KEMBALI RAPUH: Setelah sempat tiga kali clean sheet berturutan, gawang Lucas Frigeri kembali bobol. Bahkan tidak tanggung-tanggung, empat gol bersarang dalam satu laga. (Foto: Arema Official)
MALANG POST – Arema FC harus menelan pil pahit, setelah dipermalukan rival abadi mereka, Persebaya Surabaya, dengan skor telak 0-4 dalam laga pekan ke-30 Super League 2025/2026 di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Selasa (28/4/2026) malam.
Kekalahan memalukan di “partai usiran” ini menjadi sorotan tajam lantaran lini pertahanan Singo Edan yang sebelumnya dikenal kokoh, mendadak rapuh dan kehilangan semangat juang khas Malangan di hadapan tim tamu.
Empat gol kemenangan Bajul Ijo bersarang dengan sangat mudah ke gawang Arema FC, seolah menembus tim yang tidak memiliki skema bertahan solid.
Padahal, benteng pertahanan ini sebelumnya sukses membuat frustrasi Persib Bandung—sang pemuncak klasemen—pada pekan ke-29 lalu. Kala itu, meski digempur 28 tembakan di Gelora Bandung Lautan Api, gawang Arema tetap perawan.
Namun, pemandangan kontras terjadi saat menjamu Persebaya. Tim tamu yang hanya mencatatkan 29 persen penguasaan bola justru tampil sangat efektif.
Dari total sembilan tembakan, tujuh di antaranya tepat sasaran, dan empat berhasil dikonversi menjadi gol.
Pesta gol Persebaya diawali oleh Francisco Rivera pada menit ke-49 dan ke-82, disusul Jefferson da Silva menit ke-76, serta ditutup oleh Mikael Alfredo Tata pada menit ke-86.
Sebaliknya, daya serang Arema FC yang mendominasi 61 persen penguasaan bola dengan 12 tembakan (4 on target) justru mandul.
Strategi pelatih Marcos Santos yang menurunkan Dalberto Luan Belo menggantikan Julian Guevara untuk memperuncing serangan justru menjadi bumerang.
Johan Alfarizi dan kawan-kawan tampil monoton, sering kehilangan konsentrasi, dan kehilangan karakter ngotot serta transisi cepat yang selama ini menjadi identitas Singo Edan.
Marcos Santos: Ini Memalukan
Ditemui dalam sesi konferensi pers usai laga, pelatih Arema FC, Marcos Santos, tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya. Ia secara terbuka meminta maaf kepada Aremania atas hasil yang disebutnya sangat memalukan tersebut.
“Saya meminta maaf kepada seluruh pendukung. Kami tidak menunjukkan sikap yang seharusnya dimiliki saat menghadapi pertandingan derby sebesar ini.”
Kami kehilangan fokus, terutama dalam transisi bertahan setelah kebobolan gol kedua melalui bola pantul penalti,” ujar Marcos Santos dengan nada menyesal.
Pelatih asal Brasil ini juga menyoroti kelelahan fisik pemain yang menghambat efektivitas permainan. Namun, ia enggan menjadikan faktor kelelahan perjalanan sebagai alasan utama.
“Siapa pun yang berada di lapangan seharusnya memberikan performa dan jiwa yang lebih besar untuk tim ini,” tegasnya.
Pemain Merasa Malu
Senada dengan sang pelatih, penggawa Arema FC, Matheus Blade, mengaku terpukul dengan hasil akhir. Ia menyebut ada perbedaan mentalitas yang mencolok antara kedua tim di lapangan.
“Kami sangat malu. Kami datang untuk memainkan pertandingan biasa, sementara Persebaya datang dengan mentalitas derby yang sesungguhnya. Rasanya sangat berat bahkan untuk berdiri di sini sekarang,” ungkap gelandang asal Brasil itu.
Bagi Blade, tidak ada cara lain untuk menebus dosa ini selain menyapu bersih laga tersisa di musim ini.
Kekalahan ini menjadi evaluasi besar bagi manajemen dan tim pelatih Arema FC untuk segera mengembalikan mentalitas “Singo Edan” yang seakan hilang dalam laga krusial tersebut. (Ra Indrata)




