Pembukaan oleh Sujarwo, Direktur Direktorat Kemahasiswaan Universitas Brawijaya. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Semua orang umumnya pernah merasakan stres dengan ambang batas yang berbeda-beda. Namun, bukan berarti stres itu tidak diperbolehkan. Yang terpenting ialah kemampuan untuk memahami kerentanan yang dimiliki, melihat potensi, serta mengkompensasi kekurangan atau batasan yang dimiliki.
Demikian disampaikan Kaprodi Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) dr. Frilya Rachma Putri, Sp.KJ., dalam acara Webinar Series: Kampus Sehat Mental, Sabtu (25/4/2026).
Ia menerangkan, kesehatan mental terbentuk melalui berbagai faktor, salah satunya adalah kerentanan kepribadian, yakni berkaitan dengan respons individu terhadap stres maupun situasi. Bagaimana cara mereka menangani tekanan, serta menginterpretasikan kejadian atau perbuatan orang lain terhadap diri mereka sendiri.
“Perbedaan kehidupan kampus dengan sekolah menengah atas mengharuskan peserta didik mampu beradaptasi. Maka dari itu, diperlukan lingkungan kampus yang mendukung kesehatan mental, karena hal ini memiliki peran penting dalam proses adaptasi mahasiswa.”
Oleh karena itu, ia mengingatkan pentingnya lingkungan yang suportif untuk menjaga kesehatan mental satu sama lain.
“Support system itu sangat diperlukan. Karena kurangnya dukungan antarsesama dapat melemahkan gangguan yang dimiliki seorang individu,” katanya.

Pemaparan materi 4: mental health strategy oleh Ratri. (Foto: Istimewa)
Disampaikan dr. Frilya, sehat mental atau sehat jiwa merupakan kondisi di mana seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial. Nantinya ia akan dapat mengatasi tekanan, hingga menyadari kemampuan sendiri serta berperilaku produktif, agar mampu memberikan kontribusi ke sekitarnya.
“Seseorang dapat disebut sehat dan bahagia, apabila ia dapat menghadapi tantangan hidup, memiliki sifat positif terhadap diri sendiri dan orang lain, kemampuan berpikir logis dan jernih, kemampuan menjaga relasi interpersonal yang baik, kemampuan beradaptasi dan berkembang dengan baik, serta kemampuan memiliki empati,” paparnya.
Sejalan dengan upaya mewujudkan kampus sehat mental, dosen Psikologi UB Ratri Nurwanti, S.Psi., M.Psi., Psikolog, menyampaikan teknik mengelola stres untuk membangun resiliensi. Yakni kemampuan individu untuk bersifat tangguh dengan berusaha berkembang dan beradaptasi.
“Di Indonesia terjadi semacam paradoks, di mana terjadi peningkatan pemahaman akan kesehatan mental, namun angka gangguan mental juga meningkat secara statistik,” katanya mengawali materi.
Fenomena ini memicu diskusi lebih dalam tentang pengelolaan isu-isu kesehatan mental.
Ratri menjelaskan bahwa otak manusia memiliki kemampuan untuk mendeteksi hal-hal yang dianggap sebagai stresor ancaman.

Pemaparan materi 1: mental health awareness oleh Frilya. (Foto: Istimewa)
Kemudian, mekanisme tubuh kita akan bekerja untuk mengambil tindakan terhadap stresor tersebut. Tubuh kita dapat memilih untuk menghadapi, menghindari, atau hanya berdiam diri. Dasar pengambilan keputusan didasari oleh bagaimana individu memaknai stresor tersebut.
Ia kemudian menyebutkan dua tipe stres, yaitu eustress dan distress. Eustress adalah tekanan yang dipersepsikan sebagai tantangan yang dapat membantu individu untuk berkembang, sedangkan distress adalah tekanan yang dianggap sebagai hal yang negatif.
“Terkadang dalam hidup, kita butuh sedikit stres,” ujarnya. Ia kemudian menjelaskan bahwa sebenarnya performa individu dapat teroptimalisasi ketika muncul stresor atau ancaman yang bersifat menekan, yang kemudian akan memunculkan keinginan untuk bertahan dan berkembang.
Hal tersebut mengacu pada konsep hormesis, di mana ketika seseorang dipaparkan pada stresor ringan akan memicu respons adaptif yang dapat meningkatkan ketahanan terhadap stresor yang lebih besar.
“Ketika kita menghadapi tantangan secara adaptif, sebenarnya kita telah melewati fase pertumbuhan,” tambah Ratri.
Webinar yang diselenggarakan oleh Subdirektorat Konseling, Pencegahan Kekerasan Seksual, dan Perundungan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan isu-isu mental health agar tercipta lingkungan kampus yang sehat mental.
Kepala Subdirektorat Konseling, Pencegahan Kekerasan Seksual dan Perundungan Direktorat Kemahasiswaan UB Ulifa Rahma, S.Psi., M.Psi., saat membuka acara menyampaikan bahwa acara ini merupakan bagian dari program prioritas rektor yang akan berjalan selama satu tahun dan diwajibkan bagi seluruh fakultas di UB.

Pengenalan layanan konseling oleh Ulifa. (Foto: Istimewa)
Ia berharap agar wawasan yang diterima tentang isu dan fenomena yang diangkat melalui webinar ini dapat dikembangkan serta diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Layanan konseling UB memang telah menangani cukup banyak kasus kesehatan mental, namun kami juga fokus pada positive psychology. Yang berarti pengembangan potensi serta aktualisasi diri yang pada akhirnya akan membantu penanganan masalah yang pernah dialami selama perkuliahan,” jelasnya.
Dalam webinar ini, Ulifa turut menjelaskan bahwa layanan konseling dapat diakses online melalui website, serta tatap muka. Layanan konseling menghadirkan beragam psikolog dengan fokus yang spesifik, sehingga konsumen dapat mendengar solusi dari ahli di bidangnya masing-masing.
Tak hanya psikolog profesional, hadir pula peer counselor sebagai konselor sebaya yang telah mendapat supervisi profesional. Tujuannya adalah agar isu kesehatan mental, maupun isu lainnya dapat tertangani dengan baik.
Mendukung hal tersebut, Direktur Direktorat Kemahasiswaan UB, Dr. Sujarwo, S.P., M.P., menyatakan bahwa jajaran Direktorat Kemahasiswaan UB bersama tim telah melakukan usaha yang besar untuk memperkuat kesadaran akan kesehatan mental.
“Kami selama ini telah bekerja keras dan saling bahu-membahu untuk menguatkan sisi mental mahasiswa,” ucapnya.
Koordinator Internal Peer Counselor sekaligus Ketua Pelaksana Acara Vanessa Natalie, menyampaikan harapan serta pesannya kepada seluruh mahasiswa serta individu di dalam maupun di luar UB.
“Saya harap webinar ini dapat meningkatkan kesadaran serta pemahaman akan kondisi kesehatan mental diri sendiri, dan juga yang berada di sekitarnya. Janganlah ragu untuk mencari pertolongan, baik ketika kalian merasa masalah itu ringan maupun sedang. It’s okay to get help. Karena sudah menjadi tugas kami sebagai bagian dari layanan konseling UB untuk selalu sedia mendengarkan,” tutupnya. (*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




