MALANG POST – Di antara ribuan peserta yang melangkah tegap membawa map berisi kartu ujian, ada pemandangan lain yang tak kalah menyentuh.
Deretan orang tua (ortu) yang berdiri di tepi jalan, duduk di selasar gedung, hingga yang sekadar menyandar di kursi taman.
Bagi mereka, hari pertama Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026 bukan sekadar ujian tulis bagi sang buah hati, melainkan sebuah pertaruhan harapan yang diperjuangkan dengan peluh dan doa.
Zamzam, seorang Ayah asal Kediri ini menempuh perjalanan panjang dengan sepeda motor demi mengantar putranya, Sultan. Demi momen ini, Zamzam rela menanggalkan seragam kantornya dan mengambil cuti dua hari.
”Saya berangkat dari Kediri kemarin, menginap di daerah Bukit Cemara Tujuh,” kisahnya.
Baginya, menempuh puluhan kilometer dengan roda dua adalah bentuk dukungan paling nyata yang bisa ia berikan
“Ini tentang masa depan anak. Saya hanya ingin dia tahu bahwa ayahnya ada di sini, mendukung mimpinya sampai jadi nyata,” kata Zam Zam.

Pemandangan tak jauh berbeda terlihat di depan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB). Pasangan suami istri, Sulastri dan Sunardi, tampak duduk tenang namun raut wajah mereka tak bisa menyembunyikan kecemasan.
Mereka datang jauh-jauh dari Probolinggo sejak pukul 03.00 dini hari. Tahun ini adalah babak kedua bagi putra mereka, Fahat, yang sempat gagal di UTBK tahun lalu.
“Karena pernah gagal, sekarang semangatnya harus lebih tinggi. Kami ingin dia merasa yakin bahwa kegagalan kemarin bukan akhir,” tutur Sulastri lembut.
Kehadiran mereka di sana adalah penawar rasa trauma. Sebuah pengingat bagi Fahat bahwa ada bahu tempatnya bersandar, apapun hasilnya nanti.
Dukungan tidak selalu berupa materi atau kehadiran fisik di hari ujian. Bagi Ardian, seorang pengemudi ojek online asal Sawojajar, perjuangan sudah dimulai jauh sebelum hari ini.
Di sela-sela waktu mencari penumpang, ia kerap mengirimkan tautan informasi soal-soal UTBK kepada anaknya.
”Saya ajak diskusi, saya amati proses belajarnya. Saya ingin dia siap secara mental,” ujar Ardian.

Meski harus mengejar setoran, ia memilih hadir langsung di kampus UB untuk memastikan sang anak tidak merasa berjuang sendirian.
Kisah unik juga datang dari Ibu Rasinah. Nenek asal Bojonegoro ini datang memboyong keluarga besar demi mendukung cucu pertamanya, Khoirus.
Tidak tanggung-tanggung, mereka menjadikan mobil sebagai “rumah sementara” untuk beristirahat selama di Malang.
”Kami menginap dan istirahat di mobil saja. Tidak apa-apa, yang penting bisa mendampingi,” ujar Rasinah yang sehari-harinya bekerja sebagai petani.
Baginya, fleksibilitas waktu sebagai petani adalah berkah yang memungkinkannya menyaksikan momen bersejarah dalam hidup cucunya.
Saat lonceng ujian berakhir nanti, ribuan peserta akan keluar dari ruangan dengan berbagai raut wajah. Namun bagi para orang tua ini, perjuangan tidak berhenti saat lembar jawaban dikumpulkan.
Di sepanjang jalan Fakultas Kedokteran hingga Samantha Krida, mereka tetap berdiri di sana—menjadi pelabuhan pertama bagi anak-anak mereka, membawa harapan agar nama buah hati mereka terukir di pengumuman kelulusan nanti. (*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




