HADIAH: Bupati Sanusi ketika memberikan bingkisan kepada perwakilan pemulung dan sopir truk sampah di TPA Talangagung. (Foto: Prokopim Sekda Kab Malang)
KEPANJEN – Bupati Malang, Drs. H.M. Sanusi, M.M., melakukan maraton kunjungan kerja dinas ke sejumlah fasilitas pelayanan publik, untuk meresmikan gedung baru di Puskesmas Pakisaji sekaligus membagikan paket sembako serta jaminan kesehatan bagi ratusan penggiat sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Talangagung, Kepanjen, Kamis (21/5/2026). Di sela-sela inspeksi tersebut, orang nomor satu di Pemerintah Kabupaten Malang ini juga mengejutkan jajarannya dengan menginstruksikan perbaikan total infrastruktur puskesmas menuju standar Rumah Sakit Tipe C serta mematenkan jaminan BPJS gratis bagi para pemulung dan sopir truk sampah.
Kamis pagi itu, suasana di Puskesmas Pakisaji mendadak berubah tegang, lalu cair penuh tawa.
Bupati Malang, HM Sanusi—yang akrab disapa Abah Sanusi—datang menyusuri lorong-lorong pelayanan. Tidak ada protokol yang kaku. Matanya yang jeli langsung menyisir setiap sudut. Mulai dari kondisi fisik bangunan, akses jalan, hingga ruang Unit Gawat Darurat (UGD).
Abah Sanusi tahu betul: puskesmas adalah garda terdepan. Tempat rakyat kecil mencari kesembuhan. Maka fasilitasnya tidak boleh setengah-setengah.
Begitu melihat halaman luar dan akses menuju UGD yang kurang nyaman, dia langsung memanggil Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Cipta Karya (DPKPCK). Detik itu juga, instruksi tegas keluar dari mulutnya: benahi infrastruktur Pakisaji.
“Pasang kanopi biar pasien tidak kepanasan. Renovasi jalan halaman, benahi jalur UGD, dan bangun sistem drainase yang bagus. Jangan sampai ada genangan air di area pelayanan kesehatan,” perintah Sanusi dengan nada taktis. Khas gaya bicaranya yang langsung ke sasaran.
Pakisaji memang sedang disiapkan untuk lompatan besar. Kunjungan pasien yang terus melonjak membuat Pemkab Malang berkomitmen menaikkan kelas puskesmas ini menjadi Rumah Sakit Tipe C. Hari itu, Sanusi juga meresmikan gedung pertemuan baru di sana.
Namun, ada momen mengharukan di akhir peninjauan.
Para pegawai puskesmas tiba-tiba membawa kue. Ada nyanyian. Suasana mendadak hangat. Kemarin, 20 Mei 2026, ternyata adalah hari ulang tahun ke-66 Abah Sanusi. Sebuah kejutan kecil di tengah padatnya jadwal dinas bupati yang dikenal gemar turun ke lapangan ini.

INSTRUKSI: Sanusi saat memberikan perintah kepada pihak terkait di Puskesmas Pakisaji, untuk memperbaiki beberapa infrastruktur, sebagai persiapan menjadi rumah sakit tipe C. (Foto: Prokopim Sekda Kab Malang)
Tapi, Sanusi tidak berlama-lama larut dalam pesta kue ulang tahun.
Usai dari Pakisaji, mobil dinasnya langsung meluncur ke arah selatan. Tujuannya: Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Talangagung, Kepanjen.
Dari tempat yang wangi obat-obatan di puskesmas, berpindah ke tempat yang penuh dengan bau menyengat tumpukan sampah.
Didampingi Sekretaris Daerah, Budiar Anwar, Sanusi ingin menemui para penggiat sampah. Bukan hanya dari Talangagung, perwakilan pemulung dan sopir truk dari TPA Paras Poncokusumo serta TPA Randugading Singosari juga berkumpul di sana.
Bagi Sanusi, mereka adalah pahlawan sunyi. Tanpa para pemulung dan pengemudi truk sampah, wajah Kabupaten Malang pasti sudah tenggelam dalam tumpukan limbah.
Presiden Joko Widodo sendiri sudah mewanti-wanti: urusan sampah adalah prioritas nasional. Gerakan kebersihan (curve) harus digalakkan sampai ke tingkat kecamatan.
Di Kabupaten Malang, urusan sampah ini sudah naik kelas. Pemerintah daerah telah menggandeng pihak ketiga, EPW, dan mendapat dukungan penuh dari Pemerintahan Denmark untuk menerapkan teknologi pengolahan sampah yang benar.
“Namun, apa pun teknologinya, fondasi dasarnya ada di rumah warga. Sampah harus sudah terpilah dari hulu,” kata Sanusi di hadapan para penggiat sampah.
Sanusi meminta para camat dan kepala desa tidak bosan mengetuk pintu rumah warga untuk mengedukasi pemilahan sampah organik dan anorganik.
Jika sampah sudah terpilah sejak dari dapur, proses pengolahan di TPA akan jauh lebih mudah. Anggaran daerah pun bisa dihemat miliaran rupiah.
Sebagai kado balik di hari ulang tahunnya, Sanusi membawa oleh-oleh berharga bagi para pemulung dan sopir truk sampah. Selain membagikan paket sembako, dia mengeluarkan instruksi khusus yang bikin para pejuang kebersihan itu tersenyum lebar.
Dia memerintahkan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk mencatat semua nama pemulung dan driver truk sampah yang belum terlindungi jaminan sosial.
“Data BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaannya. Masukkan ke dalam program BPID (Biaya Pelayanan Kesehatan Masyarakat Miskin Daerah) melalui Dinas Sosial. Negara harus hadir menjamin kesehatan mereka,” tegas Sanusi yang langsung disambut tepuk tangan riuh.
Kunjungan kerja seharian penuh itu memberikan gambaran jelas: memimpin Kabupaten Malang yang luas memang butuh stamina ekstra. Di usia yang menginjak 66 tahun, Sanusi menunjukkan bahwa mengurus daerah itu harus seimbang.
Infrastruktur medisnya dicanggihkan, tapi nasib wong cilik di tumpukan sampah pun tidak boleh dilupakan. (PKP/Ra Indrata)




