman, Desa Pagersari, Kecamatan Ngantang. (Foto: Prokopim Sekda Kab Malang)
MALANG POST – Pemerintah Kabupaten Malang menerapkan siasat pembagian zonasi wilayah kerja, bagi pimpinan daerah pada momentum Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, Rabu (27/5/2026) pagi. Di saat Bupati Malang, HM. Sanusi, memimpin jajaran dinas sektoral dan menyerahkan satu ekor sapi kurban kemasyarakatan dari Presiden RI, berbobot lebih dari satu ton di Masjid Nurul Iman, Desa Pagersari, Kecamatan Ngantang, pada waktu yang bersamaan Wakil Bupati Malang, Hj. Lathifah Shohib, memecah konsentrasi massa dengan memimpin ibadah Salat Id serta menyalurkan hewan kurban di Masjid Riyadlus Sholihin, Desa Pujon Kidul, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang.
Menjalankan roda pemerintahan di Kabupaten Malang itu butuh stamina ekstra. Luas geografisnya luar biasa. Jarak dari pusat administrasi di Pendopo Kepanjen menuju wilayah ujung barat itu bukan main jauhnya; harus melewati barisan bukit dan jalanan berkelok.
Jika semua pimpinan menumpuk di satu titik, maka area lainnya akan merasa dianaktirikan. Di situlah indahnya manajemen berbagi peran.
Rabu subuh kemarin, dua pucuk pimpinan Kabupaten Malang sengaja membagi rute perjalanan. Mereka meluncur membelah kabut tebal wilayah perbatasan barat. Jalurnya sama, tapi tujuan akhirnya berbeda.
Bupati Sanusi memilih mengarah lurus ke wilayah paling ujung, menetapkan jangkar ibadahnya di Masjid Nurul Iman, Desa Pagersari, Kecamatan Ngantang.
Dia tidak datang sendiri. Sanusi memboyong Sekretaris Daerah Budiar Anwaer, hingga barisan kepala dinas organisasi perangkat daerah (OPD).

BESAR: Wakil Bupati Malang, Hj Lathifah Shohib, menyerahkan sapi kepada takmir masjid Riyadlus Sholihin, Desa Pujon Kidul, Kecamatan Pujon. (Foto: Prokopim Sekda Kab Malang)
Sementara itu, Wakil Bupati Malang, Hj. Lathifah Shohib, memilih mengerem kendaraannya di area dataran tinggi sebelumnya. Cukup di Kecamatan Pujon. Perempuan yang akrab disapa Bu Nyai Lathifah ini masuk ke pelataran Masjid Riyadlus Sholihin, Desa Pujon Kidul.
Siasat pecah kongsi tempat ibadah ini terbukti efektif.
Kehadiran pimpinan daerah secara merata di dua kecamatan bertetangga ini sukses meretas jarak birokrasi, sekaligus merekatkan ukhuwah Islamiyah dengan masyarakat lereng gunung secara vertikal.
Misi yang dibawa keduanya setali tiga uang: mengawal distribusi logistik daging kurban agar mendarat tepat di dapur rakyat kecil.
Di Ngantang, begitu salam penutup salat diketok, halaman Masjid Nurul Iman mendadak geger. Warga berkerumun. Mata mereka terbelalak melihat sesosok hewan kurban bertubuh raksasa yang tertambat di tiang.
Itulah sapi kurban kemasyarakatan kiriman langsung dari Presiden Republik Indonesia. Bobotnya fantastis: melampaui angka satu ton. Sebuah sapi monster yang gemuk, sehat, dan berotot legam.
“Masyarakat Desa Pagersari Ngantang tahun ini mendapatkan perhatian khusus dari Bapak Presiden.”
“Sapi kurban kemasyarakatan berbobot lebih dari satu ton ini adalah bukti nyata bahwa radar kepedulian pemerintah pusat mampu menjangkau hingga ke pelosok desa kita,” ujar Bupati Sanusi semringah saat menyerahkan tali kendali sapi kepada takmir masjid, Rabu (27/5/2026).
Pada menit yang sama di Pujon Kidul, Bu Nyai Lathifah juga melakukan ritual serupa. Dari atas podium Masjid Riyadlus Sholihin, cucu pendiri NU ini memberikan sambutan yang menyejukkan sebelum menyerahkan secara simbolis satu ekor sapi kurban milik Pemkab Malang kepada takmir masjid setempat.
Nyai Lathifah menyoroti tantangan hidup di era digital yang bergerak begitu cepat, di mana kemajuan teknologi justru kerap menciptakan batasan antar-hati manusia di tengah polarisasi sosial.
“Iduladha adalah blueprint atau cetak biru tentang bagaimana manusia seharusnya menghadapi ujian kehidupan. Pengorbanan Nabi Ibrahim Alaihissalam dan keikhlasan Nabi Ismail Alaihissalam harus menjadi inspirasi nyata bagi kita untuk meruntuhkan ego kelompok dan memperkuat solidaritas sosial di Kabupaten Malang,” papar Wakil Bupati Lathifah Shohib dengan gaya bicaranya yang khas dan santun.
Anda sudah tahu: membangun sebuah daerah yang luas seperti Kabupaten Malang tidak bisa hanya bersandar pada kokohnya fondasi beton jalan raya di pusat kota Kepanjen.
Sebuah daerah akan rawan rapuh jika jembatan batin antara pemimpin dan rakyat di wilayah pinggiran putus.
Napas spiritual itulah yang ingin dihidupkan kembali oleh Sanusi dan Lathifah di perbatasan Pujon-Ngantang. Pemerintah harus hadir secara fisik, bukan sekadar mengirimkan selembar surat ucapan selamat dari balik meja kerja di balai kota.
“Kabupaten yang kita cintai ini tidak hanya tegak karena kemajuan pembangunan fisiknya, tetapi juga abadi karena kemuliaan akhlak dan kepedulian masyarakatnya yang saling berbagi,” tambah Nyai Lathifah dari Pujon, menggemakan pesan kedamaian yang sama dengan apa yang disuarakan Bupati Sanusi di Ngantang.
Hari Raya Kurban di ujung barat Kabupaten Malang tahun ini berakhir dengan kepuasan batin yang mendalam.
Melalui pembagian tugas yang rapi antara Bupati dan Wakil Bupati, dua ekor sapi berukuran jumbo kini bersiap dieksekusi oleh para takmir.
Berkah gizi dari istana presiden dan pemerintah daerah mengalir bersamaan, membuktikan bahwa di bawah kepemimpinan Sanusi-Lathifah, keadilan sosial dan perhatian negara hadir nyata merata hingga ke bilik-bilik rumah warga di lereng gunung. (PKP/Ra Indrata)




