CALON PETANI: Bupati Malang dan undangan lainnya, bersama-sama siswa SMPN 1 Wajak, dalam momen peluncuran Gerakan Ketahanan Pangan Berbasis Sekolah. (Foto: Prokopim Sekda. Kab. Malang)
MALANG POST – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang, melakukan langkah progresif dalam mengantisipasi krisis pangan masa depan dengan menyasar sektor pendidikan.
Bupati Malang, HM Sanusi, bersama Ketua Umum Yayasan Swatantra Pangan Nusantara (YSPN), Marsekal Madya TNI (Purn) Daryatmo, meluncurkan Gerakan Ketahanan Pangan Berbasis Sekolah, yang dipusatkan di SMPN 1 Wajak, Kamis (23/4/2026) siang.
Langkah ini merupakan integrasi strategis antara edukasi lingkungan hidup dan kemandirian ekonomi, yang bertujuan menanamkan kesadaran swasembada pangan kepada generasi muda sejak dini.
Melalui kolaborasi ini, sekolah tidak lagi sekadar menjadi tempat belajar teori, melainkan laboratorium hidup bagi terciptanya ekosistem pangan mandiri di level komunitas.
Hadir dalam momentum penting tersebut, Dandim 0818 Malang-Batu Letkol Czi Bayu Nugroho, jajaran Kepala Perangkat Daerah Kabupaten Malang, Forkopimcam Wajak, serta keluarga besar SMPN 1 Wajak yang menyambut antusias kehadiran rombongan.
Membangun Karakter Generasi Produktif
Dalam sambutannya yang penuh semangat di hadapan para siswa dan guru, Bupati Malang menegaskan, kehadiran pengurus YSPN di Kabupaten Malang merupakan sebuah energi positif. Menurutnya, isu ketahanan pangan adalah isu krusial yang harus dijawab dengan aksi nyata, bukan sekadar wacana di atas kertas.
“Kehadiran Bapak dan Ibu sekalian merupakan kehormatan sekaligus suntikan energi bagi kami. Pemkab Malang berkomitmen penuh dalam memperkuat sektor pembangunan, di mana pendidikan dan ketahanan pangan menjadi dua pilar yang tidak bisa dipisahkan,” ujar Abah Sanusi, panggilan akrab Bupati Sanusi.

SAMBUTAN: Bupati Malang, HM Sanusi saat berbicara di hadapan siswa SMP Negeri 1 Wajak. Mengajak para siswa untuk menjadi petani milenial. (Foto: Prokopim Sekda. Kab. Malang)
Politisi kawakan ini mengapresiasi tinggi inisiatif YSPN yang memilih sekolah sebagai basis gerakan. Ia menilai, karakter siswa yang masih dalam masa pertumbuhan sangat ideal untuk dibentuk menjadi pribadi yang produktif, mandiri, dan peduli terhadap kelestarian alam.
“Program ini bukan sekadar kegiatan edukatif musiman. Ini adalah investasi jangka panjang untuk membentuk karakter generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tapi juga tangguh dalam menghadapi tantangan pangan di masa depan,” tegasnya.
Sinergi Adiwiyata dan Swasembada Pangan
Satu hal yang menarik dari peluncuran ini adalah penggabungan konsep antara Sekolah Adiwiyata yang sudah lama eksis dengan konsep Swasembada Pangan. Saat ini, Kabupaten Malang tercatat memiliki 127 sekolah yang telah menerapkan program Adiwiyata, yang fokus pada pengelolaan lingkungan berkelanjutan.
Bupati Sanusi melihat adanya korelasi yang sangat kuat di antara keduanya. Sekolah Adiwiyata yang selama ini fokus pada penghijauan dan pengolahan sampah, kini didorong setingkat lebih tinggi untuk menjadi unit produksi pangan lokal, seperti sayuran, buah-buahan, hingga peternakan ringan atau perikanan skala sekolah.
“Kita sudah punya modal 127 sekolah Adiwiyata. Dengan masuknya program Swasembada Pangan dari YSPN, ekosistem pendidikan kita akan menjadi lebih berdaya secara ekonomi dan sosial. Siswa akan belajar bahwa lahan sekecil apa pun di sekitar mereka, jika dikelola dengan ilmu, akan menghasilkan sumber pangan yang sehat,” urai politisi PDI Perjuangan ini.
Menurutnya, jika budaya mandiri pangan ini sudah tertanam di sekolah, maka virus positif tersebut akan terbawa hingga ke lingkungan keluarga para siswa. Dengan demikian, ketahanan pangan nasional akan terbangun kuat dari unit terkecil, yaitu rumah tangga.
Optimisme Kolaborasi Lintas Sektor
Ketua Umum YSPN, Marsekal Madya TNI (Purn) Daryatmo, turut menyampaikan bahwa swasembada pangan tidak bisa diwujudkan oleh satu pihak saja. Diperlukan sinergi yang harmonis antara sektor pendidikan, lingkungan, militer, dan pemberdayaan masyarakat.
Dukungan dari Kodim 0818 Malang-Batu juga menjadi bukti bahwa kedaulatan pangan adalah bagian dari kedaulatan negara. Para personil TNI di wilayah teritorial siap memberikan pendampingan teknis jika diperlukan oleh pihak sekolah dalam mengelola lahan produktif mereka.
Bupati Sanusi pun menutup kunjungannya dengan pesan kuat kepada seluruh stakeholders. Ia meminta agar gerakan di SMPN 1 Wajak ini menjadi pilot project atau percontohan bagi sekolah-sekolah lain di wilayah Malang Selatan dan sekitarnya.
“Mari kita kawal bersama keberlanjutan program ini. Jangan sampai berhenti di acara seremonial saja. Saya ingin melihat dampak nyata yang berkelanjutan bagi masyarakat Kabupaten Malang.”
“Jika sekolah-sekolah kita sudah mandiri pangan, maka kita tidak perlu khawatir lagi dengan ancaman krisis pangan global di masa depan,” pungkasnya menutup sambutan.
Acara kemudian dilanjutkan dengan peninjauan lahan praktek di area sekolah dan dialog bersama para kader Adiwiyata SMPN 1 Wajak. Gerakan ini diharapkan menjadi tonggak baru dalam transformasi pendidikan di Kabupaten Malang yang lebih aplikatif dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat luas. (PKP/Ra Indrata)




