MALANG POST— Universitas Negeri Malang (UM) kembali menorehkan prestasi gemilang di panggung global. Tim lintas fakultas UM berhasil meraih Gold Award kategori Social Sciences dalam ajang International Tinker Innovation and Entrepreneurship Competition 2026 (I-TIEC) yang diselenggarakan oleh Universiti Teknologi MARA (UiTM), Malaysia, pada Rabu (17/4/2026).
Tim ini digawangi Zaara Safira dari S1 Teknologi pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) sebagai ketua, bersama Alifia Shafarotuz Zahra dan Valenia Citra Amartha S1 Teknologi pendidikan FIP sebagai UI/UX designer, serta Nabila Salsa Billa S1 Pendidikan Bahasa, sastra Indonesia, dan daerah, Fakultas Sastra (FS) sebagai penulis artikel dan presenter.
Mereka menghadirkan inovasi bertajuk NeuLearn, sebuah platform Learning Management System (LMS) berbasis pengalaman pengguna (user experience) yang dirancang lebih intuitif dan adaptif.
Berangkat dari tantangan nyata di dunia pendidikan, Zaara mengungkapkan bahwa ide NeuLearn muncul dari dorongan dosen sekaligus peluang kompetisi yang terbuka. Dalam waktu persiapan yang terbilang singkat, hanya sekitar 10 hari, tim langsung bergerak cepat menyusun konsep.
“Awalnya kami cukup bingung, tetapi setelah berdiskusi dengan kakak tingkat, kami mulai mengembangkan ide LMS dengan pendekatan berbeda,” ujarnya saat diwawancarai Tim Humas UM pada Rabu (29/4/2026).

GOLD AWARDS: Dengan capaian ini, UM kembali menegaskan posisinya sebagai kampus inovatif yang mampu bersaing di tingkat internasional. (Foto: Istimewa)
Secara strategis, tim melakukan riset komparatif terhadap berbagai sistem LMS di sejumlah negara, seperti Australia, China, Taiwan dan Malaysia. Hasil riset tersebut menjadi fondasi dalam merancang fitur yang relevan sekaligus inovatif. Namun, Valenia menegaskan bahwa pengembangan tetap disesuaikan dengan kebutuhan pengguna di Indonesia, khususnya Malang.
Lebih jauh, NeuLearn menghadirkan dua versi utama, yakni untuk pengajar dan mahasiswa. Pada versi pengajar, platform ini dilengkapi fitur berbasis artificial intelligence (AI) yang mampu untuk pembuatan modul dan penugasan, termasuk fitur unggah otomatis.
Selain itu, tersedia sistem penilaian otomatis yang memungkinkan dosen memasukkan rubrik penilaian, kemudian sistem akan menghasilkan nilai beserta alasannya. Hasil tersebut tetap memerlukan peninjauan terlebih dahulu oleh dosen sebelum disetujui. Dosen juga dilengkapi fitur untuk menerima atau menolak permintaan mahasiswa terkait perpanjangan tenggat waktu tugas.
Sementara itu, versi mahasiswa menawarkan fleksibilitas pengumpulan tugas, integrasi video conference, serta akses AI dalam satu platform tanpa perlu berpindah aplikasi.
Di balik capaian tersebut, tim mengakui adanya tantangan besar, terutama keterbatasan waktu dan proses pengerjaan yang bertepatan dengan bulan puasa. Meski demikian, hasil yang diraih justru melampaui ekspektasi.
“Kami tidak menyangka bisa meraih Gold Award, ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi tim,” kata Nabila.
Selaras dengan agenda global United Nations melalui program Sustainable Development Goals (SDGs), inovasi NeuLearn mendukung tujuan ke-4, yakni pendidikan berkualitas (Quality Education).
Platform ini diharapkan tidak berhenti sebagai karya kompetisi, melainkan dapat diimplementasikan di lingkungan UM guna mendorong sistem pembelajaran yang lebih efektif, inklusif, dan berbasis teknologi.
Dengan capaian ini, UM kembali menegaskan posisinya sebagai kampus inovatif yang mampu bersaing di tingkat internasional sekaligus berkontribusi nyata dalam transformasi pendidikan digital. (*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




