Ps. Kasi Humas Polres Batu, Iptu M. Huda Rohman. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
MALANG POST – Jajaran Kepolisian Resor (Polres) Batu, secara resmi memastikan bahwa kabar burung terkait kemunculan sosok misterius “pocong begal” yang viral di berbagai platform media sosial selama beberapa hari terakhir, adalah berita bohong alias hoaks, Senin (25/5/2026). Guna meredam keresahan masyarakat yang mulai takut keluar malam, Ps. Kasi Humas Polres Batu, Iptu M. Huda Rohman, langsung menginstruksikan seluruh personel polsek jajaran untuk memperketat patroli di jalur-jalur rawan wisata dan meminta warga berhenti menyebarkan konten video tanpa bukti autentik tersebut.
Ada-ada saja kelakuan netizen kita. Setelah Kota Malang riuh, kini giliran Kota Wisata Batu yang coba digoyang isu mistis nan kriminal: pocong begal.
Layar ponsel warga Batu belakangan ini mendadak horor. Potongan video buram dan tangkapan layar percakapan WhatsApp disebar secara berantai. Narasinya bikin bulu kuduk berdiri: ada pocong berkeliaran di tepi jalan sepi. Tugasnya menakut-nakuti pengendara, lalu merampas sepeda motornya.
Kabar itu menggelinding liar secepat kilat. Efeknya nyata. Ibu-ibu mulai cemas, para pekerja malam ketakutan, dan pemuda yang biasa nongkrong di warung kopi memilih pulang lebih awal.
Apakah pocong begal itu benar-benar nyata?
Polres Batu tidak mau membiarkan imajinasi liar media sosial ini, merusak psikologis warga dan kenyamanan para wisatawan. Mereka langsung menurunkan tim untuk menyisir lapangan. Hasilnya? Nihil. Tidak ada pocong, tidak ada begal bermodus kain kafan.
Iptu M. Huda Rohman angkat bicara dengan nada taktis. Dia meminta masyarakat menggunakan akal sehat, bukan emosi saat menerima kiriman video di grup siber.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak mudah terpancing informasi yang belum jelas sumber dan kebenarannya. Sampai saat ini belum ada laporan resmi dari masyarakat terkait kejadian sebagaimana yang viral di media sosial,” ujar Huda Rohman, Senin (25/5/2026).
Huda membedah pola hoaks ini. Videonya dramatis, tapi lokasinya remang-remang. Waktu kejadiannya tidak jelas, dan tidak ada saksi mata satu pun yang berani memvalidasi fakta di depan penyidik. Itu adalah ciri utama dari sebuah hoaks murahan yang sengaja diproduksi untuk berburu viewers dan likes.
Anda sudah tahu: menyebarkan ketakutan itu dampaknya sistemik. Bukan cuma bikin resah, tapi bisa memicu tindakan spekulatif yang berbahaya.
Polisi sangat khawatir jika isu liar ini dibiarkan, warga bisa menjadi paranoid lalu melakukan aksi main hakim sendiri. Ada orang berjalan malam hari dengan pakaian putih sedikit saja, langsung dituduh pocong begal lalu dikeroyok. Itu bisa menjadi pelanggaran hukum baru.
“Jangan sampai informasi yang belum tentu benar justru menimbulkan tindakan yang melanggar hukum,” tegasnya bertenaga.
Lalu, apa tindakan konkret polisi di lapangan?
Mereka tidak mau sekadar merilis bantahan di atas kertas. Blue light patrol—patroli dengan lampu biru menyala—kini dilipatgandakan intensitasnya. Pasukan Sabhara membelah kegelapan malam, menyisir jam-jam rawan dan titik-titik sepi yang sering dituduh sebagai tempat mangkal sang pocong fiktif.
Huda menjamin, situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di Kota Batu hingga detik ini masih sangat aman. Kondusif. Wisatawan silakan tetap datang menikmati dinginnya malam Kota Batu tanpa perlu dibayangi ketakutan takhayul.
Meski begitu, polisi tetap meminta partisipasi aktif warga. Jika melihat ada pergerakan sekelompok orang yang mencurigakan—entah itu pelaku kriminal asli atau remaja yang iseng prank jadi pocong—jangan main hakim sendiri.
Segera angkat telepon. Hubungi layanan darurat kepolisian di nomor 110. Petugas terdekat dipastikan akan langsung meluncur ke lokasi kejadian.
“Kami harap masyarakat tidak ikut menyebarkan ulang konten tersebut agar kita bersama-sama bisa menekan peredaran hoaks,” pungkas Huda.
Pocong begal itu dipastikan seratus persen fiktif. Di dunia nyata Kota Batu, yang ada hanyalah patroli polisi yang sigap menjaga keamanan, dan komitmen bersama warga Arema untuk menjaga kota dingin ini tetap menjadi tempat yang paling hangat dan aman untuk dikunjungi. (Ananto Wibowo/Ra Indrata)




